Marcella & Marcello

By AnnabelleTF

176K 11.1K 170

Seri ketiga dari trilogi My Journal, My Diary, Marcella & Marcello : Karena kecelakaan, mereka Marcella dan M... More

Prolog
Bab 12
Bab 13
Bab 14
Bab 16
Bab 17
Bab 18
Bab 19
Bab 20
Bab 21
Bab 22
Bab 23
Bab 24
Bab 25
Bab 26
Bab 27
Bab 28
Bab 29
Bab 30
Bab 31
Bab 32
Bab 33
Bab 34
Bab 35
Bab 36
Bab 37
Bab 38
Epilog
The End

Bab 15

5.8K 392 7
By AnnabelleTF

Cella POV

"Cafe rumah sakit punya kopi yang enak, kalau Anda tidak keberatan."

"Tidak sama sekali."

Gue pun berjalan mendahului Wilson. Sesampai di cafe rumah sakit, gue memesan black coffee dua. Hening panjang sampai akhirnya kopi disediakan. Jujur saja, sudah tersusun rapi pertanyaan-pertanyaan yang ingin gue lontarkan. Hanya saja, gue ga bisa berbasa basi sampai menjurus ke topik. Gue ga sepintar itu berbicara. Apalagi Wilson kenal Cello sebagai partner kerja sama. Nama baik dipertaruhkan di sini!

Huff.. Sudahlah. Anggap saja Cello adalah orang yang ga suka berbasa-basi.

"Mm... Jadi... Anda tunangan Cella?" Tanya gue langsung.

"Hm.. Ya."

"Sejak kapan?"

"Sejak hari ini. Kami dijodohkan."

Hari ini?

HARI INI?!

Gila saja. Kenapa ga ada yang memberitahu gue, dan... Siapa juga yang menjodohkan gue seenaknya! Hei, gue ini wanita bebas yang ga butuh dibantu apalagi dijodohkan!

"Oleh?"

"Ayah Marcella."

What?!

Ini shock therapy paling luar biasa yang pernah gue alami. Yang benar saja! Mana mungkin Papa yang bahkan ga peduli selama ini dengan gue sampai repot-repot mencarikan jodoh? Bahkan gue yakin sekarang Papa sibuk di entah negara mana demi kemajuan usahanya, tanpa memikirkan gue dan Ryan sama sekali!

Tarik nafas, buang nafas... Gue harus tenang. Di hadapan gue ini Wilson, yang bahkan ga akan percaya sekalipun gue jelaskan kalau gue adalah Marcella yang sebenarnya!

"Lalu, untuk apa Anda membawa Cella sampai ke sini?"

"Mengunjungi Anda."

Gue mengerutkan dahi bingung. "Saya?"

"Ya."

Nah... Ini sungguhan dan ga bercanda? Adakah seorang lelaki yang membawa tunangannya menemui lelaki lain? Baik sekali lelaki ini, gue sampai bingung sendiri.

"Tidak takut tunangan Anda saya rebut?"

"Sekalipun direbut, saya tidak masalah. Ayahnya Cella hanya memberikan restunya pada saya, dan bukan Anda."

Great! Ternyata lelaki yang aku kira baik-baik ini bisa juga mengeluarkan seringai licik seperti sekarang ini. Rasanya ingin sekali gue usir lelaki ini menjauh dari Cello! Ck.

"Wah, kalian cepet banget akrabnya. Bisa jadi temen baik nihhh..." Suara seseorang mengintrupsi.

Dulu gue ga pernah tahu suara gue seperti ini jika didenger orang lain, dan ternyata suara gue sangat menyebalkan! Apalagi jika Cello sengaja membuat suara semanis-manisnya. Ugh! Ingin sekali gue cekik Cello. Selain karena suaranya yang ga enak, juga karena ga bilang gue dijodohin!

"Hei sayang... Kok serius banget sih mukanya. Senyum dongggg! Ketemu pacar kok ngeliatnya kayak mau bunuh orang sihhh!" Kata Cello sambil berjalan dan memeluk leher gue dari belakang.

Gue hanya bisa bengong. Dia ini.... Gila ya? Ga ketemu sebentar kelakuannya jadi..... Apa ini efek karena malam pertama dengan James? Eh tunggu, terus hubungan sama Wilson gimana? Masa dia punya suami sekaligus tunangan?

Ga mungkin! Nama gue bisa tercemar luar biasa! Tapi kalau ini ada hubungannya sama Papa, semua mungkin saja. Tapi bagaimana nasib James? Ughhh, gue butuh jawaban dari semua hal ini. Serius, gue butuh waktu berdua buat ngobrol sama Cello. Tapi gimana caranya gue mengusir Wilson? Mau gimana pun, dia 'tunangan' gue secara ga langsung.

"Wilson, kalau ga keberatan..."

"Kalau ga keberatan, boleh ga lu ninggalin gue sama Cello? Gue kangen nihhh sama Cello. Kak Marsha sendirian di kamar. Lu temenin deh sana." Potong Cello cepat.

Mata gue langsung membesar kaget. Cello minum obat apa sampai bisa seaneh sekarang??? Dan... Buat apa Cello dengan pintarnya menyodorkan kakaknya sendiri sebagai alasan?! Memangnya siapa juga Wilson?!

"Cella!" Tegur gue sambil menatap Cello tajam, sebagai peringatan agar dia jangan berkelakuan aneh-aneh.

"Udah.. Cepet sana Wil, Cello biar gue yang urus." Kata Cello sambil mengedipkan sebelah matanya genit.

Oh astaga! Dia itu sedang memerankan gue, kalau dia lupa. Jangan seenak jidatnya berkelakuan aneh! Gue pun hanya bisa mendengus kesal. Memang sih, akhirnya Wilson mengangguk dan bangkit dari kursinya. Sepertinya Cello berhasil mengusir Wilson.

"Oke. Thanks Cel!"

Cella atau Cello?

"Heh.. Mau sampai kapan meluk kayak gini?" Ucap gue sinis ke arah Cello.

"Ih.. Tadi juga lu meluk gue sampe ga mau lepas!"

Yah... Iya sih.

"Gue... kangen sama lu.." Bisik Cello di telinga gue.

Gue pun hanya bisa menelan ludah dengan susah payah. Sejujurnya gue pun kangen sama Cello. Masalah Kak Marsha, ibunya Cello, belum lagi perusahaan. Rasanya gue nyaris gila dengan semua masalahnya ini! Memang ga berat, tapi semua melibatkan emosi. Kalau ga tenang, jelas semua orang akan kena semprot kemarahan gue.

Huff...

"Cel, ayo lepasin Cel... Ga enak diliat orang-orang." Cello menurut. Walaupun gue ingin sekali meralat kata-kata gue tadi. Ughhh... Kenapa gue jadi ikutan aneh?

Fokus Cella!

"Ada yang perlu gue denger kayaknya." Tuntut gue saat Cello sudah duduk di hadapan gue. Menyeruput kopi pahit milik gue seenaknya.

"Dan banyak yang perlu lu jelasin!" Tuntut Cello balik.

"Oke. Siapa duluan?"

"Lu!"

Gue mengangguk. Gue tahu gue yang sebenarnya harus mulai cerita, karena gue yang tiba-tiba menghilang duluan. Yah, walaupun sebenarnya gue agak enggan untuk bercerita masalah ini tapi ... Ini juga berhubungan dengan kehidupan Cello.

"Hm. Gini.. Di hari sebelum pernikahan lu dan James, gue dapet kabar dari rumah sakit tempat Kak Marsha kalau ada ibu-ibu yang dateng dan nodong gitu. Jelas gue kuatir. Dan tepat saat beberapa jam di hari pernikahan, gue dapet telepon Kak Marsha ditusuk."

Gue berhenti. Melihat ekspresi kaget dari Cello. Kenapa.... Ga seheboh yang gue prediksikan? Padahal ini kabar sebelum penikahannya. Tunggu! Pernikahan??!

"Tunggu... Tunggu... Lu harus cerita ke gue dulu. Mana James dan kenapa cowok itu yang jadi tunangan?"

"Oke. Jadi di hari pernikahan lu, bokap lu dateng dan..."

"What?! Papa?" Gue yakin mata gue pasti seperti mau keluar. Astaga... Papa?! Cello bener-bener bilang 'Papa'?

"Yepp. Dan percayalah Papa lu orang yang baik. Nihhh, gue bawa bukti kebaikannya."

Cello mengeluarkan amplop cokelat dari tas dan menyodorkannya ke gue. Ragu, gue mengambilnya dan mengeluarkan isinya. Gue melotot melihat tumpukan foto perselingkuhan James.

Brengsek!

"Papa lu ngasih semuanya tepat di detik-detik terakhir."

"Ta-tapi gimana caranya Papa ta-..."

"Mau gimana pun, Papa lu harus dateng di pernikahan lu! Sekalipun jiwa anaknya ketuker, tetep aja Papa lu harus dateng!!!" Potong Cello.

"Tapi..."

"He loves you, you know. Sayangnya, setelah Mama lu meninggal, dia takut ga bisa jaga lu dan Ryan dengan baik. Dia salah, tapi dia dengan lantang teriak ke gue betapa ketakutannya dia saat gue nyaris bikin Aston Martin yang dia punya nabrak di hari pernikahan."

What?!

"Papa ...."

"He loves you. So much! Believe me."

Gue menghela nafas sebanyak-banyaknya. Pusing dengan semua rentetan kejadian yang gue lewatkan. Kesimpulannya...

"Jadi, pernikahan lu dan James batal. Papa lu yang bikin semua batal. Tau sendiri kan Papa lu itu kalau mau sesuatu ga bisa dibantah dan ga ada yang berani bantah?" Jelas Cello.

Gue mengangguk lemah.

"Perlu lu tau, bokap lu udah kembali lagi ke rumah. Dia main sama Ryan dan yang paling penting...."

Yang paling penting...?

"Dia nganggep gue pacar lu, DAN ngeremehin gue! Gue dikatai ga punya apa-apa, ga jago main basket, ga seganteng dia. Ck! Gue ini Marcello dan berani-beraninya gue dibilang kalah telak sama Papa lu!"

"Ha?" Cello bicara apa sih? Seriusan gue bingung. Pacar? Remehin? Kalah telak?

Cello bahkan sampai mendengus kesal. Ini apaan sih?

"Lanjut... Setelah seminggu gue nelepon lu ga ada hasil, Papa lu ngasih gue setumpuk laporan pencarian lu. Sialannya gue kalah cepet. Bahkan di laporan itu jelasin kalau Kak Marsha ditusuk dan gue marah sama lu! Kenapa ga kasih tau gue?!" Cello menatap gue tajam.

Oke. Lupakan intermezzo membingungkan tadi. Kembali ke topik semula. Memang... Ini salah gue. Jujur, gue bukan orang yang suka masalah diumbar-umbar layaknya berita murahan. Gue lebih suka menyimpan dan menyelesaikan semuanya sendiri. Dan gue kira... gue bisa sendiri.

"Sorry Cel. Gue waktu itu lag-..."

Plakkkkk...

Suara tamparan itu menggema di seluruh penjuru cafe. Gue langsung melotot kaget. Cello ditampar di depan mata gue sendiri!

"Jadi cewek ini yang bikin kamu tergila-gila hah?!"

Continue Reading

You'll Also Like

20.6K 875 9
Alena bersama keempat temennya sedang berjalan menuju kantin,tetapi baru sampai kolidor tengah ada yang menabrak punggungnya "aww" alena mengaduh ke...
94.1K 4.3K 13
Gue tampan, pinter dan luar biasa. Bahkan di usia gue yang baru 26 tahun, gue udah menjadi CEO di perusahaan besar yang gue bangun sendiri! Tapi semu...
404K 28.2K 29
[tetep vote and komen meski dah END] Ryan, seorang pemuda yang terpaksa harus menjadi figuran yang merangkap menjadi antagonis licik karena tidak mau...
1.1K 165 48
salahkah aku mencintaimu? salahkah aku memiliki perasaan kepadamu? apakah aku tidak pantas mendapatkan kebahagiaan darimu? . . ini sebuah kisah di ma...
Wattpad App - Unlock exclusive features