Prolog

56 1 0
                                        

Suara hujan yang deras mengguyur kota Jakarta malam ini, menyamarkan suara jeritan yang menggema di rumah kecil itu. Qiandra terjatuh di lantai yang dingin dan menahan rasa sakit disekujur badan, tubuhnya bergetar hebat. Napasnya tersengal, matanya menahan tangis,  tetapi dia tau tidak ada gunanya dia menangis didepan sang ibu.

PLAK!

Tamparan mendarat di pipi Qiandra, merasakan panas yang menjalar di pipi. Renata Anantya, ibunya. Renata berdiri didepan anaknya dengan sorot mata merah penuh amarah.

"Kenapa aku selalu salah dimata mama?" batin Qiandra berteriak, tapi mulutnya tetap membisu.

"Mama udah bilang berapa kali sama kamu, hah?!"suara Renata menggema di antara suara hujan. "Jangan pulang telat. Ngapain aja kamu diluar sana, mau bikin mama malu kamu?!"

PLAK!!

Renata kembali melayangkan tamparan keras untuk Qiandra. Sudut bibirnya mengeluarkan darah, matanya terasa panas menahan tangis yang sebentar lagi keluar. Dia tau  membela diri hanya akan membuat ibunya semakin marah.

Semoga semua cepat berakhir. Entah itu sakit atau dirinya.

****

"Ya tuhan, aku capek, apa aku gak berhak bahagia?"

****

Terimakasih sudah membaca jangan lupa vote komen dan followww ✨

stay tune next chapter 🍓👋

The Secret Behind Love (Hiatus)Stories to obsess over. Discover now