1. Love to Fight Against Fate

38.8K 863 51
                                        

***

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


***

"Love shouldn't be a battle against fate, but I'll fight if I must. I won't let fate dictate who I love or who I marry—my story is mine to write, and my heart is mine to follow."


☀️🌙

Blitz kamera terus menyala-nyala, memenuhi seluruh studio itu dengan kilatan cahaya terang. Di tengah hingar-bingar musik RnB yang menggelegar, Marion berdiri dengan percaya diri. Dress berpotongan pendek yang membalut tubuhnya, meliuk sempurna mengikuti lekukannya, membuat setiap pose-posenya terlihat anggun namun juga menggoda. Kaki jenjangnya, yang terpapar terang di bawah lampu studio, menambah aura seksi tanpa dia harus berusaha lebih.

"Beautiful... Beautiful!" seru sang fotografer begitu antusias, ditambah sorak sorai kecil dari kru yang ikut menyaksikan di belakangnya.

Marion tidak butuh kata-kata pujian itu, tapi tetap saja senyum tipis terukir di bibir berlapis lipstik merah menyala dari brand ternama. Tatapan tajamnya tertuju langsung ke kamera, bibir sedikit terbuka, memberikan kesan sensual yang kuat. Dia tau betul bagaimana cara membuat lensa mencintainya. Satu kata: sempurna.

"One more time, Marion!" seru fotografer lagi, sembari mengubah posisi kamera untuk fokus pada close-up portrait.

Marion hanya mengangguk tipis, mengangkat tangan ke atas, memutar tubuhnya sedikit, memperlihatkan punggung terbukanya karena model dress yang membalutnya—indah dengan tato bunga mawar kecil di sana. Semua mata di studio tak lepas dari dirinya, dia pusat dari segala perhatian. Sungguh. She is truly an art who can turn the mundane into something captivating.

"Nice, girl. Nice." Kali ini fotografer itu tampak benar-benar puas. Satu klik terakhir terdengar berbarengan dengan kilatan blitz, lalu hening sejenak sebelum akhirnya sorak-sorai kecil dari kru studio menggema lagi.

"Done! It's a wrap!" teriak sang fotografer dengan senang. Tepuk tangan pun nyaring memenuhi seluruh studio, tanda bahwa sesi photoshoot hari ini selesai. Marion menghela napas lega, akhirnya semua usai. Beberapa jam penuh pose dan outfit yang harus diganti-ganti, sudah dilewati.

Ketika kamera mati dan suasana mulai tenang, aura Marion tetap terasa. Bahkan tanpa lensa yang mengarah kepadanya, dia masih memancarkan karisma yang sulit diabaikan. Itulah yang membuatnya berbeda—dia tidak hanya cantik, dia adalah seni yang hidup dan bernafas.

Marion melangkah dengan heels tingginya menuju sofa di sudut ruangan. Lelah sekali rasanya, ingin cepat-cepat meluruskan kaki panjangnya yang tadi dipaksa beraksi selama berjam-jam. Di tangannya, segelas sparkling water dingin tampak berembun, menyejukkan jemarinya yang sedikit menegang. Bukan karena gugup, tapi kelelahan setelah memberikan yang terbaik di depan kamera.

"Sumpah, lo gila banget hari ini, Marion," ucap Fara, stylist yang sibuk merapikan beberapa potong baju di hanger. "Itu tadi pose terakhir, yang elo angkat-angkat tangan sambil balik badan? Duh, bikin semua orang di sini ngga bisa napas. Badass girl."

Bleeding LoveStories to obsess over. Discover now