Sketsa Rindu untuk Hujan

By FlorentYuniar

62.3K 1.3K 25

Kisah semusim lalu terajut dalam sebuah kenangan Sesosok malaikat hadir mengantar cerita untukku Di sudut ber... More

PROLOG
SETITIK EMBUN HUJAN
TETES HUJAN TERAKHIR
HUJAN MUSIM LALU
AKHIR SEPENGGAL KENANGAN HUJAN
SKETSA TERAKHIR HUJAN
BUKAN HUJAN YANG PERTAMA
CUKUP SATU KATA BERSAMA HUJAN
HUJAN DI BALIK PAYUNG
TERHITUNG SEBUAH WAKTU
MEMAGUT SECANGKIR RASA
MENGULANG HUJAN
HUJAN DI MUSIM PANAS
SEGARIS EMBUN HUJAN
BERLINDUNG PADA MALAIKAT
NYANYIAN SUNYI MALAIKAT
PENA DALAM SKETSA
PELANGI DI BAWAH HUJAN
UNTAIAN RINAI HUJAN
SEBELUM HUJAN BERHENTI TURUN
AKHIR DALAM KEHIDUPAN
EPILOG
Thanks To :

KEMATIAN, CINTA, DAN HUJAN

1.5K 44 0
By FlorentYuniar

“Aku menanggung penyesalan seumur hidupku ini. Memilih melupakan dan tak menggubris kesempatan terakhir yang ternyata penting bagiku. Kematian yang tak pernah kuharapkan.” ~ Reyn

Dedaunan membelai lembut ranting-ranting kering. Angin kering berhembus lembut. Dan nuansa hangat menjadi atmosfer kota ini. Suhu  panas menunjukan dirinya di siang ini. Di akhir penghujung musim hujan ini—musim untukku mengenang, aku ingin menghabiskan waktu terakhirku untuk mengenang semuanya tentang hujan.

Namun, diriku hanya masih tetap terduduk tenang di sudut jalan. Sebuah kursi yang kesepian di sebuah halte yang sedang menyambut musim panas ini. Entah sejak kapan aku terduduk di sini, namun sesuatu membuatku kembali tergugah.

Seorang wanita yang terlihat seumuran dengan ibuku, duduk di sampingku. Mendekap erat tasnya di pangkuannya, mungkin tengah menunggu sebuah angkutan berhenti untuk segera ditumpanginya. Setelah sekian lama, wanita itu mulai tampak gelisah menunggu. Sedang, diriku entah menunggu apa di sini. Wajahnya sedikit panik dan memucat, segera dirinya bangkit berdiri dan mencoba melangkah ke depan—mendekat ke sisi jalan.

Sebuah klakson mobil, membuatnya terkejut. Dirinya terhuyung berjalan mundur. Aku tahu dirinya ingin menyebrang jalan ini. Segera aku mendekatinya, mengulurkan tanganku untuk menopangnya berdiri. Dan dirinya mulai sedikit tenang.

“Apa anda baik-baik saja?” tanyaku mencoba mengetahui keadaannya.

“Oohh.. Terima kasih.”

Matanya terlihat berkilat, selaput bening tepat di matanya—dirinya berusaha keras untuk menahan tangisnya.

“Apa anda masih ingin menyeberang jalan ini?”

“Saya harus menemui anak saya. Saat saya hubungi untuk menjemput saya di sini, dia tampak tak percaya. Waktu saya tidak banyak. Tolong bantu saya.” suaranya terdengar serak dan berat.

Aku tak mengerti apa yang terjadi. Aku bahkan belum mengetahui siapa dirinya, apalagi untuk menemui anaknya untuk dirinya. Aku hanya diam, tanpa bisa menjawab untuk menerima atau menolak permintaannya.

“Kumohon, bantu saya. Katakan padanya saya akan menunggu di sini, sampai dia datang.”

Wanita itu mulai menangis, bahunya berguncang, dan suaranya mulai tersedu-sedu. Tangannya terulur ke arahku, menyerahkan secarik kertas putih. Aku menerima itu, tanpa sempat kuketahui apa isi kertas itu.

“Tolong hubungi dan temui dia. Saya akan kembali duduk di sini, menunggunya sampai dia datang.”

Aku hanya mengangguk, menunjukan rasa iba pada wanita itu.  Menyeberangi jalan menuju telepon umum di seberang jalan. Tanganku terangkat untuk meraih gagang telepon itu, jari telunjukku mulai menunjuk dan menekan angka di sisinya. Dan tak lama terdengar suara nada sambung.

Kepalaku kembali tertoleh pada wanita itu, dirinya masih duduk terdiam. Tatapan berharap memantul ke segala arah pandangannya. Namun, aku tak kunjung mendapati suara dari nomor yang kuhubungi. Sesibuk apa waktu seorang anak untuk ibunya?

Kucoba sekali lagi untuk menghubunginya, namun hasil yang kudapatkan nihil untuk mendapat kepastian ini. Saat aku kembali menyeberang jalan, menuju halte tempat wanita itu masih terduduk. Wanita itu mulai berlari ke arahku. Mengguncang lembut bahuku, saat aku sampai di hadapannya.

“Apa dia akan datang?” tanyanya sebelum aku sempat menjelaskannya.

“Nomor itu tidak aktif. Mungkin ada nomor lain yang bisa dihubungi atau alamat yang biasa ditinggalinya?”

“Dia mungkin sibuk bekerja. Dia bekerja paruh waktu di sebuah kafe kopi. Saya tak tahu nama tempat itu. Sedangkan, selama ini dia tidak pernah tinggal bersama saya, dia memilih tinggal di luar. Kuharap kau mau membantu saya. Waktu saya tinggal sebentar.”

“Kenapa harus secepat itu? Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Kau akan tahu nanti. Tolong bantu saya.”

Tangannya terangkat, mengelus lembut pipiku. Matanya mulai terlihat berair lagi. Dirinya masih terus berharap. Mungkin benar waktunya tidak sebanyak yang kumiliki.

Langkahnya terlihat terburu-buru, matanya mencari-cari ke segala arah pandangan yang dilihatnya. Hingga aku perlu berlari untuk mengikutinya. Sampai di seberang jalan, di seberang sebuah kafe kopi kecil—kafe di mana aku kehilangan payung hitamku di sana.

Wanita itu mulai tampak lega memandang kafe itu dari kejauhan. Dan kucoba memberanikan diri untuk menanyakan tempat anaknya itu bekerja.

“Apa itu tempat kerjanya?”

“Ya, dulu dia pernah mengatakannya pada saya. Tapi, entah dia masih bekerja di sana atau tidak.”

Matanya masih terus memandang kafe itu. Kakinya mulai melangkah ke depan, dan aku hanya bisa mengikutinya. Saat tepat di depan pintu kafe itu, wajahnya mulai ragu untuk masuk.

“Saya pernah datang ke sini. Bukan masalah untuk mencoba bertanya terlebih dulu.” kataku mencoba meyakinkannya.

Saat tepat di ambang pintu, wajahnya mulai percaya untuk mencari anaknya di sini. Kami memesan sebuah meja, di sisi jendela kafe ini. Meja di mana aku pertama kali duduk di sini, di sisi tulisanku di dinding—mencari keberadaan payung hitamku.

Seorang pelayan wanita datang menghampiri meja kami, meletakkan sebuah menu di hadapanku. Wanita itu mulai bangkit berdiri, mencengkeram lembut lengan pelayan itu.

“Apa anak saya di sini?”

“Siapa maksud anda? Sebaiknya anda segera memesan.”

“Di mana Reyn? Anak saya.”

“Oohh.. Maksud anda Reyn? Dia sudah tidak bekerja di sini, dia meminta resign kemarin. Mungkin dia ingin melanjutkan sekolahnya atau bekerja di tempat lain.” jawab pelayan itu dengan tenang, mencoba memberikan jawaban kepada wanita di hadapannya ini.

“Apa ada yang ingin anda pesan?” lanjutnya lagi, mencoba bersikap ramah.

Wanita itu kembali terduduk begitu mendengar jawaban tentang keberadaan anaknya. Matanya kini menatapku, yang semenjak tadi hanya diam.

“Terima kasih, atas bantuanmu. Saya harus pergi sekarang, tapi sebelumnya saya akan menitipkan pesan ini untuk anak saya. Kuharap kamu masih mau membantu saya untuk menyampaikan ini untuk yang terakhir kalinya. Terima kasih.”

Tangannya terulur ke atas meja, menyeret sebuah kertas ke hadapanku. Kini wanita itu mulai bangkit berdiri, menenteng tasnya, dan berjalan terseret keluar kafe dan pergi. Tanpa sempat aku mengatakan apa pun kepadanya.

Aku memandang pelayan yang masih berdiri di sisi meja, di hadapanku sekarang ini.

“Aku akan memesan nanti.”

Pelayan itu segera meninggalkan tempatku. Dan mataku tertuju pada jam dinding di dekat bar. Sepertinya, waktu yang kumiliki masih banyak untuk sekedar membaca surat itu. Tanganku meraihnya, membukanya perlahan.

Selamat tinggal, anakku..

Hanya satu kalimat untuk mewakili semua perasaan wanita itu. Perasaan cinta untuk anaknya, cinta yang melebihi apa pun sebelum akhirnya dia yang pergi.

Badanku terasa lelah untuk menopang segala pikiran di kepalaku, segera kusandarkan kepalaku untuk sejenak terebah di atas meja. Betapa beruntungnya anak  wanita itu, mempunyai ibu yang sebelum pergi ingin bertemu sejenak.

Seseorang menarik kursi di hadapanku, lalu duduk. Memandangku yang tengah kelelahan.

“Belum ada yang mengantar payung hitammu ke sini.”

Aku segera menegakkan tubuhku untuk memandangnya dengan jelas.

“Tempat ini adalah tempat penyesalanku, sungguh terkutuk. Karena baru saja seorang wanita juga mengalami penyesalan pada anaknya di sini.”

“Apa kata wanita itu untuk anaknya?” suaranya mulai terdengar pelan. Dialah pelayan pria yang melayaniku untuk pertama kali kedatanganku ke sini. Pelayan yang tak peduli pada payung hitamku yang hilang di kafenya.

“Sekarang apa pedulimu? Payungku tak kunjung ditemukan di sini, dan sekarang kau mencoba peduli pada orang lain yang tak kau kenal.” suaraku mulai meninggi.

“Sekarang tolong katakan, apa kata wanita itu untuk anaknya? Waktu istirahatku tinggal 5 menit lagi atau kau memilih untukku mengurungmu di sini hingga jam kerjaku selesai?” suaranya terdengar cemas menunggu jawabku.

“Sekarang pertanyaan yang mendasari semua. Apa kau adalah anaknya?”

Kini aku tak peduli siapa nama pelayan itu yang kemungkinan besar sama seperti anak wanita tadi. Yang kubutuhkan adalah jawabannya sekarang. Matanya mencari-cari, mencoba memilih jawaban yang tepat untuk bisa dijelaskan.

“Dia pergi, karena anaknya tidak ingin bertemu dengannya. Karena waktu yang dimilikinya hanya sebentar, sementara anaknya bersembunyi dan menolak ibunya sendiri. Yang bisa diucapkannya sekarang hanya selamat tinggal, anakku. Mungkin saja dirinya masih setia menunggu anaknya di halte, sebelum seorang yang lain menjemputnya.” jelasku tanpa menunggu jawaban darinya.

Kini kulihat dia mulai mengerjap, menyadari semua yang telah dilakukannya. Napasnya tercekat, tanpa bisa mengucapkan sepatah kata apa pun. Segera dirinya bangkit, melepas celemek yang melingkar di pinggangnya, lalu berlari keluar kafe dengan membanting pintu di hadapannya dengan kuat.

Saat kulihat dari sisi jendela, hujan lebat turun tanpa peduli pada apa yang baru saja terjadi, di siang hari di suhu yang tinggi di awal semua penyesalan terjadi. Kilat menyambar di langit, seakan ingin menunjukkan kemegahan petir setelahnya.

Namun, dia terus berlari menerobos hujan. Mencoba menyusuri jalan yang dilalui ibunya, untuk bertemu dengannya. Aku memandangnya bersama hujan.

Seorang pelayan wanita yang sebelumnya sudah datang menawari menu padaku, berlari mencoba mengejar dan menghentikan dia.

“Reyn.. Kau masih bekerja!!” serunya tanpa digubris oleh sang pemilik nama. Namun, dia segera membungkam mulutnya setelah memandang ke arahku.

Aku kembali meneguk sebuah kenangan seperti di awal aku datang ke sini. Kehilangan.

Langkahku kembali menyusuri jalan pulang, meninggalkan secarik kertas wanita itu di atas meja. Dan mencoba melirik sekilas ke halte.

Kudapati dia tersungkur di tanah, dirinya menangis tanpa bisa dicegah. Tubuhnya berguncang dalam tangis. Aku pun sama basahnya dalam kepiluan. Kulihat sebuah payung hitam mewah itu tergeletak di dekatnya, sementara di halte itu tak ada seorang pun selain dirinya.

Aku tahu Kyle tak ingin terlalu lama membuat dirinya menunggu. Sama sepertiku dan Reyn, Kyle tak akan memberikan kesempatan.

Tanpa tahu dan sebab yang pasti, hujan mencari tahu. Urung untuk dilakukannya namun Reyn jauh mendapat kesempatan itu, dirinya hanya mampu bersembunyi—tak berani menghadapi kenyataan ini.

Dan mulai kusadari sekarang, hujan kembali menjadi saksi cinta dan kematian milik orang lain. Dan hujan telah memiliki semuanya, lengkap bersama Kyle, malaikat kematianku.

©FYP

Continue Reading

You'll Also Like

386K 33.9K 54
jatuh cinta dengan single mother? tentu itu adalah sesuatu hal yang biasa saja, tak ada yang salah dari mencintai single mother. namun, bagaimana jad...
6.3K 324 97
Step Out,We Are Stray Kids YOU MAKE STRAY KIDS STAY
Hostium (END) By Keila

General Fiction

1.2M 57.2K 47
Reanka adalah gadis pendiam dengan sejuta rahasia, yang hidup di keluarga broken home. Di sekolahnya ia sering ditindas oleh Darion Xaverius. Reanka...
694 147 16
"gue tulus sayang sama lo.." ➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖ ⚠️bahasa non baku ⚠️harsh word project iseng nih krn gabut:( doain jalan mwah.. kuy mampir zeyenk -soobin ▪...