𖥔 ݁˖ 𐙚 ˖ ݁𖥔 ݁˖HAPPY READING 𖥔 ݁˖ 𐙚 ˖ ݁𖥔 ݁˖
𖥔 ݁˖ 𐙚 ˖ ݁𖥔 ݁˖
"Jadi, sekarang apa?"
Gadis dengan rambut sebahu yang dicat warna- wine red itu tampak berpikir tengah duduk di kursi tempat belajarnya dengan kaki yang disilang dan tangan mengetuk-ngetuk meja. Tidak perlu banyak bicara lewat tatapannya mampu membuat orang salah tingkah karena tak nyaman. Tahi lalat kecil menghiasi ujung mata kanannya dan tengah dahinya. Netra coklatnya tajam, wajahnya seperti antagonis.
Wajah yang terkesan jutek.
Mereka kini berada di unit apartemen, tinggal bertiga dalam satu apartemen beda kamar, tapi tetap satu atap. Kali ini, mereka berkumpul di kamar Xakila secara dadakan.
Tidak seperti namanya yang terdengar indah, Xakila punya wajah tajam dan tatapan menusuk. Aura dominannya terasa, membuat nama indah itu terasa tidak cocok disematkan padanya.
"Rencananya," ucapan itu di gantung oleh Kalyren Floranya Xakila.
"Pindah ke Golden High School."
"Gila. Kita bertiga udah pindah sekolah tujuh kali dalam empat bulan tahun ini. Dan sekarang pindah sekolah lagi, Xa!! Serius pindah lagi???"
"Of course."
Gadis bernama Anggreta Yuliana Faulan itu mengggelinding kesal di atas kasur. Ia frustasi kalau pindah berarti ia berpisah dengan teman-teman laki-laki yang ganteng-ganteng itu.
Rasanya Liana mau teriak tapi takut dilempar Xakila dengan kursi di depan kasur.
"Bukannya itu sekolah yang beberapa bulan ini jadi sorotan media?" Xakila tersenyum menanggapi pertanyaan dari Ahana kemudian mengangguk.
"Tepat sekali," jawabnya. Xakila berdiri ia berjalan mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja belajar.
"Xa. Masuk di sekolah itu susah," ragu Ahana bukan apa. Walaupun tidak tahu banyak tapi Ahana sempat mendengar isu-isu sistem sekolah itu dari beberapa teman rekan bisnis ayah tirinya.
"Gue yakin kita bisa," Xakila bersandar di sisi meja menggunakan tangannya.
"Dan mulai besok. Kita bertiga pindah ke apartment yang nggak jauh dari sekolah. Bisa dibilang apartment itu termasuk salah satu fasilitas yang disediakan sekolah."
"Pindah sekolah lagi. Sama aja kita ngeluarin uang lagi dong?" Timpal Liana masih dengan posisi berbaring di atas kasur.
Xakila menghela napasnya "Gunain ini Li..."
Menggunakan jari telunjuk Xakila menunjuk tiga kali tepat di kepala kode itu memberi jawaban jika mereka tidak perlu uang untuk masuk di sekolah itu. Tapi menggunakan otak, nampaknya Liana terlihat ragu tentang sekolah itu karena pasti murid-murid di sana rata-rata pintar.
"Jangan pesimis! Harusnya lo sadar sama kemampuan kita, dilatih lebih keras dari sekolah itu."
Mendengar nama sekolah yang disebut. Ahana tidak perlu mengulur waktu untuk mencari tahu, saat itu juga ia membuka handphone mencari informasi-informasi Golden High School lewat akun-akun di media dan membacanya.
"Impossible. Sekolah itu benar-benar berbeda dari sekolah lain."
"Serius lo Ahana?" Liana memandang dengan wajah kurang percaya.
"Ya iyalah. Pasang telinga lo gue baca informasi yang gue dapat."
Liana menurut, memasang telinganya baik-baik siap menerima informasi dari Ahana.
"Menurut akun artikel yang gue dapat. Golden High School adalah sekolah terkenal di Indonesia dan berlabel A+ karena sistem pendidikannya yang begitu ketat." Papar Ahana sambil menatap Liana yang tengkurap di kasur. "Golden High School memiliki tingkatan kelas. Paling tinggi yaitu kelas VIP Golden, tingkat kedua kelas VIP, tingkat ketiga kelas unggulan, dan yang terakhir kelas X atau buangan."
"Dan satu lagi. Sekolah ini seperti sistem sekolah swasta yang terkenal dan banyak diminati oleh remaja-remaja di Indonesia. Di artikel dijelaskan tak kalah banyak murid-murid berprestasi berhasil menentukan masa depan selesai sekolah di sana dan banyak alumni-alumni yang berhasil masuk ke perguruan tinggi di universitas terbaik di dunia. Media juga sering mengangkat prestasi murid-muridnya," jelas Ahana sambil memandangi Liana yang seperti mulai tertarik.
Liana mendongak. Wajah bosan di wajahnya perlahan hilang. Ia mulai tertarik, mulai bangkit dari kasur dan duduk mendengar dua temannya.
"Itu sekolah apa medan persaingan, sih?!" Gerutunya masih belum yakin jika ada sekolah semacam itu.
Ahana langsung melotot. Liana mengangkat kedua tangan, peace.
Ia meminjam laptop Xakila dan mulai mencari infomasi soal sekolah itu yang dibilang Ahana. Matanya menelusuri baris demi baris artikel yang muncul di layar.
Golden High School, bangunan tinggi tempat menempuh ilmu pendidikan yang terkenal di Indonesia. Sekolah dengan banyak sistem gilanya dari sekolah lain. Di sekolah itu siapa yang kuat dia yang bertahan. Sekolah dengan sistem VIP murid yang pintar dan kaya menjadi orang-orang penting di sekolah tersebut
Persaingan jadi makanan sehari-hari.
Dan untuk mereka yang berasal dari keluarga berada tak hanya menyumbangkan kepintaran tapi juga- dana. Ditambah mempunyai kepintaran di atas rata-rata mendapatkan hak- istimewa yang didambakan oleh murid-murid yang kurang beruntung dan untuk mereka yang punya kekayaan dari stereotid publik mendapatkan fasilitas yang berkualitas bagus di Golden High School, itu semua mereka dapatkan dari kepintaran yang dimiliki.
Selain mengalirkan kepintaran mereka juga mengalirkan uang untuk fasilitas yang mewah tidak seperti sekolah menengah atas pada umumnya. Bagi anak-anak yang tidak mampu mereka mendapatkan kesempatan melalui- beasiswa. Mereka harus membayar semua biaya dan fasilitas, dengan otak mereka.
Liana membaca dengan seksama.
Xakila memainkan kuku-kukunya menatap sebentar kepala mendongak menatap jam dinding di kamar apartemennya.
"Pertama. Alasan kita pindah ke sekolah itu apa Xa?"
"Hm alasan?" Menatap ke depan. Liana menampilkan wajah bingung dengan semua yang terjadi.
"Iya apa?"
Xakila menunjukkan tujuh gambar melalui handphone hanya bayangan 7 perempuan. "Kalian pasti tahu ini kan?" Xakila kembali menarik tangannya dan melihat tangan di depan dada ingin melihat bagaimana respon dua temannya.
Ahana mengerutkan alisnya kemudian ia memandang Liana setelah itu Xakila.
"Jangan bilang ini ada kaitannya sama kasus menghilangnya 7 siswi di sana yang di bilang sama Paman Jake."
Zekyana Ahana Slekar menebak dengan benar. Xakila suka ini, ia tidak perlu menjelaskan panjang lebar kalau begini.
Mari kita ikut menelusuri akar masalah dari misi ketiga gadis ini. Dan apa saja yang menjadi penghalang mereka, berhasil atau tidak, kejutan apa yang muncul dan tentunya apa mereka bisa menyelesaikan misinya?
Atau mereka menikmati pemandangan dari atas, melihat hama-hama saling menghancurkan satu sama lain demi rantai makanan tetap ada.
𖥔 ݁˖ 𐙚 ˖ ݁𖥔 ݁˖
NEXT PART!!!
ESTÁS LEYENDO
THE VIP : GOLDEN HIGH SCHOOL
Misterio / SuspensoSekolah. Sekedar- ladel atau judul untuk bangunan yang menjulang tinggi yang menerima ratusan remaja yang katanya menuntut ilmu pendidikan. Apa itu sekolah? Yang ia tahu tempat ini adalah jelmaan neraka yang menggerogoti jiwa pelan-pelan. "Lo!!! Be...
