Apa? Dia anak seorang Ustadz Amar?

92 74 50
                                    

°°Apapun yang terjadi, nikmati hidup ini. Hapus air mata lalu berikan senyumanmu. Kadang senyum terindah datang setelah air mata pernah luka :)°°

Happy reading
'
'
'

Aku dan Ahmad pun sudah sampai di rumah, aku segera turun dari motornya dan segera memasuki rumahku.

"Nggak mau nyuruh aku mampir?" tanyanya.

"Mmm nggak ah," fikirku membalikkan badanku ke arah Ahmad yang tadinya sudah berjalan memasuki rumahku.

"Kok nggak? Biasanya juga suruh mampir dulu," tanyanya lagi.

"Nggak ada makanan di dalam," jawabku terkekeh melanjutkan langkah kakiku.

"Aku nggak minta makan sama kamu keles, " selanya terkekeh yang sudah memasang helmnya.

"Oke aku duluan yah, Assalamualaikum." pamitnya sembari melambaikan tangan. Aku hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum.

"Ehh makasih," ucapku kemudian. Ahmad yang sudah menggas motornya hanya mengangguk dari belakang.

Aku memasuki rumahku ternyata sedang tidak ada orang, kemana mereka? Rumah juga tidak terkunci?

Aku memilih untuk segera mengganti pakaianku dan mempersiapkan untuk membuka warung kecilku lagi.

Beberapa jam berlalu, aku sudah menutup warungku. Alhamdulillah tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi juga. Aku segera bergegas ke kamar mandi dan membersihkan badan. Setelah urusan kamar mandi selesai, aku segera berpakain yang pantas di pakai seorang muslimah. Dan melanjutkan kegiatanku untuk ke mesjid.

Di sepertengah jalan, akhirnya Adzan magrib telah di kumandangkan. Herannya, suara adzan kali ini baru ku dengar selama hidupku.

الله اكبر الله اكبر

لا ا له الا الله....


"Masya Allah suara siapa tu yang adzan?" tanya dengan sendiriku yang sudah hampir sampai di mesjid.

"Assalamualaikum ustaz!" sapaku pada ustaz Amar yang baru saja mengambil air whudu.

"Wa'alaikumussalam Alma," balasnya tersenyum.

"Yang adzan siapa tadi ustaz?" tanyaku seraya berjalan masuk ke mesjid.

"Tuh liat aja siapa yang udah datang!" jawab ustaz Amar menggunakan alisnya untuk menunjuk orang yang baru saja mengumandangkan adzan.

Melihat dari belakang itu seperti Ahmad? Apa jangan-jangan Ahmad? Masya Allah, ternyata suara Ahmad merdu juga yah hehe.

"Ahmad Stad?" tanyaku.

"Maybe," jawabnya.

Mungkin sudah ku anggap biasa jika ustadz Amar menggunakan bahasa inggris padaku, selain pintar agama, ustaz Amar juga cerdas dengan pelajaran yang lain. Seperti matematika, sosiologi, bahasa arab, tulis tangan bacaan qur'an, dan seperti yang sekarang ini yakni berbahasa inggris. Itulah kelebihan dari ustaz Amar, Masya Allah....

"Ahmad!" panggilku sudah di dalam masjid.

Karna mesjid dekat rumahku masih butuh banyak renovasi mungkin belum bisa tertutup antara laki-laki dengan perempuan. Mau menggunakan tirai pun susah untuk menggunakannya jika tidak mempunyai bahan.

Ahmad yang mendengarku memanggilnya, spontan membalikkan badannya.

"Kamu yang Adzan?" Lanjutku.

"Iya hehe," jawabnya terkekeh.

ALMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang