Sore yang basah di Bogor menjadi akhir kehidupan normal Farand, anak berusia 15 tahun yang bentar lagi daftar SMA. Di persimpangan jalan sepulang sekolah, sebuah van tua hitam menyeretnya paksa-membuatnya hilang tanpa jejak.
Di tempat penyekapan, F...
Suara derum mesin van tua itu menggelegar ritmis, menyatu dengan irama hujan deras yang menghantam kaca jendela.
Di dalam kegelapan kabin belakang yang pengap dan berbau bensin menyengat, Farand yang berusia 15 tahun terbaring terlentang. Kedua tangannya terikat erat di belakang punggung, sementara lakban hitam menutup rapat mulutnya, menyisakan napas buru-buru yang naik-turun dari hidungnya yang kedinginan.
Di dadanya yang berdegup kencang, Farand tidak tahu harus berpikir apa. Otak remaja SMP-nya yang jujur hanya dipenuhi bayangan rumah yang mendadak terasa begitu jauh: jam dinding dapur, aroma masakan Mama Piar, tawa Eshal yang sedang memamerkan nilai ujiannya, serta bayangan Papa Natama dan Kak Kiyara.
Aku mau pulang, tolong... bisiknya dalam hati, berulang kali, bagai mantra untuk bertahan hidup.
"Ken, ambil jalur kiri di depan. Jangan lewat gudang sektor dua, penjagaan polisi terlalu ketat," suara berat Pak Ahsan memecah hening dari kursi depan. Terdengar tenang, tertata, dan sarat pengalaman. "Kita pakai tempat biasa."
"Beres, Pak," sahut Kenavi singkat tanpa memalingkan mata dari jalanan pinggiran kota yang sepi dan berlumur lumpur. Tangannya lihai memutar kemudi.
Dari sudut matanya yang mengabur oleh air mata, Farand meraba atmosfer di dalam kabin belakang. Dua pria lain sedang duduk tak jauh darinya.
Pria bertubuh tegap di sebelah kirinya, Ohen, hanya diam sambil mengencangkan ikatan tali di kaki Farand. Gerakannya cepat dan terukur, khas cara kerja orang dewasa yang sudah terbiasa berurusan dengan hal-hal seperti ini. Namun, bayangan sosok keempat yang mendadak mendekat yang membuat bulu kuduk Farand berdiri tegak.
Ghana.
Pria itu menunduk, mendekatkan wajahnya hingga bau asap rokok yang menyengat menerpa kulit Farand. Matanya yang merah menatap Farand bukan sekadar seperti sandera tebusan... tapi seperti musuh tua yang ingin dia hancurkan sampai lumat.
"Anak manis..." bisik Ghana dengan terkekeh pelan yang dingin.
Tangannya yang kasar mencengkeram rahang Farand hingga anak itu meringis kesakitan. "Muka kamu mirip sekali sama bapakmu. Sama-sama bikin muak."
Farand tersedak, matanya membelalak ketakutan.
Siapa mereka ini? Kenapa ada dendam sebegitu besarnya pada Papa yang selama ini Farand kenal sebagai sosok paling baik di rumah?
"Cukup, Ghan" tegur Ohen datar, menepis tangan Ghana dari rahang Farand tanpa perlu meninggikan suara. "Jangan memancing keributan."
"Saya cuma mau lihat mukanya lebih dekat, Hen," balas Ghana santai, tapi matanya tetap menancap tajam pada Farand. "Paling tidak sampai bapaknya sadar posisi dia di mana."
"Diamlah," potong Pak Ahsan dingin dari depan, tanpa perlu menoleh sedikit pun. "Perjalanan kita masih panjang."
Ghana hanya menyeringai tipis, mengusap kepala Farand secara kasar sebelum kembali duduk bersandar.
Van hitam itu terus melaju menembus pekatnya malam, membelah hujan deras dan membawa Farand makin jauh dari rumahnya. Di luar sana, lampu-lampu kota perlahan menghilang, berganti menjadi kegelapan hutan yang pekat. Awal dari neraka panjang yang tak pernah Farand bayangkan sebelumnya.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Heyhoo!! Salken dri author Vorr , Org baru di watty, kenalin jugaa anak pertama vorr yg baru debutt!! Faranddd🐣🥳