chapter 15

1.3K 165 8
                                    

Sengaja up cepat karena kmaren up nya lama, tapi untuk next tergantung vote yah.

Yang belum follow silah kan follow untuk mendapatkan info cerita terbaru booksvii terimakasih.

_______________________

       Barangkali waktu bergulir begitu lambat, dengan bunyi detakan jarum yang melewati di setiap detik nya merangsak menembus rungu di tengah keheningan setelah pertanyaan yang terlontar hanya beberapa kata. Tangan kekar Taehyung tak lagi memeluk sang lawan bicara lantas kini diri nya harus mempersiapkan jawaban yang semesti nya akan di utarakan.

Menarik nafas dalam lalu membuang nya pelan, Taehyung berdiri di samping Airin dengan memasukan jari ke dua tangan kedalam saku celana untuk mencari kehangatan kendati dengan sebuah keraguan Taehyung meloloskan sebuah anggukan."iya".

Bertepatan dengan piring terakhir Airin menoleh ke arah Taehyung berharap ini sebuah lelucon, tapi nyata nya Taehyung tak menunjukan raut wajah bak seorang yang tengah berbohong, ia kelewat serius.

Memang begitu banyak pertanyaan yang ingin Airin lontarkan lantas dirinya masi tidak percaya bahwa faktanya Jungki yang Airin sangka anak kandung Taehyung ternyata adalah anak dari laki-laki yang akan di jodohkan dengan nya, sungguh, sebuah kebetulan semacam apa ini.

"Maafkan aku tidak jujur dari awal"Taehyung menunduk merasa begitu bersalah, tapi Airin sadar bagai mana perjuangan Taehyung merawat anak yang bukan darah daging nya itu dengan penuh kasih walau Jungkook membenci entah sebab apa, lantas masi menjadi tanda tanya besar.

"Tidak apa-apa".gumam Airin sembari mengusap pelan pipi tirus Taehyung."kita rawat Jungki sama-sama, bagai mana?"

Taehyung tersenyum dibarengi dengan gelengan kecil."Jungkook berhak sepenuh nya atas Jungki, jika ia meminta Jungki, aku tidak bisa berbuat apa-apa"

Dan lagi tampaknya jiwa keibuan Airin sudah timbul, terbukti bagai mana raut wajah cantik itu berubah sedikit kesal."tidak bisa"tekan Airin pada kata-kata nya."kim! Jungkook itu berbahaya, dia itu bajingan, bagai mana mungkin bisa merawat seorang anak kecil, kemarin kau bilang Jungkook tidak menganggap Jungki, lalu bagai mana bisa?"

Cukup menghabis kan waktu beberapa bulan dengan bocah tiga tahun itu cukup membuat Airin tidak ingin kehilangan, kendati sudah di anggap sebagai anak sendiri oleh nya wajar saja bila ia tidak rela bila ada seseorang yang ingin mengambil sesuatu yang sudah ia anggap sebagai milik nya.

"Rin"panggil Taehyung dengan begitu lembut."Jungkook seperti itu karena ia begitu terpukul atas kematian Jiha, ibu kandung jungki"raut wajah serius itu kian kentara sekali dengan terbesit sebuah kesedihan yang mendera, Taehyung jelas saja ikut andil dengan masa lalu kelam itu

Airin bungkam, ia tak tahu harus berkata apa, kembali kepada kenyataan bahwa diri nya hanya seorang pengasuh bayaran."tapi tetap saja, Jungkook itu berbahaya, aku mohon jangan berikan Jungki"lagi tampak tak putus asa mencoba memohon memegang tangan Taehyung seperti sedang merengek

Taehyung terkekeh melihat Airin memohon begitu membuat nya gemas bukan nya prihatin atau hiba.

"Tidak baik memisahkan anak dan orang tuanya"senyuman itu terus saja terpatri, mata nya menatap lamat-lamat gadis di hadapan nya itu yang tampak kesal dan pasrah secara bersamaan."jika kau ingin bayi yang lucu, aku bisa memberikan mu 10 kalau mau"

Airin sukses tersenyum, jari-jari mungil nya refleks menarik hidung mancung Taehyung hingga sedikit memerah."nikahi aku dulu kalau begitu"

"Yakin? Mau punya anak 10"ledek Taehyung dengan senyuman jenaka.

Hiraeth | Kth  ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang