Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat bagi Mahisa Amantasari dan Ken Adrian. Dari luar, hubungan mereka tampak sempurna-bak kisah fiksi remaja yang dipuja di lorong-lorong SMA Dharmawangsa. Mahisa, siswi berprestasi yang cantik laksana dewi, berjal...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Jangan mati—apapun yang terjadi, jangan." Biarawati itu berseru, suaranya memecah sunyi gereja ketika ia melihat gadis itu, pisau kecil berkilau di genggaman, napasnya guncang di tepi jurang. Kata-kata itu terucap polos namun menandai segenap kegelisahan yang menyelimuti ruang.
"Aku mendengar semua doamu," katanya selanjutnya, suaranya serak, mengangkat semua pengakuan batin yang barusan sempat mengalir dari bibir yang terkatup. "Aku mendengar tiap kata yang kau tujukan pada langit sebelum kau menyelinapkan benda itu ke tanganmu. Dengarkan—tolonglah jangan ambil jalan itu."
Nada biarawati jatuh seperti petir yang menyambar, menenggelamkan alasan-alasan kelam dengan realitas yang lebih besar: "Kau mungkin tak mampu memaksa satu hati untuk kembali padamu, namun bunuh diri bukanlah jawaban. Jika kau pergi, luka yang kau tinggalkan akan melukai lebih dari satu jiwa. Keluargamu akan kehilangan rumah yang memberi tawa; sahabat-sahabatmu akan menanggung sepi yang tak berujung; bahkan Tuhan pun akan merindukan bait doa yang hanya kau bisa panjatkan. Janganlah kurangi keberadaanmu menjadi satu tragedi."
Air mata Mahisa mengalir tak henti; ia tak lagi punya kata. Biarawati itu mendekat, jari-jarinya menggenggam tangan yang gemetar. "Walau dia telah melukai sampai ke tulang, tahanlah. Bertahanlah untuk Tuhan—yang merangkulmu dalam keheningan, yang tak akan pernah menutup pintu padamu, bahkan ketika kau merasa hanyalah debu yang mudah ditiup angin."
***
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Sebelum melanjutkan kisah ini, izinkan aku sebagai penulis memperkenalkan mereka—sosok-sosok yang menjadi nadi dari kisah ini. Mereka yang menaburkan kasih, menyalakan amarah, menyulam canda tawa, dan menorehkan cinta, hingga alur cerita ini berdenyut hidup.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.