Sudah hampir seminggu kami tidak berbicara, rasanya sangat menyiksa sekaligus menjengkelkan. Semenjak kejadian itu hubungan kami jadi canggung, jika sudah ingat begitu aku hanya bisa merengek sambil memakan es krim langsung dari wadahnya sendirian.
Hari ini restoran tidak sepenuh biasanya, tapi pesanan untuk dessert lumayan banyak. Aku sedang menunggu macaron untuk matang sambil mencuci spatula dan loyang-loyang.
"Aleksey, menurut kamu sausnya enak pakai peanut butter apa karamel ya?"
Tapi orang yang kutanya hanya diam, ia bahkan tidak mendengarkan. Aleksey sering melamun akhir-akhir ini, pekerjaannya tetap bagus tapi ia jadi sering menjatuhkan pisau ataupun loyang-loyang.
"Aleksey", kupegang lengannya.
"Oh iya maaf, bisa tolong cek macaron di oven?, udah kamu bikin kan?", tanya Aleksey sedikit kewalahan.
Kupandangi ia dengan aneh, aleksey kembali melelehkan cokelat untuk menghindari tatapanku.
Ia seharusnya sudah akan berhenti bekerja besok, karena Aleksey akan pulang ke Russia lusa untuk mempersiapkan pernikahannya disana.
Perhatianku teralih saat melihat loyang-loyang berisi macaron, hatiku mencelos saat melihat macaron itu tidak berkaki sama sekali, apakah aku melakukan kesalahan?.
Ini gawat karena permintaan magic chocolate flower dessert yang berisi macaron dan buah-buahan segar dan disiram saus anglaise sangat meningkat akhir-akhir ini. Stok macaron sudah hampir menipis jika ini gagal berarti kami harus lembur untuk membuatnya lagi.
Dengan tangan bergetar kuambil loyang panas itu menggunakan kitchen towel. Benar saja, macaronnya lebih terlihat seperti dot-dot bulat besar yang aneh, sama sekali tidak menggiurkan.
Dengan hubunganku dan Dewa yang sedang memburuk dan kesalahan seperti ini, kakiku sudah terasa lemas membayangkan sangsi apa yang akan ia berikan padaku.
"Apa ini?!"
Teriakan Dewa dibelakang telingaku membuatku sedikit terlonjak, jantungku berdegup kencang. Aku merasa amat bersalah.
"Kamu yang buat?, bisa buat meringue nggak sih?!, ini pasti salah waktu kamu kocok putih telurnya!, harus sampai mengkilat!", Dewa berteriak tepat didepan mukaku.
"Aleksey!!"
Badanku terasa menegang saat Dewa memanggil Aleksey, memang semua yang kulakukan harusnya dibawa pengawasan dia. Aku merasa tidak enak karena kesalahanku Aleksey jadi ikut terkena imbasnya.
"Yes chef", jawab Aleksey cepat.
Dewa meraih kasar macaron langsung dari loyang dan menunjukkannya didepan mata Aleksey.
"Apa ini?, kamu jelas tahu popularitas dessert ini lagi naik, hampir semua customer ke Gold Feather cuma untuk pesan ini sekarang, dan kamu nggak mampu untuk supervise Maia buat macaron yang benar??", Ucapan dingin Dewa terasa menusuk.
Aleksey masih diam menunduk, aku tidak bisa melakukan apa-apa karena memang aku yang salah. Aku tidak bisa tiba-tiba jadi pahlawan kesiangan.
Mata kami semua membelalak saat Dewa menarik kerah double brested jacket Aleksey dan mendesis didepan mukanya.
"I told you to supervise her"
Setelah itu Dewa melempar Aleksey dengan mudah kelantai, punggungnya menabrak kitchen counter cukup keras.
Aku sudah hampir ingin bergerak menolongnya tapi Aleksey sudah terbangun lebih dulu dan malah merapihkan apronnya.
"Yes chef!", jawab Aleksey lantang.
Tatapan Dewa sekarang sudah sepenuhnya teralih padaku, mukanya sangat dingin dan itu membuatku semakin merasa canggung.
"Get back to work", ucap Dewa lugas.
"Yes chef!"
Segera kuambil semua bahan-bahan untuk membuat macaron, Aleksey kelihatannya sudah kembali fokus dan ikut membantuku.
Meskipun kami jadi lebih banyak bekerja dalam diam tapi teguran Dewa tadi membuat kami bekerja secara efisien dan cepat.
Sudahlah mungkin aku memang harus lembur dibanding merengek lagi sendirian dikamar sambil memakan es krim sampai mengeruknya kedasar wadah.
******************************
Sekencang mungkin kukejar aleksey yang sudah keluar dari lingkungan Gold Feather, aku harus tahu apa yang membuatnya kehilangan fokus seperti itu.
Semua orang tahu bagaimana kualitas Aleksey di bidang patisserie, ia bukan orang baru dan bisa dibilang senior. Pasti ada satu hal yang sangat mengganggunya.
"Alyoshaa!!", teriakku sambil ngos-ngosan.
Aku sangat bersyukur saat Aleksey langsung menengok, ia berjalan cepat sekali. Napasku hampir habis karena mengejarnya, aku berjongkok sebentar saat ia berjalan mendekat kearahku.
"Kenapa mayenka?", tanya Aleksey penasaran.
"Kamu yang kenapa??", tanyaku balik.
Ia kelihatan bingung dan mengulurkan tangannya padaku.
"Something's wrong?", tambahku penuh simpati meraih tangannya.
Mukanya mendadak tegang lalu berubah sedih dengan cepat. Matanya sendu, ini pertama kalinya kulihat ia tidak seceria biasanya, Aleksey seperti sedang menahan tangis.
"Did coffee sounds okay?, aku tau cafe yang buka 24 jam disekitar sini", ujarku lembut.
"Yeah, coffee sounds okay..", jawab Aleksey lemah.
Kutepuk pundak Aleksey, bagaimanapun juga ia seniorku, ia mengajarkan banyak hal padaku dan sangat sabar meladeni sifat keras kepalaku.
Rasanya lebih seperti menenangkan kakak laki-lakk yang sedang sedih, aneh melihatnya sangat diam seperti ini.
Kami memesan espesso dan duduk di pojok ruangan, cafe sudah lumayan sepi, hanya ada dua pasangan yang mengobrol tepat disebelah meja kami.
"Ada yang mau kamu ceritain?", tanyaku hati-hati.
Aleksey tidak meminum kopinya sama sekali, ia hanya menggenggam cangkirnya dengan erat.
"Katja batalin pernikahan kita..", suaranya seperti tercekat.
Tidak bisa kutahan pekikan kaget. Pasti rasanya sangat sulit untuk Aleksey, ia membicarakan tentang pernikahannya setiap hari. Aku bahkan membantunya memilih cake pengantin yang bagus.
Lidahku terasa kelu, masalah seperti ini jauh diluar jangkauanku. Aku takut salah bicara, tapi aku sangat ingin membantu.
Apakah semua kitchen staff lain sudah tahu?, seingatku ia sangat dekat dengan Jaka dan Adam.
"Maaf, mungkin ga seharusnya aku nanya..", ujarku sedih.
"Nah, its okay.."
"No..You are not.."
"Yeah, i am not..", bisik Aleksey sedih.
Ia mulai menyesap espressonya pelan lalu menghela napas panjang. Mungkin lebih baik jika Dewa ada disini, ia akan lebih tahu harus bagaimana.
"Do you want to talk about this?", tanyaku lagi.
"Maybe..I dont know, maksud aku kita berdua udah sepakat untuk menikah, cuma satu bulan lagi, a whole fucking month, dan dia batalin gitu aja", Seru Aleksey frustasi.
"Mungkin dia punya alasan.."
"No she's cheating behind my back, harusnya aku tau", timpal Aleksey ketus.
"What a cow..", ujarku kesal.
"Irasional, kenapa dia setuju untuk nikah dari awal kalau akhirnya dia selingkuh gini", Tambah Aleksey.
"Dia nggak pantes dapetin kamu", ucapku jujur.
"Entah..I love her dearly..You know, shit happens.."
"We love you alyosha"
"Menurut kamu chef masih bisa terima aku?, aku nggak mungkin pulang ke Rusia", Ujar Aleksey putus asa.
"Dia nggak punya alesan untuk nolak kamu, semua tau reputasi kamu alyosha"
What am i gonna do with my life?", kali ini matanya memancarkan kesedihan yang amat sangat.
Hatiku ikut terasa sakit karenanya, aku selalu benci melihat sinar jenaka yang bisa mendadak hilang begitu saja dari orang yang paling ceria, karena satu-satunya hal yang bisa membuat mereka seperti itu adalah rasa sakit yang hampir-hampir tidak bisa mereka tanggung lagi.
Susah payah kucari kalimat yang masuk akal, aku payah dalam memberikan orang lain nasehat.
"Kamu tau Aleksey, aku pernah baca ini somewhere in the internet, mau denger?", tanyaku dengan nada selembut mungkin.
"Sure, hatiku aja kok yang hancur, kuping aku masih berfungsi dengan baik"
Kutarik napas dalam-dalam sebelum membuka suaraku lagi.
"Aku tau kamu kehilangan seseorang dan itu sakit..", ujarku memulai kalimat, Aleksey seperti tertarik, "Kamu mungkin kehilangan dia tiba-tiba, nggak terduga sama sekali. Atau bisa jadi, kamu udah mulai kehilangan serpihan-serpihan perasaan dia, sampai satu hari, nggak ada yang tersisa.."
"Go on im listening..", respon Aleksey cepat.
"Kamu mungkin udah kenal dia selama yang bisa kamu ingat, atau mungkin ternyata...Kamu nggak 'kenal' dia sama sekali", ucapanku tercekat, entah kenapa aku jadi ingat Dewa.
Muka Aleksey juga ikut menegang, tangannya terkepal erat dan ia seperti susah payah menahan emosinya.
"Disisi lain, rasanya nggak relevan banget-Kamu sama sekali nggak bisa mengontrol seberapa dalam luka yang bisa diciptakan manusia lain terhadap diri kamu.."
Kupegang tangan Aleksey lembut, berusaha memberikannya support semampuku. Aku ingin tahu bahwa aku ada disini untuknya, aku peduli dengan keadaannya.
"Go on Maia, go on..", mata Aleksey memerah.
Hatiku terasa hancur melihat seniorku seperti ini. Mungkin jika hal yang sama terjadi padaku, aku tidak akan bisa sekuat dia, aku tidak akan bisa bekerja atau bahkan tidak repot-repot keluar rumah.
"Itulah kenapa..", suaraku tercekat, kucoba mengatur emosiku, menarik napas dalam-dalam, "Itulah kenapa aku disini bukan untuk kasih tau kamu, masih ada hari esok. Kalau matahari masih tetap bersinar, atau masih banyak ikan dilaut. Kalau ada hal yang pingin aku bilang mungkin ini ; gapapa kok untuk ngerasa tersakiti sebanyak yang bisa kamu tanggung. Apa yang kamu rasain sekarang bukan cuma sepenuhnya valid, tapi justru kamu 'butuh' itu-karena rasa sakit itu yang bikin kamu ngerasa lebih manusiawi.."
Aleksey kini sudah membenamkan wajahnya dalam-dalam diatas jaketnya dimeja, aku tahu ia menangis, dan aku tidak ingin mengganggunya karena itu.
Kuusap pelan lengan Aleksey, sejujurnya air mataku bisa turun kapan saja, tidak ada yang lebih menyedihkan dari melihat laki-laki dengan prinsip kuat, menangis seperti ini. Siapapun akan terenyuh.
"Aku nggak bisa janjiin semuanya bakal baik-baik aja, tapi aku berani bilang, cepat atau lambat atau kapapunlah itu...Semuanya bakal oke", Kupaksakan untuk tersenyum semanis mungkin.
Saat Aleksey mengangkat wajahnya matanya sudah sembab, tapi aku sudah bisa melihat sinar itu kembali terpancar diiris biru terangnya.
"Untuk sekarang, hal yang bisa kamu lakuin adalah ambil semua waktu yang kamu butuhin. Take all the time you need..", ujarku sebagai penutup.
Ia tersenyum simpul padaku. Aku kaget saat ia tiba-tiba berdiri dan menarik tanganku keluar dari cafe.
Kami menimbulkan kegaduhan dimalam yang sudah sepi, sepatuku menginjak genangan air yang menyiprat liar disekitar kami.
Aleksey tertawa terbahak-bahak dan mendorong badan kecilku, kupukul lengannya keras.
Angin malam terasa sangat dingin, kami memutuskan untuk berjalan menuju flat Aleksey yang tidak jauh dari sini, aku perlu tempat aman untuk menunggu taksi.
Tangan Aleksey melingkari pundakku dan aku tidak mempermasalahkannya, ia lebih banyak bercerita tentang Dewa, sebisa mungkin kami menghindari obrolan tentang katja.
Langkah kami terhenti saat ingin menaiki tangga diflat Aleksey. Ada pria yang kelihatan tertidur sambil duduk menundukkan kepalanya.
Aleksey maju terlebih dahulu dan mengintip dari arah bawah. Aku sebenarnya sudah bisa menebak dari postur tubuh dan bau parfumnya. Tapi kenapa ia ada disini?.
"..Chef?!", Pekik Aleksey tidak percaya.
Dewa terbangun dengan muka datar, ia mengerjapkan matanya malas dan menatap kami datar.
"Aku nggak tahu kalian lagi kencan", seloroh Dewa tidak tertarik.
Aku dan Aleksey langsung salah tingkah, aku memang tidak bilang ingin pergi bersama Aleksey padanya tadi, seingatku kami sedang 'bertengkar'.
"Bukan-bukan!", jawab kami bersamaan.
"Nevermind, aku kesini untuk minta maaf udah dorong kamu tadi, Jaka cerita masalah kamu..Aku harap kamu nggak keberatan", suara baritonenya seperti menggema dijalanan sepi ini.
"Hn, salah aku kurang fokus tadi, you just doing your job chef", Aleksey seperti sangat tersanjung.
Secara personal aku tidak bisa membayangkan bagaimana Dewa bisa meminta maaf seperti itu, maksudku sudah berapa lama ia menunggu disana sampai ketiduran?, dan ia tidak marah saat kami datang sangat larut.
Pantas saja semua staff di Gold Feather sangat respect terhadap Dewa. Ia pemimpin yang baik.
"Gold Feather masih butuh kamu, dan aku merasa terhormat kalau kamu mutusin untuk tetap kerja di Gold Feather", pungkas Dewa dengan muka serius.
Angin malam membuat cuaca jadi sangat dingin, tapi aku bisa merasakan hatiku menghangat. Apa yang Dewa ucapkan barusan membuat kami berdua terdiam tidak percaya.
Aleksey berulang kali menatapku dan Dewa tidak percaya. Ada rona kebahagiaan diwajahnya. Lalu tanpa kuduga-duga ia menjabat tangan Dewa erat dengan muka bersemangat.
"Terima kasih Chef!!", pekiknya girang.
Dewa kelihatan canggung tapi ia tersenyum tipis dan mulai berjalan kearahku
"Where does she brough you?", tanya Dewa datar.
"Coffee shop", Aleksey terkekeh saat menjawab itu.
"Typical..", Dewa melirik padaku dan mencubit pipiku kecil.
"You need something stronger", Dewa memberikan goody bag merah yang daritadi ia bawa pada Aleksey.
Dengan wajah penasaran Aleksey langsung membuka goody bag itu. Aku tidak tahu apa isinya tapi muka Aleksey langsung berubah cerah.
"Vodka dan fallout 4?!", ia berteriak girang.
"Like mother Russia, Vodka suit you, kamu punya ps4 kan?, fallout 4 is a good game", jelas Dewa sambil merangkul pundakku.
"Chef, you dont have to do this.."
"No, kita udah diluar Gold Feather, aku cuma sekedar teman, hope it would help you a little", Dewa tersenyum tipis.
"Im gonna call Jaka and Adam for sure!", mood Aleksey sudah sepenuhnya berubah.
"Have fun, aku masih ada 'urusan', harus pulang sekarang", Dewa melirikku dengan muka kesal tapi rangkulannya bertambah erat.
"Thanks chef!, i owe you something!!", Aleksey berteriak dibelakang kami.
Meskipun masih merangkulku Dewa tetap saja diam, ia tidak mengajakku berbicara dan menyeretku berjalan langsung naik mobilnya yang diparkirkan diujung jalan.
Aku jadi tidak berani bertanya saat ia tidak juga menyalakan mesin mobil dan hanya duduk diam.
Bisa jadi ia masih marah, aku juga tidak tahu. Tapi aku jadi sedih lagi kalau memikirkan itu, karena sebelumnya kami berdua sangat dekat menjadi jauh seperti ini terasa aneh. Seperti ada lubang besar dalam diriku yang sengaja kubiarkan terbuka tanpa mau kusentuh karena terlalu takut.
Aku tidak lagi peduli saat airmataku mulai menetes, kututup mukaku dengan kedua telapak tanganku. Bagaimana jika pada akhirnya aku harus mengalami apa yang Aleksey alami?, ini fase terlama kami tidak berbicara sama sekali.
Jelas aku tahu Dewa tidak suka dengan perempuan cengeng, tapi menahannya selama seminggu sangat melelahkan. Dengan adanya Dewa disisiku membuat semua pertahanan yang susah payah kubuat runtuh begitu saja.
Sepertinya Dewa mulai sadar saat tangisanku berubah jadi isakan. Sebisa mungkin kukecilkan suaraku, kutenggelamkan dalam-dalam mukaku dilengan sweaterku.
"Shh, it's okay now", Tangan Dewa mengelus-ngelus puncak kepalaku.
Mungkin air mukaku sudah tidak karuan, tapi kuberanikan juga mengangkat mukaku dan menatap Dewa.
Aku hampir tidak percaya karena mukanya tidak sedingin biasanya, malah ia terlihat sangat khawatir.
Tangannya meraih kedua lenganku dan membiarkanku memeluknya dalam posisi yang canggung ini.
"Aku minta maaf, harusnya kita bisa ngobrolin ini baik-baik", gumam Dewa dipuncak kepalaku.
"Aku janji lain kali kalau ada apa-apa langsung cerita sama kamu", ujarku masih terisak.
Dewa mengangkat daguku dan dengan gerakan yang amat pelan ia mencium kedua kelopak mataku lembut. Hal itu langsung membuat tangisku berhenti dan terkesima karena perlakuannya tadi.
"Jangan nangis, aku bingung harus ngapain", kadang ia terlalu jujur.
Ucapannya langsung membuatku tertawa kecil. Melihat muka khawatirnya saja sudah membuatku lupa akan masalah kami yang tadi, mungkin aku berlebihan, tapi berada disampingnya membuatku sedikit merasa dibutuhkan dan dimiliki.
"Dont you ever do that again, aku takut banget kamu nggak akan ngobrol lagi sama aku", rengekku sambil mencubit pelan lengan Dewa.
"Maaf, kalau kemarin-kemarin kita ngobrol, aku masih kesel, yang ada nanti aku malah marah-marah sama kamu, males, buang-buang tenaga", Dewa terkekeh pelan.
"Yeee, sangkain kasian sama akunya, udah ah aku naik taksi aja!", seruku kesal.
"Sekarang udah jam satu pagi Maia, pinter sedikit kenapa sih", balasnya sarkastik.
Tangan Dewa terulur untuk mengunci kedua pintu kami, rasanya lega sekali melihat ia seprotektif ini lagi kepadaku.
Kuraih lengannya dan memeluknya erat, awalnya ia tidak mempedulikan itu, tapi saat ia mulai menyalakan mesin mobilnya Dewa risih juga. Ia mulai menarik tangannya yang masih kurangkul erat.
"Maia, lepas", perintah Dewa tidak sabar.
"Nggak!", ujarku keras kepala.
"Maia, you act like a five a year old, stop it!", Dewa berusaha keras melepaskan rangkulanku.
"Noo, i dont want to!!", balasku tidak kalah sengit.
"Yaudah sana naik taksi aja!", ancam Dewa putus asa.
Mataku membesar saat ia mengucapkan itu, jika ia ingin bermain ancam-ancaman ia bermain dengan orang yang salah. Kuambil handphone dari ranselku dan mulai mencari kontak Papi.
"Halo, pi..", ujarku dengan suara sememelas mungkin.
Secara refleks Dewa langsung berusaha merebut handphoneku, ia tahu aku akan mengadu pada Papi. Kuulurkan handphoneku tinggi-tinggi sambil menjulurkan lidah.
"Pi, masa aku.."
Ucapanku terhenti karena Dewa sudah berhasil merebut handphoneku terlebih dulu. Ia menatapku kesal dan berdeham pelan.
"Maaf pi, ini maia saya suruh lembur. Ada hal yang harus saya ajarkan..Iya, manja memang anaknya..Bukan masalah besar, kalau boleh biar Maia menginap disini udah terlalu malam..Iya, maaf sebelumnya"
Mataku membesar saat Dewa melemparkan handphoneku ke jok belakang. Ia memanfaatkan aku yang masih diam untuk mulai menjalankan mobilnya.
"Kita kemana?", tanyaku takut-takut.
"Pulang", jawabnya singkat.
"Pulang kemana?"
"Kerumah aku"
"Kok gitu?"
"Kan aku udah bilang ada yang mau aku ajarin", Dewa menyeringai padaku.
"Ajarin apa?", tanganku mulai terasa dingin.
"Nanti juga kamu tau", jawab Dewa cepat dengan seringaian yang sama.
Wooot wooott, its new years guyss!!, selamat tahun baru!, sengaja sih update pas pergantian tahun baru, selain biar kerasa momennya, alasan kain saya juga mau percepat sweet blackout. Makanya kalau yang nggak mau ketinggalan silahkan masukkan kedalam library yaa.
Karena rencananya saya ada project serius yang saya harap bisa saya mulai kerjain awal tahun ini, jujur masalah tulis menulis saya payah multitaskingnya -_-
See you soon, lof you all to the uranus and back!, xD
Did i being too rude?, nooo, i lovee you guys! :*