Prolog

32 8 2
                                        

-SELAMAT MEMBACA-

"Pemimpin upacara dapat mengistirahatkan barisannya."

Kalimat terakhir yang diucapkan pembawa acara berbuah lenguhan dan sorakan kecewa. Mereka harus menambah durasi berdiri di bawah terik matahari setelah melaksanakan upacara bendera hampir satu jam lamanya.

Jika peserta upacara tidak langsung dibubarkan maka hanya ada dua kemungkinan, yakni akan ada pengumuman atau razia dadakan.

Sorakan tersebut seketika berganti menjadi kepanikan ketika Bu Suryaningsih selaku pembina OSIS menaiki mimbar upacara menggantikan posisi kepala sekolah yang sebelumnya menjadi pembina.

"Seluruh siswa dan siswi tetap di tempat, tidak boleh ada yang meninggalkan lapangan," titahnya.

Setelah perempuan paruh baya itu mengeluarkan perintah, muncul puluhan murid menggunakan almamater sekolah dari segala penjuru lapangan. Masing-masing dari mereka membawa kertas dan pulpen untuk mencatat setiap pelanggaran yang akan ditemukan.

Peserta upacara semakin gelisah melihat para pengurus OSIS yang semakin dekat. Para murid perempuan sibuk menurunkan rok di atas lutut mereka dan mengeluarkan sebagian seragamnya agar tampak tidak ketat. Tidak lupa sebagian dari mereka mengusap-usap wajah dan bibir mereka agar dandanan yang berlebihan hilang seketika.

Tak jauh berbeda dengan murid laki-laki yang segera merapikan rambut panjang mereka agar tampak pendek dan merapikan penampilan yang urakan. Beberapa dari mereka bahkan sibuk mengoper korek dan rokok dari kantung celana agar tidak ketahuan.

Situasi yang tidak kondusif tersebut berusaha dimanfaatkan salah satu gadis di barisan XI IPA 5 untuk meninggalkan lapangan. Dengan penampilannya yang sekarang, sudah jelas ia tidak akan lepas dari ocehan dan hukuman yang akan diberikan guru BK.

Matanya melirik ke arah pengurus OSIS di bagian depan barisan yang sedang sibuk mengecek salah satu sepatu teman kelasnya yang tidak berwarna hitam.

Setelah dirasa aman, gadis dengan papan nama bertuliskan Rafaela Bilqis Humaira itu berjalan mengendap-endap ke arah toilet perempuan yang berada di pinggir lapangan.

Namun, baru tiga langkah berjalan, suara bariton seseorang menghentikan langkahnya.

"Mau kemana?" Tanyanya.

"A-anu mau ke toilet," Fela tergagap.

"Gak denger perintah Bu Surya tadi? Gak ada yang boleh meninggalkan lapangan." Laki-laki itu memberi penekanan pada dua kata terakhir. Dagunya terangkat dan wajahnya menatap datar seakan merendahkan alasan Fela yang pasaran.

"Gue kebelet pipis. Masa mau ditahan? Kalau gue ngompol lo mau bersihin?" Fela meninggikan suaranya, mendadak kesal melihat tampang angkuh yang ditunjukkan pemuda itu.

"Beneran kebelet atau itu cuma alasan lo untuk kabur?" Bola mata ketua bidang 2 OSIS SMA Cakrabuana yang lebih sering disebut ketua komisi kedisiplinan itu naik turun memperhatikan penampilan Fela yang sesuai dengan ciri-ciri murid yang pasti akan tercatat di buku hitamnya.

Nyali Fela sedikit menciut melihat tatapan elang yang seakan menembus tubuhnya. Belum lagi pandangan menilai yang diarahkan padanya semakin membuat gadis itu tidak nyaman.

"Kalau gak percaya lo ikutin aja gue!" Fela berbalik dan segera berjalan cepat menuju toilet, ia hanya bisa pasrah mendengar derap langkah yang mengikuti. Mustahil sosok Rafa akan melepaskan dirinya begitu saja.

Biar Fela perkenalkan siapa itu Rafa. Rafael Arsyad Prayuda, mantan teman sekelasnya di X IPA 1 dulu. Sekarang mereka berpisah karena Rafa tetap berada di kelas unggulan XI IPA 1 sementara dirinya terlempar ke XI IPA 5. Jangan tanya alasan mengapa dirinya bisa 'dibuang', Rafa yang menolak dipanggil saudara kembar Fela karena menganggap perempuan itu problematik sudah cukup menjelaskan alasannya. Padahal mereka sempat dipanggil Rafael-Rafaela bersaudara oleh teman kelas yang lain karena memiliki nama yang sama.

Tidak seperti Fela yang kerjaannya bolak-balik ruang BK, Rafa bolak-balik dipanggil maju ke depan saat upacara untuk merima apresiasi dari kepala sekolah karena berhasil memenangkan berbagai perlombaan. Yang terbaru, Rafa baru saja meraih medali emas pada perhelatan OSN bidang fisika tahun ini. Jadi jangan heran jika laki-laki itu menjadi sosok kesayangan guru-guru sekaligus idola adik, teman seangkatan, bahkan kakak kelas mereka.

Namun, di mata Fela, Rafa hanyalah sosok kutu buku membosankan yang selalu sibuk dengan buku-bukunya saat jam istirahat. Laki-laki itu sangat kaku dan tidak menarik karena hidupnya lurus-lurus saja. Belum lagi sifat galak, ketus, dan mulut pedas yang melekat pada dirinya. Sifat negatif itu semakin bertambah saja sejak dirinya naik pangkat menjadi ketua komisi kedisiplinan.

Saat razia bulan lalu, teman kelasnya sampai menangis karena seperangkat alat make up merek ternama yang baru dibelinya disita oleh Rafa dan tidak akan dikembalikan. Ada juga kisah dari anak kelas lain yang celananya digunting asal-asalan karena dijahit pensil. Serta sekelompok anak kelas 12 yang dipaksa menghisap 10 rokok sekaligus karena ketahuan merokok di kantin sekolah. Pokoknya tiada kata ampun. Untung saja waktu itu Fela sedang izin tidak masuk sekolah.

Kembali ke dunia nyata, Fela membanting pintu toilet tepat di hadapan Rafa yang setia menunggunya. Dengan mulut yang tidak berhenti mengumpat, tangannya memutar keran bak mandi dan menyiram toilet beberapa saat kemudian agar dirinya terdengar seperti buang air. Tentu saja alasan tadi hanya dibuat-buat agar bisa lolos dari jeratan Rafa walau akhirnya gagal juga.

Fela bersandar pada dinding toilet, sengaja mengulur-ulur waktu sekaligus mencari cara agar kabur dari hukuman yang menunggunya. Matanya melirik ke arah lubang ventilasi, mungkin saja lubang tersebut bisa menjadi pintu keluarnya. Tetapi niat itu diurungkan mengingat ukuran lubang yang sangat kecil dan tubuh Fela tidak mungkin melewatinya. Lagi pula lubang ventilasi itu mengarah pada pinggir lapangan, hanya butuh waktu beberapa detik saja bagi Rafa untuk menangkapnya setelah Fela melompat dari atas sana.

"Cepet buka pintunya atau gue dobrak."

Bunyi ketukan tidak sabar membangunkan Fela dari lamunannya. Dirinya menarik napas dalam-dalam, kali ini ia hanya bisa pasrah menerima hukuman untuk kesekian kalinya.

Fela membuka pintu plastik tersebut dengan wajah menekuk. Di sana Rafa masih setia pada tempatnya dengan ekspresi yang tidak berubah sama sekali.

"Udah pipis pura-puranya?" Sarkas laki-laki itu.

Fela memutar bola matanya dan menjauhi pintu toilet setelah menutupnya kembali. "Sekarang gue harus kemana?" Ketus Fela.

"Ikut gue ke ruang BK, yang lain udah pada di sana."

Entah berapa lama ia di kamar mandi hingga razia sudah selesai begitu saja, yang jelas kini Fela akan segera bergabung dengan para murid bermasalah yang sering dicap berandal oleh dewan guru.

"Jangan coba-coba kabur kalau gak mau gue seret paksa ke sana." Rafa memperingati seakan bisa membaca isi kepala gadis itu.

Fela hanya membuang muka dan mengekori Rafa menuju tempat eksekusinya.

—rafaelogi—

Hai semua! Udah hampir setengah tahun aku gak buka akun wp ㅠㅠ
Gimana kabar kalian?

Aku bawa cerita baru nih, dijamin gak terlalu panjang dan kompleks seperti dua cerita sebelumnya wkwk

Btw, mohon maaf aku belum bisa lanjutin Blurelation dan Girls Like Challenge karena stuck 😭

Jangan lupa vote, komen, dan share ya! <3

RAFAELOGIWhere stories live. Discover now