Hujan deras mengguyur pagi ini. Inginnya Serafina tetap meringkuk dibalik selimut. Namun itu tak mungkin dilakukannya, Ia belum lama bekerja dan mungkin hanya akan bertahan tiga sampai empat bulan seperti biasa.
Bukan karena kurangnya Ia dalam memahami jobdesk di kantor hingga selalu di pecat. Melainkan masalah yang disebabkan Ibu dan mantannya. Kalau bukan foto atau video yang disebar ke rekan kerja, kedatangan Ibunya yang kemudian membuatnya di PHK.
Sebagai generasi sandwich Ia memang bodoh, sudah tahu Ibunya seperti itu malah mencari sandaran dari pria yang ditemukannya di dating aplikasi. Angannya menikah di usia dua puluh empat, keluar dari rumah, menjadi ibu rumah tangga dan memiliki keluarga bahagia. Tapi yang didapati?
'Fin, transfer lima ratus sekarang.' Serafina baru tiba di kantor ketika menerima pesan dari Dodo mantannya.
'Do, saya nggak ada duit sekarang. Saya belum gajian.' tadi pagi Ibunya juga merongrongnya dengan hal yang sama.
'Kamu daftar pinjol di aplikasi. Bayar nanti pas kamu gajian.' Dodo menyuruh.
'Do, saya nggak mau punya hutang pinjol. Takut nggak bisa bayar.' Serafina mengetik dengan putus asa. Andai bunuh diri tak dosa Serafina lebih memilih mati daripada hidup seperti sekarang.
'Saya sudah nemu email perusahaan tempat kamu kerja. Mau video kita saya kirim kesana?'
Pesan video dikirim Dodo, mantan pacar yang masih menjadikannya mesin ATM. Serafina buru-buru mendelete video, khawatir ada rekan kerja yang melihat.
'Saya coba cariin pinjeman.' Serafina akhirnya menyerah. Dia memang salah, dulu percaya saja waktu Dodo meminta berhubungan intim. Janji Dodo akan melamar secepatnya. tapi setahun pacaran selain hanya sebagai pemuas nafsu, Serafina hanya jadi ATM berjalan.
Pertengahan tahun lalu Ia meminta putus. Dodo yang tak terima mendatangi Ibunya dan memperlihatkan video mereka. Dan seperti yang sudah bisa ditebak Serafina, bukannya pembelaan yang Ia terima. Ibunya malah makin merajalela.
Ibunya semakin berani memerasnya, mengancam akan menceritakan ke tetangga dan saudara kelakuannya jika tak diberi uang.
"Ayah kamu butuh uang buat modal usaha." Ibunya bicara dengan entengnya seolah uang jatuh dari langit. Uang yang Serafina cari dengan kerja keras dan hanya dihabiskan untuk berjudi ayah tirinya.
Sejak ayah kandungnya meninggal Ibunya memang menikah lagi dengan duda beranak dua. Bekas teman sekolah Ibunya yang dijumpai di acara reuni. Pria pengangguran yang menumpang hidup dan menghabiskan harta ayahnya untuk berjudi hingga Serafina harus banting tulang membiayai kuliah sendiri.
Begitu lulus sarjana dan mendapat pekerjaan tetap Fin pikir bisa lepas dari Ibunya, namun nyatanya tidak. Ibunya mendatangi kostan dan menjelek-jelekkan Serafin hingga Ia terpaksa kembali ke rumah.
"Fin kerja juga belum sebulan Bu. Belum dapat gaji." Fin di PHK karena Ibunya membuat kegaduhan di kantor. Mengamuk karena Serafina lupa meninggalkan uang di rumah. Ibunya mengeluarkan sumpah serapah dan mengatainya anak durhaka yang terdengar satu kantor.
"Pinjem temen kantor kamu atau kasbon. Pokoknya Ibu nggak mau tahu. Kamu pulang harus bawa uang."
"Bu, tolong jangan tega gitu. Fin baru kerja."
"Kalau kamu malu kasbon atau minjem kamu kan bisa jual diri di aplikasi. Daripada dikasih gratis ke pacar kamu kaya kemaren. Apa nggak dungu namanya." Ibunya sama sekali tak berempati yang membuat Fin enggan mendebat.
Percuma, akan sia-sia. Ibu sejak menikah lagi yang dipikirkan hanya menyenangkan suaminya. Padahal kemampuan suaminya hanya seperti Dodo, Hanya mokondo. Bedanya Fin lebih cepat sadar, Ibunya bertahun-tahun juga tak sadar. Atau mungkin memang tak ingin sadar karena syahwat yang dikejar.
YOU ARE READING
Mr. Duren Sawit
ActionBekerja rangkap untuk Mr. Duren Sawit bukanlah keinginan Serafina. Tapi emotional blackmail yang dilakukan kekasih dan Ibu kandungnya memaksa Ia mengabaikan kebahagiaannya sendiri.
