58 || What the?

71 8 1
                                        

"Selamat pagi dunia."

Sapaan hangat terdengar dan mampu menggema didalam ruangan. Insan yang berkata ia perlahan bangun karena sinar matahari yang mulai hangat menembus tubuhnya. Bora.

Setelah selesai sedikit peregangan tubuh, Bora mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, sampai pandangannya terhenti di ranjang milik Hyejin. "Hyejin...Kau belum bangun?" ucapnya sembari berjalan menghampiri.

Namun pada saat Bora mendekat, ia heran kenapa Hyejin menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut, bahkan wajahnya. Merasa janggal, perlahan Bora menarik selimut disana, yang ternyata tidak ada siapapun selain sebuah guling dan bantal.

Sempat panik karena orang yang dicarinya tidak ada ditempat. Tapi Bora menepis pikiran anehnya, karena setelah melihat bahwa Charles dan Kenza juga tidak ada disana, ia beranggapan bahwa Hyejin pasti diajak keluar oleh kedua saudara itu.

∞•Ω•∞

"Apa maksudmu? Sekarang kau membela bahwa dirimu tidak bersalah?!" tanyanya penuh penekanan.

"Aku bisa bersumpah bahwa aku tidak bersalah...Hyejin..."

"Cukup! Aku sudah lelah."

"Hyejin...Tolong jaga kesehatanmu lebih baik lagi. Dan untuk sekarang...Jika sesuatu terjadi padaku, maka itu ulah si secangkir teh."

Hyejin mengerutkan kedua alisnya, ia bingung apa yang sebenarnya dimaksud oleh orang dihadapannya, Nattan. "Apa maksudmu? Kau ingin mempermainkanku lagi?"

Nattan menggeleng kecil, "Aku pergi." ucapnya dengan tubuh berbalik, berjalan pergi menjauh.

Hyejin terdiam, memandangi punggung Nattan yang semakin menjauh. Sempat ada niat untuk mengejar, tapi ia menarik niat tersebut. Ketika kembali teringat dengan apa yang dikatakan oleh Yuna.

"Ternyata kau disini, Hyejin."

Mendengar sebuah perkataan terlempar untuknya, Hyejin menoleh ke sumber suara. "Ouh, Kenza."

"Seharusnya kau memberitahu dulu jika mau keluar, membuatku khawatir saja." ucap Kenza sembari berjalan menghampiri.

"Maafkan aku, aku hanya mencari udara segar."

"Baiklah, ayo kembali...Tubuhmu masih perlu beristirahat."

Hyejin mengangguk, perlahan ia berjalan kembali sembari dituntun oleh Kenza disampingnya.

••=••

Berpindah kebagian lain Rumah sakit, yaitu bagian administrasi. Terlihat Jeremy yang tengah berbincang-bincang kecil dengan perawat, sembari berniat untuk membayar biaya pengobatan Hyejin.

Namun ia dibuat heran, karena perawat bilang bahwa biaya pengobatan atas nama Hyejin telah dibayar total. Jeremy bingung, "Apa Hyejin yang membayarnya?"

Jeremy kemudian bertanya kepada perawat tersebut, siapa yang telah membayar biaya pengobatan Hyejin. Perawat itu terlihat mengecek beberapa berkas dilacinya, "Pembayaran dilakukan atas Nama Nattan, Pak." ucapnya.

Jeremy terkejut dengan kedua alisnya mengkerut, "Nattan?"

Perawat tersenyum mengangguk, pertanda bahwa itu benar adanya.

"Baiklah kalau begitu, saya permisi." Jeremy berbalik pergi, sembari terus memikirkan siapa yang dimaksudkan tadi, karena baginya, nama itu terasa tak asing baginya.

••=••

Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa kini hari terakhir Hyejin berada dirumah sakit. Setelah 3 hari lamanya berada disana, dokter menyatakan bahwa Hyejin bisa kembali pulang.

REVENGE BLOOD Where stories live. Discover now