'Kukira dengan berjalannya waktu akan menyembuhkan luka yang ada, tapi aku salah. Bahkan waktu yang terus bergerak hanya mengeringkan luka tapi tak benar-benar menghapus bekasnya bahkan rasa luka itu masih sering berlalu lalang dengan jelas. Lalu bagaimana aku menyembuhkan luka yang tertinggal jika waktu saja tidak mampu menyembuhkan luka itu?'
"Dan Aku mohon jangan pernah memintaku untuk kembali saat aku sudah benar-benar menyerah dengan perasaanku dan harapanku"~zoya
Zoya gadis berambut panjang dengan senyum manis namun siapa sangka memiliki sejuta rahasia tentang duka dan luka yang terbalut rapi dalam senyum palsunya. Mereka yang diluar sana hanya melihat Zoya sebagai anak periang, pencair suasana dan penebar kebahagiaan, bahkan sahabat dekatnya pun jarang dan hampir tidak pernah melihat Zoya marah yang benar-benar marah. Namun itu semua hanya yang tampak diluar, Zoya yang sebenarnya penuh dengan luka, dia sering merutuki diri dan menangis sendiri dikamarnya, meratapi sesak yang mendera dalam jiwanya.
Dia terluka dengan kehidupannya, dia terluka dengan tempatnya tumbuh, dia terluka dengan orang-orang terdekatnya. Semuanya menyesakkan membuatnya sangat sesak bahkan hanya sekedar untuk bernafas seolah semua mencekik dirinya. Masa kecilnya yang penuh derita membuat Inner child di dalam dirinya terluka bahkan ketika luka yang ditimbulkan oleh orang terdekat dengan dalih "mendidik agar lebih dewasa" tapi mereka tidak sadar jika mereka nyaris membunuh jiwanya. Semua luka itu membuatnya menjadi seseorang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain tanpa melihat dirinya sendiri dan berujung terluka tanpa tau bagaimana menyembuhkannya.
"Aku hanya ingin pulang, apa memang sungguh tidak ada tempat untukku pulang? Aku tidak berharap banyak, aku hanya butuh satu tempat yang bisa menerimaku untuk pulang dan meletakkan jiwaku".
"Aku lelah terlihat baik-baik saja, aku lelah membuat orang lain tersenyum, aku lelah menghibur orang lain. Aku juga terluka dan ini sungguh menyesakkan dan menyakitkan bahkan hanya untuk sekedar bernafas....tak bisakah mereka melihat itu? Aaagh,,,, tentu saja tidak, karna pada dasarnya mereka tak pernah sungguh-sungguh menganggapku ada. Aku ingin berhenti.... aku ingin menyerah....."--- Zoya
lalu bagaimana jika luka yang terdiam sangat lama dan semakin menumpuk itu justru membuatnya semakin tersiksa dan berujung dengan meluapkannya pada dirinya sendiri. Darrel, masa lalu yang sempat dia harapkan sebagai kebahagiaannya justru berakhir dengan luka menganga. lalu tentang Werill yang selalu berusaha mengobati luka Zoya, dia yang selalu mencoba menjadi cahaya bagi Zoya dia yang selalu ada saat Zoya mulai membunuh jiwanya sendiri secara perlahan.
"Cukup.....cukupp, jangan lakuin ini"
"Jangan gini yaa... gue mohon"
"Kalo lo pergi gue gimana?.... gue gak bisa, gue gak bakal bisa" tangis pilunya saat menemukan tubuh yang mulai dingin tergeletak di lantai kamar.
"Gue bohong....Gue bohong.... gue gak baik-baik aja tanpa lo, jadi gue mohon jangan tingggalin gue" ucapnya semakin parau saat melihat wajah sosok didekapannya yang semakin pucat. Dia sungguh berharap kedua mata itu terbuka dan tersenyum ke arahnya seperti yang biasa dia lakukan.
"Ini tentang bagaimana aku mengenang kehidupanku dan bagaimana aku dikenang kelak semuanya ku kembalikan pada kalian. Tapi besar harapku kalian akan mengenangku sebagai sesuatu yang indah walaupun aku yakin sepertinya itu sulit. Tapi cobalah, aku akan berbahagia dengan hal itu"
______________________
kisah ini tentang seorang gadis yang selalu berusaha membuat semuanya baik-baik saja. lebih tepatnya 'terlihat' baik-baik saja. lalu bagaimana jika semua yang dibuat baik-baik saja itu terlalu menumpuk pada dirinya sampai pada saat dia tidak mampu menahan dan akhirnya tenggelam dalam luka.
Kita semua pasti pernah seperti ini, apalagi masa-masa remaja menuju dewasa muda yang tentunya masih terombang-ambing dengan emosi dan jiwa yang masih mencari-cari jati diri. Di usia ini kita mudah terluka namun seringkali dengan membuat luka itu seolah-olah sembuh padahal tidak sama sekali. Banyak dari kita hanya menutup luka dengan kain tanpa membersihkan luka tersebut. lalu apa? bukan sembuh tapi justru berakhir dengan infeksi bukan. Lalu bagaimana dengan hati? justru karena lukanya tidak terlihat akan berakhir dengan lebih mengenaskan bukan?
Di usia peralihan seperti ini seringkali lingkungan terdekat yang memberikan luka lebih dalam, entah mereka melakukannya dengan sadar atau tidak. Saat kita mencoba mengatakan luka itu banyak dari mereka justru mengatakan "kamu udah gede, coba hadapi, jangan kayak anak kecil" . Yaaaa....classic bukan ? padahal di usia ini kita sangat membutuhkan sandaran kita membutuhka rumah yang benar-benar rumah, bukan hanya sekedar bangunan untuk berteduh melainkan rumah untuk jiwa muda yang mudah terluka ini.
Tidak apa-apa jika kau terluka dan wajar jika di usia ini kita banyak terluka. Dunia yang kita tinggali memang tidak ramah pada semua orang, jika bisa dibilang "Dunia ini pilih kasih" adalah ungkapan yang memang benar adanya bukan?
Ada kalanya pilihan menyerah adalah yang terbaik tapi baik menyerah ataupun bertahan sama-sama pilihan yang baik dan hanya tergantung kalian melihatnya dari sudut pandang yang mana. jadi saat seseorang menyerah jangan katakan dia lemah karena ada kalanya itu memang pilihan yang terbaik ~ Laroséan
----- Hallooooo.....
ini karya pertamaku sekaligus tulisan pertamaku hehe mohon maaf ya kalau bahasanya aneh dan banyak typonya....
hopefully u guys like it :)
Update soon
VOUS LISEZ
ZOYA: End Of Beginning
Roman pour AdolescentsIni tentang bagaimana aku mengenang dan bagaimana aku dikenang. Tentang kehilangan dan kembali menemukan. Tentang kenangan yang tak pernah mengulang. Yang kukira dengan berjalannya waktu dapat menyembuhkan luka yang ada namun nyatanya aku salah. Bah...
