1. Telfon Tengah Malam

89 43 7
                                        

Haiii guysss!!!
Aku (Paii) kembali dengan cerita singkatnya, silahkan di nikmati.... 🥧🤎

... Happy Reading

Anandita Kartika Putri, yang akrab dipanggil Dita, menatap layar laptopnya dengan mata setengah mengantuk. Matematika kelas 12 memang bukan pelajaran yang mudah, dan tugas ini sudah membuat kepalanya pening sejak tadi sore. Ditambah lagi, sekarang sudah lewat tengah malam, tepat pukul 23.34. Jam di pojok layar laptopnya menegaskan betapa lambatnya waktu berlalu saat terjebak di tengah tumpukan rumus dan soal integral.

Tiba-tiba, teleponnya bergetar. Dita mengerutkan kening saat melihat nama yang muncul di layar: Rijal. Dia tahu betul siapa yang menelepon, meskipun ia lebih suka memanggil sahabatnya itu dengan nama lengkapnya, Rizal Kurniawan.

"Apa lagi, sih, Rizal..." gumamnya sambil menekan tombol hijau untuk menerima panggilan.

"Dit! Dit! Gue butuh bantuan nih!" suara Rijal terdengar riuh dan agak cemas di ujung telepon.

Dita menghela napas panjang, mencoba menahan kesal. "Lo tau kan udah jam berapa sekarang? Gue lagi sibuk ngerjain tugas, tahu!"

"Sorry, sorry! Tapi ini penting banget, gue butuh saran lo. Lo kan selalu jago soal ginian," kata Rijal, suaranya terdengar sedikit memelas.

Dita memutar bola matanya. "Masalah apaan lagi? Lo berantem sama siapa lagi sekarang?"

"Gue mau putus, Dit."

Kalimat singkat itu langsung membuat Dita menegakkan punggungnya. Rijal yang mau putus? Itu bukan hal baru. Rijal sering kali memutuskan cewek-cewek tanpa banyak basa-basi. Biasanya dia cukup mengirim pesan singkat atau langsung memblokir nomor mereka. Tapi, kalau dia sampai menelepon tengah malam begini, pasti ada sesuatu yang lain.

"Lagi? Cewe yang mana kali ini?" Dita berusaha meredam nada sinis di suaranya.

"Lo tau, yang anak primadona itu, si Ella. Anak SMA N 1 Bundaran Ujung yang semua orang kenal?"

Dita mendengus. "Ya Allah, Rizal. Lo nggak kapok-kapok juga pacaran sama cewe primadona sekolah? Terus kenapa lo nggak putusin aja kayak biasanya?"

Rijal terdiam sejenak di ujung telepon. "Masalahnya... kali ini nggak bisa, Dit. Gue nggak bisa cuma chat putus trus blok nomor kayak yang biasa gue lakuin. Ella ini beda. Dia nggak akan terima kalau gue mutusin dia gitu aja. Dan, lo tau kan, reputasi gue di sekolah bisa hancur kalau gue salah langkah."

Dita menekan pelipisnya. "Lo bener-bener... Rizal, lo tau nggak sekarang udah jam berapa? Gue lagi sibuk sama tugas gue, dan lo malah minta tolong cara buat mutusin cewe?"

"Tolong banget, Dit. Gue nggak punya siapa-siapa lagi buat dimintain tolong soal ini. Lo kan sahabat gue... Lo pasti ngerti."

Mendengar kata "sahabat", Dita menghela napas panjang. Rijal memang sahabatnya sejak SMP, dan meskipun sering membuatnya kesal dengan urusan cewek, mereka tetap bertahan jadi teman baik. Tapi, tetap saja, ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah seperti ini.

"Rizal, kenapa nggak lo bicarain baik-baik aja sama Ella? Kasih dia penjelasan yang jelas, jangan cuma tiba-tiba hilang kayak biasanya. Lo juga harus mulai belajar bertanggung jawab atas keputusan lo."

"Gue udah coba, Dit! Tapi setiap gue mau ngomong soal putus, dia malah nangis, trus ngancem buat bilang ke semua orang kalo gue cowo brengsek."

Dita mengerutkan kening. "Ya... gimana ya, lo emang rada brengsek sih, Zal. Lo udah berapa kali pacaran dan putusin cewe dengan cara yang sama?"

"Dit, gue serius, gue butuh bantuan lo," Rijal berkata dengan suara lebih mendesak.

Dita menyandarkan kepalanya ke kursi, memejamkan mata sebentar. "Oke. Kalau gitu, lo harus hadapi. Jangan takut reputasi lo jelek, karena kalau lo nggak beneran mutusin dia dengan baik, justru itu yang bakal bikin lo keliatan buruk."

"Tapi gimana caranya gue bilang, Dit? Setiap gue mau ngomong, dia nangis lagi."

"Kalau gitu, lo harus sabar. Dengarkan dulu apa yang dia mau katakan, jangan langsung buru-buru putus. Tunjukin kalo lo peduli sama perasaannya, meskipun pada akhirnya lo tetap harus mutusin dia. Kalau dia nangis, biarin dia selesai dulu, baru lo ngomong."

Rijal terdiam sebentar, seakan sedang mencerna kata-kata Dita. "Lo bener juga sih... Gue nggak pernah mikir buat dengar dulu apa yang dia rasain."

"Nah, itu dia. Coba lo mulai dari situ. Dan jangan takut buat jujur. Kalau lo bener-bener udah nggak cocok sama dia, ya bilang dengan cara yang baik. Jangan bikin drama berlarut-larut."

"Gue takut banget, Dit. Gue nggak biasa kayak gini... biasanya gue tinggal chat doang."

Dita tertawa kecil. "Ya, makanya lo nggak bisa terus kayak gitu, Zal. Lo udah gede, ini SMA, bukan main-main lagi. Kalau lo nggak mulai belajar sekarang, ntar pas kuliah juga gitu-gitu aja."

Rijal menghela napas panjang di ujung telepon. "Iya, gue ngerti. Makasih, Dit. Gue beneran nggak tau harus ngomong sama siapa selain lo."

"Ya udah, sana, lo siap-siap buat ngomong sama Ella. Tapi besok aja, ya, jangan sekarang. Udah tengah malam, Zal."

Dita bisa mendengar suara tawa kecil dari Rijal. "Lo bener banget. Maaf udah ganggu malem-malem, Dit. Lo emang paling bisa diandalkan."

"Iya, iya, gue tau gue hebat. Tapi beneran, besok aja lo urusin. Gue butuh tidur."

"Siap, Kapten! Lo emang sahabat paling oke."

Dita tersenyum tipis, meski matanya sudah semakin berat. "Udah, tidur sana. Jangan ganggu gue lagi tengah malam kayak gini."

"Oke, oke. Thanks, Dit. Gue berhutang banget sama lo."

"Iya, tau. Udah, tutup, Rizal."

Setelah panggilan itu berakhir, Dita menatap layar laptopnya lagi, mencoba kembali fokus pada soal matematika. Tapi pikirannya masih tertinggal di percakapan tadi. Rijal memang selalu berhasil membuatnya merasa terlibat dalam masalah-masalahnya, meskipun kadang membuatnya kesal setengah mati. Namun, Dita tahu, mereka berdua selalu bisa mengandalkan satu sama lain, apa pun yang terjadi.

Akhirnya, Dita menutup laptopnya. Tugas matematika bisa menunggu sampai besok pagi. Untuk sekarang, yang lebih penting adalah tidur, dan mungkin sedikit istirahat dari drama percintaan sahabatnya yang tak ada habisnya.

....

Bantu support dengan cara vote (tekan bintang dan ikuti akunku agar aku semangat :Api 🔥)

#KoreksiKalauAdaTypoGuyssss 🤙😵

Komen guyss jangan lupa 🕺
.
.

Salam hangat dari Paii 🥧🤎

ANTAR-HATIWhere stories live. Discover now