Hujan yang awalnya membasahi bumi selama satu jam lebih kini sudah mereda. Matahari pagi yang tertutup oleh awan tebal kini juga sudah mulai memberikan sinar hangatnya pada sang bumi.
Sedangkan itu, seorang gadis turun dari sebuah taksi dan melangkahkan kakinya tak tentu arah. Dari raut wajahnya terlihat jelas jika ia sedang marah karena seseorang. Wajah teduhnya sengaja ia tekuk, tangannya ia kepal kuat membayangkan seseorang yang sudah membuatnya marah untuk ia pukul habis-habisan. Sayangnya, ia tidak akan pernah melakukan hal itu.
"Vito sialan, gue udah bilang gak mau ikut ke Singapura, tetap dia paksa. Padahal opa juga gak keberatan, kenapa dia yang permasalahin?" dengus Lovely marah.
Jelas kemarahan Lovely adalah kakaknya Vito. Cowok itu memaksanya untuk ikut opa-nya ke Singapura. Padahal ia sudah mewanti-wanti tidak akan pernah ke sana kecuali seseorang yang ia tidak ingin lihat sudah tak lagi berada di negara itu.
"Aawww!" ringisan dari mulut Lovely terdengar saat keningnya tiba-tiba bersentuhan dengan sesuatu.
Lovely melebarkan matanya saat itu juga, menyadari satu hal. Sedari tadi dirinya memang berjalan menunduk dan tergesa-gesa, tanpa memperhatikan apa yang ada di depan. Sampai pada akhirnya ia bertabrakan dengan seorang cowok sampai bibir cowok itu menyentuh keningnya. Sialan, ia harus berbuat apa sekarang?
Lovely mundur, saat tak ada pergerakan dari cowok di depannya selama lima detik. Menjauhkan tubuhnya dari tubuh cowok itu, terutama menjauhkan keningnya yang tak sengaja cowok itu cium. Sepertinya cowok ini sengaja berlama-lama mendaratkan bibirnya pada kening Lovely.
Walau jantungnya masih tak karuan, Lovely memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya, penasaran dengan wajah cowok yang berada di depannya ini.
Lovely pikir cowok di depannya akan bersikap kurang ajar karena sudah menciumnya meskipun tanpa sengaja. Namun perkiraannya salah, cowok itu malah menatap Lovely tajam, menusuk kornea matanya dalam-dalam.
"So-sorry, aku jalannya gak liat-liat sampe nabrak kamu," ucap Lovely yang kini berani bersuara.
Cowok itu hanya memasang wajah datar, untunglah jika begitu. Setidaknya ia tidak memberikan tatapan mematikan seperti tadi pada Lovely.
"Aku minta maaf, tapi aku emang gak sengaja kok, serius. Mana tau kalo kamu ada di depan aku tadi, aku jalannya cepet terus nunduk gitu dan—."
"—minggir," potong cowok itu akhirnya.
Lovely menghembuskan napasnya pelan. Cowok di depannya ini dalam keadaan tidak baik-baik saja, terlihat dari penampilannya yang berantakan, seluruh tubuhnya terlihat basah. Lovely bisa menyimpulkan, saat hujan tadi, cowok ini melakukan ritual hujan-hujanan.
Lovely menatap tangan kanan cowok itu, bibirnya terangkat saat melihat jam tangan di sebelah kanan yang cowok itu pakai, lalu matanya beralih pada tangan kiri cowok itu yang menenteng gitar yang berada dalam Gig Bag. Cowok di depannya ini pintar bermain gitar rupanya.
Cowok itu geram karena Lovely masih diam di tempatnya. "Tuli?" ujarnya. Tangannya terarah pada bahu Lovely, lalu menggeser tubuh gadis itu agar memberikan jalan.
Lovely menatap punggung cowok itu yang perlahan menjauh. Cowok yang belum ia ketahui namanya itu benar-benar pergi tanpa mengucapkan maaf, padahal ia sudah mencium Lovely meskipun yang salah di sini adalah dirinya sendiri.
Bukannya marah, Lovely malah tersenyum. Di pegangnya bekas ciuman cowok itu di kening mulusnya. "Dia keren, gak akan gue cuci bekas ciumannya sampe seminggu."
VOCÊ ESTÁ LENDO
100/2
Ficção AdolescenteWhisky L. Gevian, atau panggil saja dia Sky. Dirinya tidak pernah tahu, jika akan bertemu dengan gadis aneh macam Lovely Madeline Tanujaya. Sosok gadis yang ia nilai memiliki kewarasan di bawah rata-rata sejak awal keduanya bertemu. Lovely tidak jen...
