Prolog

39 8 3
                                        

Kadang, hal yang paling menakutkan bukan kehilangan seseorang, tapi kehilangan dirimu sendiri saat mencoba mempertahankannya. 

****

Hujan sore itu turun pelan membasahi bangunan SMA.
Jendela kelas masih terbuka setengah, dan Chloe duduk di bangku paling belakang, memperhatikan titik-titik air di kaca yang menetes berurutan seperti nada musik yang suram.

"Kenapa kamu kemarin gak balas chat aku?" tanya Chloe suaranya pelan, tapi ada getaran yang tidak bisa ia sembunyikan.

Raka, cowok dengan seragam sedikit kusut dan tatapan tenang tapi tajam, bahkan tidak menoleh kearahnya. Tangannya sibuk main game di ponsel. "Sibuk," katanya singkat.

"Begitu ya, tapi kenapa kamu kemarin ngilang dan gak ada kabar sama sekali?"

"Chloe, aku bukan ngilang, cuma lagi sibuk banget. Aku gak bisa setiap saat harus ngabarin kamu terus. Kamu tuh selalu ngatur-ngatur, ya?"

"Aku bukannya ngatur. Aku... aku cuma... kamu akhir-akhir ini susah dihubungin dan sering ngilang, terus aku liat kamu lagi jalan sama cewek lain..."
"Cewek lain? Ya tuhan! Chloe... itu temen aku." Raka tertawa kecil, tapi bukan tawa yang menenangkan. "Kamu tuh parah banget, semua hal kecil selalu kamu besar-besarin."

Chloe terdiam.
Hujan makin deras, tapi yang justru yang lebih menyakitkan adalah jawaban Raka, yang seolah-olah mengatakan bahwa semua yang dia rasakan dan khawatirkan itu tidak penting baginya.

"Aku cuma... ingin kamu jujur," katanya pelan.
"Jujur? Jujur apa?" Raka mendengus. "Aku selalu jujur. Tapi kamu gak pernah percaya sama aku. Kamu terus nyalahin aku atas hal yang gak kulakuin."
Dia berdiri, menatap Chloe dengan pandangan tajam yang dingin. "Kamu sadar gak, Chloe, kamu tuh bikin aku capek? Kamu tuh selalu berlebihan. Aku harus selalu kabarin kamu inilah, itulah. Kamu tuh terlalu lebay tau gak? Bisa gak sih kamu kayak cewek lain? Gak lebay gitu."

Kalimat itu menampar lebih keras dari hujan yang turun.
Chloe menunduk. Tangannya gemetar sedikit.

"Maaf," bisiknya lirih.
Selalu begitu. 'Maaf'. Selalu Chloe yang minta maaf, bahkan meski bukan Chloe yang salah.

Raka mendekat, menarik napas berat. "Aku gak bermaksud marah."
Nada suaranya berubah, jadi lebih lembut. "Aku cuma pingin kamu ngerti posisi aku juga. Aku sibuk, aku butuh ruang. Tapi kamu terus nuntut perhatian. Kamu selalu nempel terus."
Dia menyentuh bahu Chloe pelan, seolah semua barusan tidak pernah terjadi.
"Aku capek Chloe. Aku minta maaf. Aku sayang kok sama kamu."

Dan hanya dengan kalimat itu, membuat semua luka seolah larut dan cukup untuk selalu memaafkan apa yang dilakukan olehnya.
Chloe mengangguk pelan, matanya mulai basah tapi ia tersenyum kecil.
"Maafin aku juga, aku... aku terlalu berlebihan, ya?"
Raka tersenyum samar. "Nah, gitu dong. Akhirnya kamu ngerti juga"

Hujan berhenti. Tapi di dada Chloe, ada sesuatu yang tetap dingin rasa aneh yang belum punya nama waktu itu. Dia tidak tahu kenapa, tapi setiap kali mereka bertengkar dan baikan, ada bagian dari dirinya yang terasa makin hilang. Makin tipis. Makin kosong. Makin tidak mengenal. Chloe kehilangan dirinya sendiri.

Chloe selalu berusaha ngerti, berusaha sabar, berusaha tidak membuat Raka marah. Tapi lama-lama,  semakin ia mempertahankannya, semua usaha itu terasa seperti memeluk serpihan kaca yang tajam, menyakitkan, tapi tidak bisa dia lepaskan.

"Aku bercanda waktu bilang kamu berlebihan."

"Kamu tuh terlalu sensitif. Bisa gak gausah berlebihan gitu?"

"Aku kan masih di sini, kenapa sih kamu selalu ngerasa aku ninggalin?" 

"Aku bukan tipe orang yang harus terus ada buat pasangan, ngerti kan?"
"Kamu kan tahu aku gak bisa terus nempel kayak cowok lain, itu bukan aku."
"Kamu tuh terlalu manja, Chloe. Aku capek tau gak?"

Kalimat-kalimat itu masih sering bergema bahkan setelah Chloe berpisah dari Raka.
Dan setiap kali Chloe mengingatnya, rasa bersalah selalu datang lebih dulu dari pada rasa sakit di hatinya, padahal memang bukan dia yang salah. 

Chloe selalu bertahan dan mepertahankan hubungan itu, karena waktu itu, Chloe pikir cinta artinya memahami tanpa batas. Padahal seorang avoidant seperti Raka tidak harus terus dipahami. Karena memahami tanpa batas itu bisa berubah menjadi menoleransi perlakuan yang menyakiti. Chloe tidak tahu bahwa kadang cinta juga harus tahu kapan berhenti percaya dan harus melepaskan. Bukan karena cintanya yang kurang dalam, tapi karena jika ia sudah terlalu hancur di dalamnya. Cinta yang membuatmu  kehilangan jati diri demi mempertahankannya. Cinta itu jadi alat untuk menahanmu, bukan menyembuhkanmu.

****

Hai hai~ Author di sini ! >ᴗ<

Gimana perasaan kalian setelah baca prolognya? Ada yang relate sama Chloe? 😭 Hehehe. Cerita kedepannya bakalan seru, setelah beberapa chapter \(⁠≧⁠▽⁠≦⁠)/

Selamat membaca~ 

I hope you enjoy it ! >ᴗ<



A Season Between Us (On going)Stories to obsess over. Discover now