Bel pulang sekolah berbunyi.
Seperti biasa, langkahku tidak pernah salah arah.
Tas kuletakkan di kursi pojok. Tempat langgananku di *곰돌이 커피*.
Di balik counter, dia sedang menuang susu ke dalam gelas. Wajahnya datar, dingin, seperti biasa. Celemek hitam melingkar di pinggangnya, dan lengan kemeja putihnya digulung sampai siku.
"Oppa~" sapaku manja sambil duduk.
Tidak ada jawaban. Hanya tatapan sekilas dan secangkir coklat panas yang diletakkan di depanku. Gratis. Seperti biasa.
"Sudah makan?" tanyanya pelan. Suaranya rendah, tapi cukup membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
Aku menggeleng. "Belum. Nanti saja. PR-nya banyak."
Dia mengerutkan kening. Ekspresi yang selalu muncul kalau aku bilang belum makan. "Duduk di sini. Jangan ke mana-mana."
Aku mengangguk. Sudah tujuh tahun seperti ini. Sejak aku umur sepuluh tahun dan dia datang ke rumah sebagai anak angkat Ayah dan Ibu. Awalnya canggung. Lama-lama... aku jadi ketergantungan dengan coklat panas gratis setiap sore.
Dan saat itulah, pintu kafe terbuka dengan suara lonceng yang cukup berisik.
"JENNIE!!!"
Jungkook. Sahabatku sejak SMP. Seragamnya acak-acakan. Tipikal anak nakal tapi paling setia.
Dia langsung duduk di depanku tanpa permisi. "Lapar! Pesankan!"
"Oppa," kataku sambil melambaikan tangan ke counter. "Kook pesan roti bakar dua dan es teh ya!"
Gelas di tangan Oppa berhenti sebentar di atas counter.
"Lima menit," jawabnya singkat.
Tidak lama kemudian roti bakar datang. Tapi begitu Jungkook menyuap pertama... wajahnya langsung meringis.
"ASIN SEKALI INI!" serunya.
Aku menoleh ke counter. Oppa pura-pura sibuk membersihkan mesin kopi. Tapi ujung bibirnya sedikit terangkat.
"Oppa! Ini roti atau garam?" protes Jungkook.
"Mungkin salah takaran," jawab Oppa datar. "Mau diganti?"
Jungkook melirik aku, lalu melirik Oppa. "Tidak usah. Aku sudah biasa makan makanan tikus." Tapi dia mendorong piringnya jauh-jauh.
Aku menahan tawa. "Kasihan. Makanya jangan menggangguku mengerjakan tugas."
"Siapa yang mengganggu?" Jungkook malah menarik kursinya lebih dekat. "Aku menemani. Teman SMP harus setia."
Aku bisa merasakan suasana di kafe jadi berbeda. Tapi aku mengabaikannya. Sudah biasa dengan Jungkook seperti ini dari dulu. Bercanda, saling mengejek, saling menyontek PR.
"Bagaimana ulangannya tadi?" tanya Jungkook sambil mengambil cake-ku.
"Curang!" protesku. "Itu punyaku!"
"Berbagi itu indah, Jen."
BINABASA MO ANG
LOVERS
RomanceKatanya kita saudara. Katanya aku cuma adik angkatmu, Tae. Tapi kenapa setiap aku pulang sekolah, kakiku otomatis belok ke *곰돌이 커피*? Kenapa setiap ada cowok lain deketin aku, tatapanmu jadi sedingin es? Dan kenapa... pas aku hampir jatuh, ta...
