Not A Wrong Bride (#4 Wiratam...

Oleh Megathorn

1.4M 71.4K 17.7K

[End] Gagal menikah, kehilangan kedua orangtuanya. Sebenarnya kesalahan apa yang telah ia perbuat sampai mend... Lebih Banyak

Pembuka
.Prolog.
Not A Wrong Bride || 01. Lamaran
Not A Wrong Bride || 02. After Marriage
Not A Wrong Bride || 03. Honeymoon
Not A Wrong Bride || 04. Belajar
Not A Wrong Bride || 05. Berdebat
Not A Wrong Bride || 06. Rencana
Not A Wrong Bride || 07. Bertemu
Not A Wrong Bride || 08. Hukuman
Not A Wrong Bride || 09. Tuduhan
Not A Wrong Bride || 10. Ayo Cerai
Not A Wrong Bride || 11. Perubahan
Not A Wrong Bride || 12. Bunglon
Not A Wrong Bride || 13. Salah Paham
Not A Wrong Bride || 14. Pesta
Not A Wrong Bride || 15. I Love You
Not A Wrong Bride || 16. Weekend
Not A Wrong Bride || 17. Bawaan Bayi
Not A Wrong Bride || 18. Senang
Penting!
Not A Wrong Bride || 19. Panik
Not A Wrong Bride || 20. Emosi
Not A Wrong Bride || 21. Lemah
Not A Wrong Bride || 22. Menjenguk
Not A Wrong Bride || 23. Kabar Duka
Not A Wrong Bride || 24. Rapuh
Not A Wrong Bride || 25. Ngidam
Not A Wrong Bride || 26. Puding
Not A Wrong Bride || 27. Time's Up
Not A Wrong Bride || 28. Pecel
Not A Wrong Bride || 29. Makan Siang
Not A Wrong Bride || 30. Baby Sister
Not A Wrong Bride || 31. Fakta Baru
Not A Wrong Bride || 32. Perdebatan
Not A Wrong Bride || 33. Panas
Not A Wrong Bride || 34. Ancaman
Not A Wrong Bride || 35. Pilihan
Not A Wrong Bride || 36. Serangan
Not A Wrong Bride || 37. Little Princess
Not A Wrong Bride || 38. Kacau
Not A Wrong Bride || 40. Cerita
Not A Wrong Bride || 41. Hampir Gila
Not A Wrong Bride || 42. Flashback
Not A Wrong Bride || 43. The Stranger
Not A Wrong Bride || 44. Andil Regan
Not A Wrong Bride || 45. The Mission
.Epilog.
Stuck With Beautiful Princess
Extra Part
Falling for Weird Boss
REZA & ELENA

Not A Wrong Bride || 39. Permintaan

25.6K 1.5K 155
Oleh Megathorn

Bonus up!

Harus ramein ya!

Happy Reading!
.
.
.

Satu minggu berlalu, selama itu pula dia mencoba membujuk istrinya. Setelah penolakan Elena usai terbangun, wanita itu tidak lagi menolak kehadirannya pun menganggap dirinya ada. Setiap hari dia selalu menjaga istrinya, membawa pekerjaan ke rumah sakit --itupun yang penting saja-- agar bisa merawat istrinya sendiri. Sedangkan sisanya ia limpahkan pada bawahannya.

"Mau aku kupasin mangga?"

Diam. Masih sama seperti sebelum-sebelumnya, Elena tidak pernah menanggapi ucapannya. Sekedar meliriknya pun jarang. Menurutnya, lebih baik mendengar semua cacian dari Elena ketimbang diamnya wanita itu. Ia tidak suka, meski begitu dia pun tidak bisa protes.

Duduk disebelah ranjang, ia mengupas mangga yang dibawakan oleh Ibunya. Ketika hamil, Elena sangat menyukai mangga. Entah itu mangga yang belum matang alias masih masam. Ataupun mangga yang sudah matang juga yang dibuat jus.

Mengingat momen-momen yang lalu, rasa sedih kembali hadir. Mau sekuat apapun dia mencoba mengalihkan rasa sedihnya, tetap saja dia tidak bisa. Sama seperti istrinya, dia pun merasa sangat terpukul. Calon putri kecilnya sudah tiada.

Untuk pertama kalinya ketika sudah dewasa, ia menangis di depan ibunya. Memeluk sang ibu sembari menumpahkan segala laranya. Ini kebodohannya, dia tahu itu. Jika saja dia tidak mengabaikan panggilan dari istrinya saat itu, pasti sekarang mereka tengah berbincang hangat ataupun sibuk menyiapkan kamar untuk si kecil.

Dalam waktu singkat, semuanya berubah. Ia pikir, abai sejenak dengan sekitar untuk menemani Tiffany tidak akan berpengaruh bagi masa depannya. Ternyata salah, tak ada satu jam dia berada diruang bersalin, namun dunianya kacau pada saat itu.

Penyesalan memang selalu ada diakhir, yang harus dia lakukan sekarang adalah mendapat maaf dari istrinya juga harus berlapang dada menerima makian dari saudara-saudaranya.

"Sore Kakak ipar, gue boleh masuk nggak?"

Kepalanya mendongak mendengar suara yang tak asing lagi baginya. Gava, dengan kursi roda elektrik-nya masuk kedalam kamar. Adiknya itu sudah sadar satu hari sebelum Elena. Cedera di kakinya cukup parah hingga mengharuskan Gava memakai kursi roda. Walau tidak permanen, Gava tetap ngotot meminta kursi roda elektrik.

"Minta dong," Gava yang sudah berada di sampingnya mencomot satu potong mangga.

Beberapa hari yang lalu, ketika sudah bisa berbicara dengan lancar lagi --tidak merasakan sakit saat bicara-- Gava pun sempat memakinya. Terlebih ketika tahu jiak dia tengah menemani Tiffany saat tragedi ini berlangsung. Namun dihari selanjutnya, adiknya itu sudah tidak lagi mempermasalahkan.

"Marahnya Kak Lena udah cukup nyiksa lo kok Bang, makanya gue maafin biar lo nggak makin stress." perkataan Gava tanpa sadar membuatnya tersenyum. Berbeda dengan Gibran yang masih saja sinis padanya. Sedangkan Galih, sejak bangun pria itu tidak memusuhinya. Suami dari adiknya itu hanya memakinya namun tetap bersikap biasa saja.

"Besok lo pulang, kan Kak? Perlu kursi roda kayak punya gue nggak?"

"Kaki gue normal."

"Kan kali aja lo pengin nyobain. Enak loh, Kak, berasa main mobil-mobilan."

"Tiati kaki lo nggak sembuh, entar."

"Do'a lo jelek amat, Kak."

Bersama orang lain, Elena akan membuka suara. Walau terdengar lemah juga tak bergairah, wanita itu tetap akan merespon orang lain. Seolah menunjukkan jika hanya pada Reza lah dia bersikap berbeda. Bisakah dia mengajukan protes? Tentu tidak. Tidak diusir saja dia sudah bersyukur.

Tok tok tok!

Hampir bersamaan, ketiganya menoleh kearah pintu. Tak lama kemudian muncul seorang wanita dengan senyum terpatri di wajahnya. Ditangannya terdapat buket bunga Lily putih.

"Hai," sapaan itu terdengar canggung. "Bagaimana kabarmu Elena?" sedangkan di detik selanjutnya ia bertanya seolah sangat akrab dengan Elena. "Aku membawakan bunga untukmu, semoga ini bisa membuatmu merasa lebih baik."

Ekspresi Elena tetap sama, datar seolah tidak tertarik dengan semua ucapan wanita yang mungkin bisa dikatakan tengah menjenguknya. Saat bercengkrama dengan Gava pun Elena tidak menunjukkan ekspresi wajah yang lebih hidup. Istri dari Reza ini sudah seperti raga tanpa jiwa, kosong.

"Maaf aku baru bisa menjenguk-mu, sulit untuk meninggalkan anakku sendirian. Ternyata memiliki anak tidaklah merepotkan, aku merasa sangat bahagia setelah anakku lahir."

"Tiff--" teguran dari Reza terpotong ketika Elena membuka mulut.

"Selamat. Aku ikut bahagia mendengarnya." senyum itu, Reza sangat tahu ada sejuta rasa sedih dibaliknya. Memalingkan wajahnya, untuk beberapa saat dia mencari objek lain untuk dilihat selain istrinya. Air matanya bisa lolos kapan saja jika terus memandang sang istri.

"Terimakasih, Lena." senyum Tiffany terlihat begitu lebar, namun di detik berikutnya wanita itu memasang raut wajah sedih. "Maafkan aku Elena, apa perkataan-ku mengingatkan-mu pada mendiang anak-mu? Maafkan aku, Lena..."

"Tuhan sangat mencintai anakku, dia tidak diizinkan merasakan sakit lebih dari ini." Elena menujukkan ketegarannya. Di depan orang lain wanita itu memang akan bersikap demikian. Berbeda ketika malam tiba, dalam keheningan dia menangis. Dan Reza tidak bisa berbuat apapun untuk mengurangi rasa sedih istrinya.

"Anak lo nggak nyariin, Kak? Kasihan kan kalau ditinggal lama," Gava menyeletuk sembari tersenyum lebar. Terlampau lebar demi menutupi rasa tidak sukanya.

"Ayo aku antar kedepan, Fany." Reza pun menambahi. Percakapan diantara kedua wanita ini sudah tidak sehat dan tidak baik jika terus dilanjutkan.

Tiffany tersenyum manis seraya mengangguk. Sebelum beranjak, wanita itu mendekat pada Elena yang tengah duduk diranjangnya. Terlihat membisikkan sesuatu yang bisa memunculkan ekspresi lain di wajah Elena. Tatapan setajam mata pisau Elena menghunus Tiffany. Meski begitu Tiffany tidak terlihat gentar, malah tersenyum kemudian berlalu, tak lupa ia mengajak Reza agar mengantarnya sampai keluar.

"Apa yang kamu katakan pada, Lena?" tembak Reza ketika keduanya sudah keluar. Melihat ekspresi istrinya tadi, dia tahu ada sesuatu yang tidak beres.

"Bukan hal penting, hanya pembahasan yang belum selesai sebelumnya." jawab Tiffany dengan wajah yang meyakinkan.

Langkah Reza terhenti, bertanya pada Tiffany tidak akan menjawab rasa penasarannya. "Dengar Fany, untuk selanjutnya aku hanya membantumu secara finansial. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, katakan pada orangku. Jangan pernah muncul di depan keluarga ku lagi, istriku tidak menyukaimu."

Tatapan tajam Reza seolah tidak berpengaruh pada Tiffany. Masih dengan senyumnya, wanita itu mengangguk mengerti. "Ya, terimakasih Reza untuk semuanya. Seumur hidup aku tidak akan melupakan kebaikan-mu."

Tanpa menjawab, Reza berbalik menuju ruang inap istrinya. Bersamaan dengan dirinya yang membuka pintu, ternyata Elena pun melakukan hal yang sama. Sedangkan Gava yang duduk di kursi rodanya ada di belakang Elena tengah menyengir tanpa dosa. Pasti adiknya itu yang membuat Elena sampai beranjak dari ranjangnya untuk membukakan pintu.

"Bikin repot aja lo," cibirnya seraya menarik kursi roda adiknya agar keluar. Setelahnya dia pun masuk lalu menutup pintu. Padahal Gava masih mengucapkan kata perpisahan.

"Apa yang dikatakan Fany?" Reza bertanya setelah membawa istrinya duduk di ranjang. "Kamu... Terlihat marah."

"Reza?"

"Ya?" kelewat cepat. Sial, hanya karena mendengar Elena memanggil namanya setelah sekian lama, dia merasa sangat senang juga antusias.

"Jika kita bercerai, apa kamu akan bersama Tiffany?"

Sungguh, kata cerai dari mulut Elena adalah hal yang sangat dia hindari. Ia tidak menyangka, setelah sekian lama Elena diam, lalu kalimat pertamanya adalah ini.

"Kita nggak akan bercerai Lena, dan aku nggak akan bersama siapapun kecuali kamu." ucapnya sembari meraih tangan istrinya. Digenggamnya tangan yang mengurus itu. "Kesalahan aku banyak, aku tahu itu. Sungguh aku minta maaf, Lena. Kamu bisa marah padaku, lakukan apapun padaku sesukamu, tapi aku mohon, jangan tinggalkan aku." pintanya sembari mengeratkan genggamannya.

Tidak ada tanggapan. Elena hanya menatapnya dalam diam.

"Kumohon Lena... jangan pernah pergi."

"Aku ingin sesuatu." akhirnya Elena kembali bersuara.

"Apa itu? Akan aku berikan kecuali perpisahan." jawabnya cepat.

"Liburan."

"Okay. Setelah kamu keluar dari rumah sakit, kita liburan. Kamu mau kemana? Eropa? Jepang? Korea? Atau keliling dunia? Kita bi--"

"Sendiri." Elena mendongak, menatap Reza penuh keseriusan. "Aku ingin liburan sendiri, tanpa waktu yang ditentukan."

Dunia Reza terasa runtuh mendengarnya. Liburan dari Elena seperti awal dari perpisahan mereka. Apa yang harus dia lakukan? Apa yang bisa membuatnya mendapatkan hati istirnya kembali?

🍁🍁🍁🍁

TO BE CONTINUE

No Reza, hati Elena masih sama lo tapi bukan berarti dia masih mau sama lo. Hih kesel sendiri aing.

Thanks yg udah spam sampe 1,5. Semangat banget kalian tuh wkwk.

Sampai jumpa dihari kamis, jangan lupa vote sama komen ya!

Lanjutkan Membaca

Kamu Akan Menyukai Ini

3.2M 346K 41
Ambar dan Romi membuat kesepakatan untuk menerima perjodohan mereka. Demi bisa hidup tenang tanpa campur tangan orang tua, mereka menikah, tapi sepak...
138K 6.5K 50
Yumna merasa sial sudah menikah dengan Oksa. Sejak awal pernikahan ini hanya didasari keputusan gegabah saja. Yumna menelan kepahitan atas keceroboh...
1.2M 52.4K 24
Quality: Raw Rate:21+ Status: 27 to 27 Started: 01 September 2016 End: 25 Desember 2016 Bagaimana jika rencana pernikahan yang sempurna, ga...
128K 4.2K 38
​"Selamat datang di neraka yang kuciptakan khusus untukmu, Angela." ​Satu malam berdarah mengubah segalanya. Niat tulus Angela untuk menolong justru...
Aplikasi Wattpad - Akses fitur eksklusif