chapter 21

441 69 25
                                    

Aku kurang semangat buat
Lanjut si sebenarnya, karena gak ada yang nunggu, gak mau minta koment lgi si seiklas nya aja, pada gak ada yang mau coment juga kyak nya :') vote juga padahal yang baca lumayan.

 

            Taehyung tahu ada yang beda dari Airin, sejak malam itu, memang gadis itu tak memilah kata yang buruk buat di lontarkan, hanya berkata bahwa orang tua mereka berbeda, ya maksud nya ketika kau tidak mendapat restu dari orang tua sang pujaan begitu pun sebaliknya.

Sudah 10 menit airin berada di stasuin kreta, kendati demikian tanpa sepengetahuan Taehyung, tekat nya sudah bulat untuk berhenti menjadi Baby Siater Jungki dan bocah itu juga ingin di ambil alih oleh Jungkook dan Rahel sebagai orang tua kandung Jungki pun rahel yang sudah bersedia menjadi ibu sambung.

Airin cukup senang, ada yang merawat Jungki, walau sebenarnya ada prasaan sedikit tak rela kendati sudah menganggap Jungki sebagai anak nya sendiri.

Sebelum Taehyung pergi kekantor tepat di mana Jungkook dan Rahel datang kembali ke seoul dengan tujuan membawa Jungki, Taehyung setuju karena ia memang bukan Ayah kandung anak laki-laki tersebut walau rasa nya sama seperti apa yang Airin rasakan, tak rela, tapi barangkali ini yang terbaik untuk Jungkook sebagai sahabat nya dan masa depan Jungki.

Awal nya Jungki menolak, tapi berkat bujuk dan rayu akhirnya bocah itu menuruti, walau Airin tak yakin jungki akan terus bersama Jungkook, sebab kehadiran taehyung sudah menemptkan nya sesuatu yang sangat begitu penting di hati bocah laki-laki itu.

Airin rasa tak ada lagi beban yang harus ia pikul, walau nyata nya masi begitu banyak, ia menggeleng lirih dengan mata sayu yang hanya fokus pada rel kreta yang sebentar lagi akan datang.

Selamat tinggal seoul dan selamat tinggal Taehyung.

Itu lah kata yang bisa airin rapalkan dalam hati walau sebenar nya berat, ia berharap sangat berharap Taehyung tidak mencari nya lagi.

Udara seoul cukup dingin, ini masi pukul 9 pagi, belum terlalu siang, keberangkatan kereta mungkin sekitar 10 menit lagi, Airin membenahi syal yang melilit rapi di leher nya, coat tosca yang ia kenakan saat ini merupakan coat yang ia kenakan dulu ketika kembali lagi ke seoul dan pertama kali bertemu Taehyung setelah berpisah 4 tahun, rasa nya sama menghangatkan hanya saja suasana nya berbeda.

Ada satu hal yang rasa nya sulit Airin hilangkan dari seoul, yaitu cintanya terhadap Taehyung, ini begitu melekat pada relung hati nya.

Pintu kereta suda terbuka, orang-orang sudah berjejer rapi untuk masuk, pun Airin juga sudah memulai langkah nya dengan helaan nafas yang terasa hampa melirik sekilas pada sekitaran stasiun sebelum langkah nya benar-benar memasuki kereta ia berucap.

"Selamat tinggal Taehyung, aku mencintai mu"

Tak ada yang spesial dari perjalanan kali ini, pulang ke kampung halaman terasa sedikit berbeda dari biasa nya, hanya ada bukit, tebing dan batuan alam, juga beberapa sawah dan kebun stroberi yang terbentang indah dengan rumah desain korea klasik dari kayu yang terlihat jauh di bawah dasar bukit, cukup memanjakan mata.

Airin berharap Taehyung di sampingnya, menggenggam jemari, atau barangkali meminjam pundak sekedar bersandar atau daksa nya untuk di peluk mengurai begitu banyak keluh kesah yang telah di lalui dan bercerita tentang hari esok yang begitu indah untuk di lewati berdua, tapi itu hanya angan semata.

Ada satu moment di mana mungkin begitu di rindu, pujian yang Taehyung rapalkan terkadang membuat airin merasa menjadi seorang putri, senyumannya dan sentuhan gila nya hal itu tentu terekam jelas di memory, kecupan, belaian dan hentakan yang membuahi nikmat surga yang selalu menjadi candu.

Hiraeth | KthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang