PART 1

16 8 6
                                        

Vote, komen di setiap paragraf dan share cerita ini ke teman teman kalian ! Don't be a silent reader !

Jika ada kesamaan nama, tempat, gelar dan alur cerita itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan!

SELAMAT MEMBACA CERITA INI DENGAN TENANG DAN NYAMAN.

***

PART 1 – STORY OF NASYA.

Kita tak bisa memilih keluarga, karena mereka merupakan pemberian dari Tuhan sebagai salah satu bagian dari hidup kita. Memanfaatkan waktu saat bertemu adalah kunci kebahagiaan.

- Story Of Nasya.

***


Tringg..

Bunyi lonceng berbunyi, seorang pembeli masuk ke dalam cafe membuat beberapa pasang mata refleks menatap ke arahnya. Penasaran atau tidak itu sudah menjadi jalannya impuls manusia yang dapat menghubungkan reseptor ke efektornya.

"Akhirnya! Bang felix sampai juga." Ucap seorang gadis berparas manis dan kulit putih. Sebut saja namanya Nasya!

Iyah... Nasya Delma Lewis. Sang pemeran utama dalam cerita unik ini.

Kedua mata Nasya tak lepas dari seorang laki laki berseragam dinas pesiar dengan earphone terpasang di telinganya. Laki laki yang baru saja memasuki cafe tersebut. Laki laki itu berjalan santai ke arah meja nasya dan mengambil tempat duduk tepat di hadapan nasya. Laki laki itu adalah abang kembar nasya, memiliki nama lengkap Felix Delma Lewis.

"maaf ya nas harus nunggu lama. Tadi macet di jalan." Ucap felix seraya menarik earphone yang terpasang di telinganya.

" alasan klasik bang "

"kamu marah ya nas?"

"nggak marah, cuma bete aja. Abang kapan pulang ke rumah sih? Masa nasya yang selalu nemuin abang ke magelang. Nasya capek bolak-balik kayak gini, apalagi ayah nggak bolehin nasya naik motor sendiri dan harus diantar sama om eri segala. Arghh!" Gadis manis itu mencebik dan melipat kedua tangannya di depan dada. Sedangkan, sang abang di depannya itu hanya diam saja mendengarkan ocehan sang adik yang sudah seperti kereta api nggak pakai rem kalau ngomong.

"ini sekarang abang udah pulang ke rumah."

"ihh, serius bang!"

"iyah, rumah itu kan bukan tempat, melainkan orang yang ada di dalamnya. Kalau kita kembali saat orang orang itu nggak lagi ada, maka itu bukanlah rumah." Ujar felix.

"bang felix sok puitis deh. Nasya tanya serius ya kali ini dan jawabnya harus serius juga. Abang kapan pulang ke rumah?" ucap nasya sembari menatap tajam laki laki di depannya.

"iyah, nanti kalau udah giliran liburan semester." Ucap felix dengan raut wajah sok seriusnya.

PLAK!

Buku menu cafe mendarat dengan mulus di kepala sang abang. Lantas, sang abang mendelik. "kamu nggak sopan nasya! Abang bilangin ke mama ya."

Nasya tidak perduli dan menjulurkan lidahnya " bilang aja sana. Dasar tukang ngadu."

Kemudian, felix memilih untuk memainkan gawainya. Menanggapi adiknya pun tidak akan ada akhirnya jika bukan dia yang mengalah.

Akhirnya, setelah seminggu tidak bisa bermain gawai, hari ini ketika pesiar ia bisa memainkan gawainya dengan leluasa.

Story Of NasyaWhere stories live. Discover now