Bab 1

21 2 0
                                        

Adriana Aishnova, gadis cantik berusia 17 tahun, berambut coklat panjang bergelombang, bermata coklat terang dan berkulit putih cerah.
Adriana di kenal sebagai gadis pendiam, sering dianggap cupu dan kutu buku karena penampilannya, baju yang longgar dan kacamata besar yang wajib ia pakai kemanapun, terhitung sejak awal Adriana masuk SMA.
Ana memiliki tinggi badan 165 cm, tubuhnya juga sedikit berisi, dan Kini ia duduk di bangku kelas 2 SMA. Ia merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara dan anak gadis satu-satunya dari pasangan suami istri yaitu tuan Adrian dan nyonya Ovelia.
Seluruh keluarga besarnya termasuk kakak-kakak dan ayah ibunya menetap di Paris. Adriana hanya tinggal sendiri di salah satu Apartemen yang ada di Jakarta. Apartemen itu di belikan oleh orangtuanya agar ana lebih nyaman selama menempuh pendidikan di Indonesia, dan juga itu permintaan khusus dari Adriana sendiri.
----------------------------------------------------------------
Drett... Drett... Drett...
Alarm berbunyi nyaring
Seorang gadis yang tidur dengan nyaman seketika menggeliat karena suara alarm. Ya, dia adalah Adriana atau biasa dipanggil ana. Jam masih menunjukkan pukul lima pagi. Memang sengaja ia setel lebih awal agar tidak ada drama terlambat dan membuatnya jadi pusat perhatian.
Dengan mata setengah terbuka Ana melirik jam, lalu segera bangkit dan merapikan tempat tidurnya dengan setengah mengantung. Ia selalu merapikan tempat tidurnya terlebih dahulu sebelum pergi mandi dan sudah menjadi kebiasaannya sejak lama. Meninggalkan kasur dalam keadaan berantakan rasanya seperti “Bawa Sial” seharian.
Hari ini, hari pertama Ana masuk sekolah sebagai murid kelas 2 SMA setelah libur panjang kenaikan kelas.
Selesai mandi, Ana bersiap-siap dan selesai mengenakan seragam putih abu-abunya, lalu bergegas kedapur menyiapkan sarapan sederhana, susu putih dan roti cream vanila. Kesibukan yang selalu berulang-ulang setiap harinya.
“Done” gumamnya setelah suapan terakhir menghilang dari piring. Ia melirik jam dinding dan sedikit terperanjat, sudah pukul 6.30!. Tanpa buang waktu, Ana meraih tasnya dan berjalan cepat menuju pintu apartemen.
Namun langkahnya mendadak terhenti, seolah ada yang mengganjal di kepalanya.
“Astaga, iya!”, Ana buru-buru berlari menuju kamarnya dan meraih benda keramat yang tidak boleh sama sekali terlewat, kacamata besarnya.
“Huh, hampir aja lupa”, ucapnya lega. Ia langsung memakai kacamatanya.
Tak mau membuang waktu lagi, Ana keluar Apartemen dan turun menuju parkiran Apartemennya. Ia menghidupkan motor kesayangannya, sebuah Vespa putih gading hadiah ulang tahunnya yang ke-17 tahun dari ayahnya. Vespa itu selalu tampak mencolok diantara motor-motor modern, dan Ana cukup bangga karenanya.
Perjalanan sekolah pagi itu terasa menyenangkan untuk Ana. Udara segar, jalanan belum terlalu padat diselingi suara khas Vespa kesayangannya, cukup untuk menjaga moodnya pagi itu.
Tibalah Adriana di sebuah gedung bertuliskan SMA ARKANANTA. Sekolah Swasta bergengsi yang terkenal dengan prestasi akademik dan kegiatan ekstrakurikuler yang lengkap. Gedung megah bercat putih bersih dengan jendela-jendela besar yang memantulkan sinar matahari pagi, membuat suasana sekitarnya terasa hidup dan bersemangat.
Ana langsung menuju parkiran dan memarkirkan Vespanya dengan hati-hati di sudut favoritnya. Disekelilingnya, sudah dipenuhi siswa-siswi lain yang sibuk melepas rindu. Belum sempat ia melepas helm, terdengar suara teriakan memanggil namanya.
“Anaaa!” Ana menoleh cepat. Tidak sulit bagi Ana menebak pemilik suara itu, dan benar saja, Moza sudah melambaikan tangannya sambil berlari kecil menghampiri. Ramoza Sandijaya adalah sahabatnya sejak awal mereka bersekolah disana. Dari puluhan murid yang memadati halaman sekolah pagi itu, hanya Moza yang langsung menyadari kehadiran seorang Adriana. Moza memang selalu punya radar khusus untuknya.
Ramoza Sandijaya adalah sahabatnya sejak awal mereka sekolah disana. Dari puluhan murid yang memadati halaman sekolah pagi itu hanya Moza yang langsung menyadari kehadiran seorang Adriana. Moza memang selalu punya radar Khusus Untuknya.
Saat Moza sampai di hadapan Ana, ia langsung tersenyum lebar.
“Ihh, kangen deh!” seru Moza sambil menggoyang-goyangkan tangan Ana.
Ana menatapnya dengan ekspresi campur aduk antara geli dan lucu. “Ya ampun, Moza… baru juga dua minggu nggak ketemu,” balas Ana sambil menahan tawa.
Moza tertawa, matanya berbinar penuh semangat. “Ih, beneran kangen, tau! Lo kan kemarin ke Paris, jadi nggak bisa main pas libur!” ujarnya sambil menggandeng tangan Ana. Mereka pun berjalan beriringan menuju mading untuk melihat pembagian kelas. Ana memang memberitahu Moza tentang keluarganya dan perihal ia yang tinggal sendirian di Indonesia.
Sepanjang jalan, Moza terus mengoceh dan tertawa, membuat Ana tanpa sadar juga ikut tertawa. Gelak tawa mereka terdengar jelas, sampai beberapa siswa di sekitar menoleh menatap mereka. Ana Cuma bisa menghela napas sambil menahan tawa.
Sesampainya di area mading, Ana hampir tak bisa melihat papan karena dipenuhi siswa-siswi yang berdesakan.
Tak lama kemudian, lonceng pun berbunyi, menandakan jam masuk kelas. Suasana mulai sepi, dan baru saat itu Ana dan Moza bisa melihat sisi mading dengan jelas.
Ana meneliti daftar kelasnya dan tersenyum lega saat mengetahui dia berada di IPA 1. Yang membuatnya lebih senang, Moza ternyata juga berada di kelas yang sama. Karena hari ini adalah hari senin, semua murid menuju lapangan untuk melaksanakan upacara bendera.
Setelah upacara berakhir, mereka pun berjalan bersama menuju kelas dan memilih duduk bersebelahan, tepat di sisi jendela bagian depan. Sinar matahari pagi menembus kaca, menerangi meja mereka, seolah memberi sambutan hangat untuk hari pertama di kelas baru.
Suasana di kelas mulai ricuh. Para siswa masih bercanda, saling berbisik, dan ada yang melempar bolpoin karena belum ada kegiatan belajar, ini baru hari pertama masuk sekolah.
Saat jam istirahat tiba, Ana menatap Moza dengan senyum nakal. “Za, kantin yuk. Laper,” ajaknya.
Moza mengangguk semangat. “Ayok! Aku juga laper. Siapa tahu ada menu baru, kan?”
Mereka pun berjalan keluar kelas, melewati lorong yang ramai dengan siswa lain yang juga berbondong-bondong menuju kantin. Begitu sampai, aroma makanan yang menggoda langsung menyambut mereka.
“Duh, enak semua lagi” keluh Ana sambil menatap deretan makanan. Moza tertawa. “Dasar. Aku pesen nasi goreng aja deh. Lo mau apa?”
Ana menunjuk sepiring ayam penyet. “Ini aja deh. Sambelnya kayak enak banget gitu.”
Mereka duduk bersebelahan di bangku panjang kantin, sambil tertawa-tawa dan bercakap-cakap ringan, menikmati makan siang mereka.
Saat Ana sedang sibuk menyental sambal ayam penyetnya yang pedas, tiba-tiba kantin mendadak ricuh oleh teriakan-teriakan siswa. Suara kursi bergeser dan bisik-bisik mulai terdengar di segala penjuru.
“Astaga, ada Brexaga, guys!” teriak seorang gadis dengan wajah sumringah.
“Ganteng banget pacar aku!” sahut temannya dengan nada bercanda.
“Mimpi banget, lu!” celetuk gadis lain sambil tertawa.
“Duh, Rayden makin ganteng aja!” tambah seorang siswi sambil melambaikan tangan. Dan masih banyak celetukan-celetukan dari murid-murid lain yang ada disana.
Ana menoleh ke Moza dengan alis terangkat. “Brexaga apaan lagi?” bisiknya sambil menahan tawa.
Moza langsung melotot tak percaya. “Ya ampun, Na… masa lo nggak tau? Itu Most Wanted di sekolah kita. Mereka udah terkenal banget, dan sumpah... semua anggotanya tuh cakep-cakep. Apalagi anggota intinya, gantengnya kebangetan!” jelas Moza heboh.
Ana pura-pura mengangkat bahu. “Terus kenapa harus heboh banget?”
Moza mendengkus kesal. “Ini nih akibat pacaran mulu sama buku, playdatenya ke perpus. Setahun sekolah di sini masih aja nggak tau siapa Brexaga!”
Dia menggeleng tak habis pikir melihat Ana yang selalu cuek. Cowok-cowok ganteng di sekolah aja nggak dikenal, apalagi urusan pacaran, pasti jauh banget, batinnya.
Moza kembali memandang Ana dengan tatapan penuh selidik. “Lo seriusan nggak tau Brexaga?”
Ana hanya menggeleng polos. Jawaban itu membuat Moza semakin heboh. “Ya ampun, lo ke sekolah ngapain aja sih sampai Brexaga aja nggak tau?” serunya setengah berteriak.
Bersamaan dengan itu, suara kantin juga semakin ramai. Beberapa siswa cowok berseragam rapi berjalan masuk dengan penuh percaya diri, dan membuat semua mata tertuju pada mereka. Gadis-gadis di sekitar langsung berbisik-bisik, ada yang sengaja membetulkan rambutnya, ada juga yang pura-pura sibuk dengan ponsel padahal melirik diam-diam.
Ana hanya menahan tawa kecil melihat tingkah heboh seisi kantin, sementara Moza sudah sibuk merapikan kerah seragamnya sendiri, seolah ingin ikut tampil menarik.
Moza lalu melirik Ana dengan wajah serius. “Oke. Gue jelasin satu-satu ya, dengerin baik-baik,” ujarnya sambil mencondongkan badan ke meja, tatapannya penuh tekad seolah ini misi penting.
Ana spontan mengangkat tangan hormat sambil menahan senyum. “Siap, Miss Date!” godanya sengengah bercanda.
Moza Langsung Mengernyit, mengangkat sebelah alisnya tinggi. “Miss date, apaan?” tanyanya bingung.
“Miss Update,” jawab Ana sambil tertawa kecil.
Moza mendengus kecil, lalu mengalihkan pandangannya ke arah rombongan cowok yang baru saja masuk kantin. Satu per satu, matanya menunjuk dengan gerakan halus, seolah sedang memberi briefing rahasia.
“Yang paling depan itu, yang lagi tebar pesona, namanya Nyki Ardananta,” kata Moza sambil mengarahkan dagunya pelan ke salah satu anggota inti Brexaga.
“Dia tuh hobi banget godain cewek-cewek. Ya… walaupun emang ganteng sih,” lanjutnya dengan nada setengah kagum, setengah gemas.
“Kalau yang di samping Nyki itu namanya Arion Arkana. Nah, dia agak pendiam dibanding yang lain. Tapi walaupun pakai kacamata, tetep aja ganteng, kan?” jelas Moza, matanya berbinar penuh semangat saat menatap para anggota Brexaga.
Ana yang sedari tadi Cuma melongo akhirnya ikut melirik ke arah mereka. “Ohh… itu gue pernah lihat. Cuma beberapa kali sih, di perpus,” katanya sambil mencoba mengingat-ingat.
“Nah iya, katanya Rion emang suka nongkrong di perpus,” sambung Moza cepat, seperti baru menemukan alasan untuk membenarkan tatapannya yang terpaku.
“Lihat yang badannya paling gede itu? Nah, namanya Agra Wisesa,” ujar Moza sambil menunjuk pelan.
“Dia dijuluki Titannya Brexaga karena badannya sama ototnya itu… duh, bikin meleleh,” lanjut Moza dengan nada memuja.
“Dia juga ketua ekskul karate di sekolah kita,” tambahnya dengan bangga.
Ana hanya mengangguk kecil, memperhatikan dengan seksama penjelasan Moza tanpa banyak komentar.
“Nah, kalau yang rambutnya biru itu namanya Divano Lenggana,” jelas Moza sambil menunjuk halus.
“Dia tuh anaknya lucu, paling ramah di antara yang lain… kayak lebih gampang diajak ngobrol gitu, lebih reachable,” lanjutnya dengan senyum kagum. Ana hanya mengangguk pelan, tetap fokus mendengarkan.
“Kalau yang pakai jaket hitam itu Kaelan, Kaelan Arkananta. Dia wakil ketua Brexaga… dingin banget, sumpah,” kata Moza, bahkan sampai merinding sendiri membayangkannya.
Ana melirik ke arah cowok berjaket hitam itu. “Oh, itu anak yang punya sekolah, kan?” tanyanya.
“Nah, bener banget!” respon Moza sedikit heboh. “Dia tuh pinter banget, dan sekaligus ketua OSIS kita,” lanjutnya penuh semangat.
“Iya, kalo itu gue tau sih,” jawab Ana santai.
Moza mendengus puas sambil menepuk punggung Ana. “Bagus. Bagus. Setidaknya lo nggak kudet-kudet amatlah, ya.” Ana hanya membalas dengan tatapan jengah, seolah berkata, lebay banget sih lo, Moza.
“Terakhir,” kata Moza dengan mata berbinar. “Itu Raiden. Raiden Alveghan. Ketua Brexaga. Duh, ganteng banget, Na! Ya walaupun semua inti Brexaga ganteng, tapi… gue nggak kuat liat punggungnya itu loh… lebar banget!” Moza sampai memegangi pipinya sendiri, seperti fans girl melihat idolanya.
Ana otomatis mengikuti arah pandang Moza. Wajahnya datar, tapi matanya sempat menelusuri sosok cowok berwajah dingin itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Hmm… sayang banget,” gumam Ana pelan.
Moza melirik penasaran. “Sayang kenapa?”
“Ya… ganteng gitu, tapi lo bilang nggak suka cewek. Beneran emang?” tanya Ana dengan nada heran.
“Rumornya sih gitu,” jawab Moza sambil mengangkat bahu, masih terpaku menatap Raiden.
Ana hendak mengalihkan pandangan, tapi mendadak Raiden menoleh, tatapannya lurus mengarah padanya. Refleks Ana tersedak minumannya sendiri dan langsung terbatuk. Duh, berasa ketahuan ngintip aja, pikir Ana sambil buru-buru menunduk, pura-pura sibuk dengan makanannya.
Moza malah cekikikan. “Keciduk liatin ketua Brexaga ya lo!”
“Apaan sih…” sahut Ana cepat, berusaha menutupi wajahnya yang mendadak hangat. Merekapun melanjutkan aktivitas makan mereka.
“Kelas, yuk,” ajak Ana sambil bersiap berdiri dan meraih Handphonenya.
“Yaudah, ayok,” sahut Moza cepat. Mereka pun berjalan meninggalkan kantin, melewati lorong yang kini mulai lengang karena sebagian besar siswa sudah kembali ke kelas.
Saat mereka berbelok menuju tangga, suara langkah beberapa orang terdengar di belakang. Ana sempat menoleh sekilas dan mendapati Raiden bersama anggota Brexaga berjalan santai ke arah yang sama. Tatapan mata Raiden sekilas bertemu dengan milik Ana, dingin tapi terasa mengintai. Ana buru-buru mengalihkan pandangan, pura-pura sibuk merapikan dasinya.
“Na, sumpah… kayaknya dia ngeliatin lo deh,” bisik Moza setengah histeris.
“Ngaco’. Ngapain juga dia liatin gue,” balas Ana santai, meski jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Begitu sampai di kelas, suasana masih gaduh. Beberapa siswa baru saling berkenalan, sebagian lagi sibuk berebut tempat duduk. Ana dan Moza berhasil kembali ke posisi mereka di dekat jendela, namun Ana merasa ada tatapan-tatapan aneh yang mengarah padanya, entah karena barusan “insiden mata” dengan Raiden atau alasan lain.
Moza sibuk dengan Handphonenya dan Ana sibuk membaca buku hingga jam sekolah usai. Lonceng jam terakhir berbunyi, membuat siswa-siswi berhamburan keluar kelas untuk pulang ke rumah masing-masing.
Ana merapikan bukunya, lalu menoleh pada Moza. “Za, gue ke toilet dulu ya. Lo duluan aja, nggak apa-apa,” ucapnya sambil bersiap berdiri. Moza memang selalu dijemput, dan karena arah rumah mereka berbeda, mereka jarang bisa pulang bersama.
“Oke, gue duluan ya. lo hati-hati bawa motornya,” pamit Moza sambil melambaikan tangan. Mereka berpisah saat sudah berada didepan kelas, Moza berjalan menuju parkiran sedangkan Ana berjalan santai menuju toilet.
Setelah buang air kecil, ia mencuci tangan, membasuh wajahnya sekilas, lalu keluar sambil menghela napas lega. Setelahnya, ia menuju ke parkiran tempat Vespanya terparkir.
Namun di perjalanan menuju parkiran, langkah Ana mendadak terhenti. Tiga cowok berdiri menghadangnya, menghalangi jalannya. Ana spontan berhenti dan sedikit terkejut. Wajah mereka terasa tidak asing.
“Ada apa ya?” tanya Ana hati-hati, berusaha terdengar tenang.
Salah satu dari mereka melangkah maju, menatap dingin. “Ikut kita,” ucapnya datar.
Ana mengerutkan kening. “Nggak, gue mau pulang,” tolaknya tegas sambil mencoba melangkah pergi. Tapi belum sempat menjauh, salah satu dari mereka menahan tangannya.
“Apaan sih?! Lepasin, nggak!” Ana panik dan mulai meronta, tapi genggaman mereka terlalu kuat. Dengan paksa, ia dituntun berjalan mengikuti tiga cowok itu, langkahnya terseret tanpa bisa melawan.
“Diam. Jalan.” Perintahnya tegas, dan membuat Ana refleks menelan ludah.

Bersambung...

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 01, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Tiba-Tiba KamuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang