“Valeska!”
Suara berat itu menggema di sepanjang koridor utama SMA Rajawali, cukup keras hingga membuat beberapa siswa lain menoleh. Valeska menghentikan langkahnya.
Cowok berseragam putih abu-abu itu berdiri dengan wajah datar. Bajunya tidak rapi, sengaja dikeluarkan dari celana, memberi kesan acuh sekaligus menantang. Rambutnya sedikit berantakan, seperti baru saja ia adu argumen dengan dunia. Perlahan, ia berbalik badan.
Sosok yang memanggilnya tadi, Fazeko—atau yang lebih dikenal dengan panggilan Pajek—berdiri di ujung koridor. Wajahnya menegang, raut penuh keraguan. Tubuhnya menjulang tinggi, kulitnya eksotis, membuatnya populer di kalangan cewek-cewek sekolah. Tapi kali ini, tatapan Pajek penuh kecemasan.
“Gaskar beneran mau lo bangun lagi?” tanyanya dengan suara serak, hampir ragu untuk sekadar mengucapkannya. “Lo yakin, Les?”
Vales hanya menarik napas panjang. Pertanyaan itu sudah terlalu sering mampir ke telinganya. Dengan santai, ia menyelipkan tangan ke saku celana, menatap lurus pada sahabatnya.
“Dari awal gue udah mikirin matang-matang,” jawabnya dingin. “Keputusan gue udah bulat. Gue bakal bangun lagi Gaskar—atas perintah Bang Tora.”
Nada suaranya berat, penuh tekad. Tak ada ruang untuk ragu.
Bagi sebagian orang, nama Gaskar mungkin hanya kenangan buram. Tapi bagi SMA Rajawali, nama itu seperti hantu yang tak pernah benar-benar mati.
Dulu, Gaskar—singkatan dari Garda Satu Rajawali—adalah geng terbesar yang pernah ada. Dibentuk oleh angkatan 11, geng itu beranggotakan lebih dari dua ratus anak. Mereka menguasai koridor sekolah, jalanan di luar, bahkan menjadi momok bagi geng sekolah lain. Tawuran, bolos massal, balap liar—semua pernah mereka lakukan.
Namun kejayaan itu runtuh cepat. Sekolah turun tangan, guru-guru bergerak, pihak keamanan campur tangan. Gaskar dibubarkan dengan keras. Banyak anggotanya di-DO, sebagian besar dicap sebagai perusak nama sekolah.
Kini, dua tahun setelahnya, Vales yang sudah kelas 12 tiba-tiba ingin membangkitkan lagi nama itu.
Pajek mendengarkan jawaban Vales dengan wajah semakin serius. “Les, gue ngerti lo deket sama Bang Tora. Gue ngerti juga lo dulu sempet dipercaya jadi penerus. Tapi… lo inget nggak? Waktu pemberantasan geng itu, banyak anak-anak yang harus ninggalin sekolah. Mereka nggak bisa lulus, nggak bisa kuliah. Lo mau ambil risiko itu?”
Vales hanya menoleh sekilas. Bibirnya melengkung tipis, semacam senyum sinis yang tak benar-benar senyum. “Kalau lo takut, lo nggak usah ikut. Gampang. Lagi pula, guru nggak bakal tau apa-apa—kecuali ada yang cepu.”
Jawabannya ringan, tapi membuat dada Pajek makin sesak.
“Assalamualaikum… weh, ada apa nih tegang amat, bos?”
Sebuah suara riang memecah ketegangan. Seorang cowok dengan wajah penuh canda datang, merangkul Pajek dengan santai. Dialah Kenzie, si badut sekolah.
Kenzie selalu bisa mencairkan suasana. Sikap humorisnya membuat ia mudah disukai siapa saja, bahkan orang yang baru dikenalnya. Termasuk Vales dan Pajek yang sudah lama berteman dengannya.
Namun kali ini, Vales hanya menatapnya dengan wajah sangar. Tatapannya tajam, penuh amarah yang tak jelas ditujukan pada siapa. Pagi ini ia sedang bad mood, dan siapapun yang mengusiknya bisa kena.
“Lo pada kenapa sih anjir?” Kenzie masih ketawa, walau terasa canggung melihat aura tegang di antara mereka. “Pagi-pagi muka udah sangar semua. Santai, brooo… santai.” Ia merangkul Pajek lebih erat, mencoba menghibur, tapi tak mendapat reaksi.
“Vales mau bangun Gaskar lagi,” kata Pajek akhirnya, dengan nada getir.
Seketika tawa Kenzie berhenti. Matanya membesar. “Wait… lo serius, Les? Bukannya Gaskar udah bubar dari kapan tau ya? Emang boleh?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Vales hanya mendengus. “Nanti gue obrolin lagi sama mantan anak-anak Gaskar. Pulang sekolah, kita kumpul.” Suaranya pelan, tapi tegas.
Ia lalu melangkah pergi, meninggalkan dua sahabatnya yang masih terdiam penuh tanda tanya.
Pajek menunduk, mengusap tengkuknya gelisah. “Kenapa tiba-tiba jadi kayak gini, ya? Bukannya dulu dia paling anti ikut tawuran?” gumamnya.
Kenzie hanya bisa mengangkat bahu. “Entahlah, bro. Tapi kayaknya Vales udah beda sekarang.”
Siang itu, di belakang sekolah, ada sebuah warung kecil. Tempat itu sudah lama jadi sarang anak-anak bolos. Bangkunya reyot, cat dindingnya terkelupas, tapi selalu penuh. Anak-anak dari berbagai sekolah sering nongkrong di sana. Ada yang sekadar minum kopi, ada yang main gitar, ada juga yang merokok sambil bercanda.
Di sana, Petra, salah satu mantan anggota Gaskar, duduk santai memainkan gitar. Jemarinya luwes memetik senar, menciptakan nada sendu yang kontras dengan suasana riuh warung.
Tiba-tiba, bayangan Vales muncul. Ia masuk ke warung dengan langkah tenang, matanya menatap lurus ke depan, penuh wibawa.
“Dari mana lo? Tumben main kesini,” sapa Petra sambil terus memainkan gitar.
“Dari kelas. Emang ada larangan buat gue dateng kesini?” jawab Vales datar, lalu duduk di kursi sebelahnya. Dengan santai, ia mengangkat kaki, menaruhnya di atas paha Petra.
Petra mengangkat alis, sedikit kaget. Tapi yang lebih mengejutkan lagi adalah ketika Vales mengeluarkan sebatang rokok dari saku, menyalakannya, dan mulai mengisapnya perlahan.
Petra menatapnya lama. “Lo… ngerokok, Les?”
“Hm,” hanya sebuah deham pendek sebagai jawaban. Asap putih keluar dari bibirnya, melayang-layang di udara.
Petra tersenyum miring. “Baru kali ini gue liat lo kayak gini. Ada apa sih?”
Vales tidak menoleh. Ia menatap kosong ke depan, lalu membuka mulut. “Bilangin anak-anak di sini. Pulang sekolah nanti kumpul di rooftop gedung kosong dekat lapangan tembak.”
Petra berhenti memetik gitar. “Ngapain?”
“Udah, lo kasih tau aja. Yang sering nongkrong di sini aja. Jangan sampe ada guru yang tau.”
Nada suara Vales begitu serius, seolah tak ada ruang untuk tawar menawar.
Petra akhirnya mengangguk. “Siap, kalau gitu.”
Angin sore bertiup pelan. Asap rokok Vales terus membubung, melukis langit abu-abu di warung itu. Untuk pertama kalinya, orang-orang di sekitarnya menatapnya dengan sorot berbeda.
Vales bukan lagi siswa pintar yang jadi kebanggaan guru. Ia bukan lagi sekadar remaja yang mencoba bertahan di bangku SMA.
Kini, ia adalah seseorang yang hendak membangkitkan sebuah nama besar. Nama yang pernah membuat banyak orang gentar hanya dengan mendengarnya.
Gaskar.
Dan kali ini, Vales bertekad untuk menjadikannya lebih besar daripada sebelumnya.
Entah apa yang akan menanti—kejayaan, atau kehancuran.
YOU ARE READING
VALESKA: Tentang Rindu (on going)
Teen FictionValeska, cowok yang selalu terlihat santai dan tak mudah jatuh cinta, bertemu dengan Rindu-gadis lembut, misterius, tapi memiliki pesona yang tak bisa ia abaikan. Satu malam, satu pengakuan, dan satu senyuman Rindu mengubah segalanya. Dari sorak riu...
