BAB 1 : Before the Color Fades (Tiga tahun lalu)

17 1 0
                                        

─── ・ 。゚☆: .☽ . :☆゚. ───



Udara pagi ini terasa begitu sejuk, membawa aroma tanah basah pasca—hujan semalam. Angin sepoi yang berembus lembut menerpa wajah Kanaya, membuat beberapa helai rambutnya berantakan hingga menutupi dahi. Gadis itu memejamkan mata, menyesap dalam-dalam ketenangan alam pagi sebelum sebuah suara bising mendadak memecah keheningan koridor sekolah.

Tin! Tin!

Kedua bahu Kanaya terangkat seketika karena kaget. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat saat kepalanya menoleh, namun rasa terkejut itu langsung menguap begitu saja. Kedua bola matanya menangkap sosok modis yang sangat ia rindukan selama libur panjang kemarin. Lengkungan senyum manis terbit di bibir Kanaya, membuat matanya menyipit membentuk garis sabit yang menggemaskan.

"Ghea?!"

Gadis yang dipanggil itu segera menutup pintu mobil mewahnya, lalu setengah berlari menghampiri Kanaya. Tanpa memedulikan tatapan murid lain, Ghea langsung merangkul gemas bahu Kanaya, mengabaikan fakta kalau tas branded-nya sempat menyenggol seragam sahabatnya itu.

"Gimana libur kemarin? Kemana aja, nih? Parah banget, ya, lo susah banget dihubungi!" tanya Ghea antusias, matanya berbinar menuntut cerita.

Kanaya tertawa kecil, sedikit merapikan letak tas sekolahnya yang sederhana. "Gak ada yang spesial, Ghe. Seperti biasa, gue cuma sibuk menjelajahi pulau kapuk," guraunya.

Gelak tawa keduanya langsung pecah, bersahutan di sepanjang koridor menuju ruang kelas 1 SMK.

"Eh, si Nunu belum datang?" tanya Kanaya sesampainya mereka di ambang pintu kelas. Ia mengedarkan pandangan, mencari satu sosok pelengkap lingkaran kecil mereka.

Ghea hanya mengangkat kedua bahunya acuh, lalu meletakkan tasnya di atas meja. "Iya, ih. Enggak biasanya anak itu datang lebih lama dari kita. Biasanya kan dia yang paling rajin jemput kita di depan," sambungnya sambil mengerucutkan bibir.

Jam pelajaran pertama akan dimulai kurang dari sepuluh menit lagi, tetapi batang hidung sahabat mereka itu tak kunjung terlihat. Beberapa kali Kanaya dan Ghea saling lempar tatap, menyuarakan tanda tanya yang sama lewat keheningan yang mulai terasa cemas.

Ke khawatiran mereka memuncak saat langkah tegap guru mata pelajaran pertama terdengar memasuki ruang kelas. Namun, baru saja beliau membuka mulut untuk menyuruh para murid membuka buku paket, ucapan itu terpotong seketika. Di ambang pintu, berdirilah seorang gadis dengan rambut yang sedikit berantakan dan napas yang terengah-engah.

"Maaf, Bu, saya terlambat. Tadi... mobil Papa mendadak mogok di jalan," ucap gadis itu terbata-bata, berusaha meredakan pacuan jantungnya yang memburu.

Guru wanita di depan kelas hanya menghela napas maklum lalu mengulas senyum tipis-tahu betul siapa keluarga di balik nama besar siswi tersebut. Beliau mengangguk pelan, menyuruh Nunu segera masuk dan bergabung dalam pembelajaran sebelum pelajaran resmi dimulai.

Dengan langkah setengah berlari, Nunu bergegas menuju bangkunya di barisan belakang. Begitu mendaratkan tubuhnya di kursi, ia langsung disambut oleh tatapan Kanaya dan Ghea yang kompak menampilkan mimik penuh interogasi.

​୨୧ ┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈ ୨୧

Kantin selalu menjadi tempat favorit mereka bertiga-Kanaya, Nunu, dan Ghea. Seperti biasa, ketiga cewek itu memesan menu makanan yang sama, hanya minuman mereka saja yang berbeda. Kanaya dengan jus melon favoritnya, Nunu dengan jus stroberi, dan Ghea dengan iced lemon tea kesukaannya.

"Tau gak? Gue sama Ghea tadi tuh udah panik banget, kirain lu gak bakal masuk. Kan gak biasanya lo jam segitu belum datang," ucap Kanaya memulai obrolan di sela-sela kunyahan mereka.

BEHIND THE SKETCHStories to obsess over. Discover now