#1 Hanya Mimpi

4.3K 262 13
                                        

Matahari belum tampak dan bulan belum ingin meninggalkan kegelapan. Akan tetapi mata sudah terbuka dan tidak lagi mau tertutup. Aku mengalah, aku lalu bangun dan mencuci muka. Rasa kantuk begitu melekat, aku benarkah harus memaksa diri untuk tidur setelah ini. Aku melangkah keluar meninggalkan kamar mandi.

prang,, prangg,, 

Aku terkejut hebat. Malam yang begitu tenang pecah seketika dengan ledakan pecahan kaca di luar kamar. Bunyi hempasan piring dan benda-benda lain rupanya yang membuat gaduh.

Ku buka pintu kamar dengan perlahan, tak sedikit pun suara yang ku buat. Melangkah perlahan menjauhi pintu. Mengintip dengan baik ke lantai bawah. Dapat di lihat dengan jelas, mama dan papa berada di lantai bawah. Wajah mama begitu merah, tepat di hadapannya papa terlihat sangat kacau sambil memegangi pundak mama dengan keadaan lusuh sekali.

"Aku sudah tidak tahan lagi! Aku akan pergi dengan apapun yang terjadi! Jika kau mau mengurus nya silahkan. Tapi aku akan tetap pergi. Jangan coba halangi aku!" bentak mama sambil menepis tangan papa kasar. Hatiku berdesir, aku terkejut.

"Sayang tenanglah, kau tahu Lucifer itu masih kecil, tidak mungkin kita meninggalkannya sendirian.  Bersabarlah, kau tahu tidak mungkin semesta menitipkan Lucifer tanpa ada alasan. Kau tenang, kita harus bersabar." papa mencoba menarik kembali tangan mama.

"APA KAU TAHU! Aku sangat takut! aku tidak mau anak yang seperti dia!! Dia aneh!! Kau! Kau pergilah, pinta lah pada semesta agar mengambil kembali anak itu!!" teriak mama ku seraya  menangis.

"Aneh!? Dia itu Istimewa. Apa kau tidak merasakannya!?" papa mengusap airmata mama dengan bergetar. Papa sesungguhnya juga tidak terlihat tenang.

"ISTIMEWA!? Kau tidak tahu, (terisak) kau bekerja, aku yang terus menjaganya dirumah! Dia  sering berbicara sendiri, aku sendiri tidak tahu siapa yang ia ajak bicara. Dia juga selalu menggerakkan benda-benda dirumah ini dengan riang tawa nya yang gila. Ia juga Menyala dan mematikan lampu-lampu di rumah dengan tatapan matanya." Teriak mama ku, air matanya juga terus meleleh. Papa diam, wajahnya melihat kosong lantai yang penuh dengan kepingan piring kaca yang pecah.

Aku sendiri masih sibuk bertarung dengan hati yang sakit, otak ku terus berpikir keras menahan sakit melihat mereka bertengkar.

"Dia dengan sengaja menatap mataku dengan senyum gila nya.! Aku melarangnya keluar rumah, bukannya mendengarku ia malah membakar kulit ku dengan sinar yang entah dari mana asalnya. LIHAT, Lihat ini!!!" Mamaku menyingsing kan lengan bajunya yang panjang, dan memperlihatkan kulit tangan yang hitam dan kemerah-merahan.

Papa ikut menangis dan memeluk mama ku.

Mendengar mama, hatiku semakin berdesir. Apa yang mereka katakan membuat ku menyesal. Aku melukai mama dan membuatnya ketakutan.

Dada ku seketika sesak, kepala ku berputar dan tiba-tiba darah keluar dari hidung dan telinga ku.

Brakk,, 

Aku jatuh tak sadar kan diri.

***

"Segala puji, akhirnya kamu siuman."

"Apa yang dia bicarakan? Dia siapa?" Kepala ku berdenyut hebat.

"Perlahan, kamu akan baik-baik saja" kata orang itu lagi.

"Ah,, sakit.. (memegang kepala)". Orang itu malah tersenyum.

"Papa.." lirihku. Orang itu menghela nafas.

"Kau akan jadi anak baik. Maaf, tapi aku turut berduka cita atas kepergian kedua orang tuamu." Orang itu menghela nafas serta menutup senyumnya.

"TIDAK..!!!" Aku berteriak keras sehingga membuat Kepala ku berguncang hebat lagi.

Pikiran ku kacau. Berputar tanpa arah, membawa ku ke peristiwa kemarin. Tubuhku membeku, dan aku terus mengingat-ingat.

Mendadak semua berhenti berputar, berhenti tepat di saat aku sedang becermin kemarin malam. Aku heran, dengan seketika aku menatap wajah ku yang penuh dengan  ketakutan serta kegelisahan di cermin itu. Peluh membasahi keningku, kedua mataku bergetar hebat.

Prang.. 

Cermin di hadapan ku mendadak meledak pecah. Pecahan itu menghantam wajah ku, sontak aku berteriak keras.

"Aaaaaaa,,,,!!!!" Aku tiba-tiba saja terbangun dari tidur untuk kesekian kalinya.

Tubuhku terbangun dengan keadaan setengah duduk di atas kasur. Pakaian yang ku kenakan juga basah dengan keringat dingin. Jantung ku berdebar kencang. Jari-jemari tanganku juga  bergetar.

"Hufff,,,hufff... (Suara nafas)." Aku mengusap dada ku dengan tangan kiri ku.

Aku menoleh ke kanan dan kiri, memastikan dimana lagi aku kali ini. Sebelumnya aku masih di kamar lalu pingsan dan begitu bangun aku sudah berada di rumah sakit tentu saja akan  tetapi, setelah itu aku kembali terbangun dengan berada di dalam  kamar dimana wajahku di hantam ledakan pecahan cerminku sendiri. Apapun itu, aku sudah tidak sanggup untuk menutup membuka mata kembali aku sungguh ketakutan saat ini.

"Kejadian itu,," 

"Aku,, aku yang sekarang..." Aku raba wajah ku, perlahan ku usap dari kening hingga leherku.

"Tidak terjadi apa-apa. Seperti biasa, akh terus mengalami mimpi berganda, tadi itu bahkan kejadian 16 tahun yang lalu, hufft, huuft... " 

"Benar adanya bahwa aku mengintip mereka waktu itu, tapi? Kenapa?'

"Itu sudah lama sekali, kenapa aku kembali memimpikan itu? Tidak, aku tidak bisa menyebutnya mimpi, tapi kembali teringat. Benar, kembali teringat. Mimpi hanya lah sebuah fiksi, namun tadi bukan lah mimpi melainkan ingatan..."

Aku menenangkan diri, lalu menoleh ke arah cermin di dekat kamar mandi dan tentu saja tidak terjadi apa-apa dengan cermin itu.  Aku sedikit tenang, setidaknya aku sudah bangun dari ingatan bodoh itu. Terlihat merah di kepalan tanganku, tidak mudah percaya dengan diriku sendiri tentu aku akan memukul diriku agar memastikan aku benar-benar bangun.

"Terima kasih setidaknya hanya sampai disitu kali ini. Jika tidak, aku lebih baik mati daripada harus mengingat itu semua." Aku mengusap wajah ku, menidurkan tubuhku kembali ke kasur.  Memejam mata berharap bisa kembali tidur.


#PerfectIndigo

 #DintiFahlianti  

Perfect Indigo Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang