53. Diundang ke Pesta Mamanya Viano

Bắt đầu từ đầu
                                    

Benar-benar Raja menunjukkan sikap skeptis pada Lusi.
Baik, tahan amarah. Harus mengendalikan emosi demi hubungan yang lebih baik bersama Viano.

Pelan-pelan dia tarik sudut bibir. Matanya dibuat menyipit supaya bisa menampilkan kesan natural.

"Suster Mia hari ini nggak datang karena Tante Lusi yang jemput kamu."

"Oh." Lama-lama gaya Viano mulai ditiru Raja.

***

"Kita makan siang dulu, ya," ujar Lusi di sela-sela kesibukannya memasangkan sabuk pengaman pada Raja.

"Biasanya Raja langsung pulang. Tante Lusi udah izin sama papa, mau bawa Raja pergi?"

Ergh! Diam-diam anak ini cerewet juga. Dia pasti ketularan Nesta yang hobi mendebat. Awas, ya, nanti kalau Viano bisa punya anak dari Lusi, jangan harap dia bisa seberani sekarang.

"Yakin nggak mau pergi?" Lusi membesarkan mata. Dua alisnya terangkat naik, seakan mengintimidasi Raja.

Sementara, Raja masih berepikir soal ajakan Lusi. Yah, semenarik apakah itu, tidak ada gambaran sama sekali.

"Tante Lusi juga ajak Kak Nesta, loh!"

"Beneran?" Yang ini pasti membuat Raja antusias.

"Tante Lusi nggak mungkin bohong," tandasnya.

***

Apa-apaan itu! Nesta sampai memelotot ketika calon anaknya bisa datang bersama Lusi. Gawat! Bakal ada persaingan, nih.

Oh, iya, hari ini Nesta ambil jatah cuti bulanan. Soalnya, Lusi pagi-pagi sudah telepon meminta mereka ketemuan. Bilangnya, sih, ada sangkut paut sama Viano. Makanya, Nesta mau memenuhi.

"Saya pikir kamu bakal telat datang ke sininya." Lusi bicara sambil menurunkan kacamata hitamnya.

"Biar Ibu nggak kelamaan nunggu." Nesta sedikit mendengus.

Lusi duduk di depan Nesta. "Kamu pesan makan saja." Dia sedikit melenggikan bahu. "Jangan khawatir, nanti saya yang bayar."

Ketimbang sebagai tawaran, Nesta malah berpikir itu lebih mirip sindiran. Payah, kalau kebiasaan memandang rendah orang lain. Dikira Nesta mau, ketemuan dengannya hari ini.

Kalau bukan karena dia bilang akan membawa Raja, belum tentu Nesta berangkat.

"Nggak usah, Ibu aja yang makan."

Lusi mengeluarka tawa. "Saya diet, nggak makan siang."

"Duh, ribet deh Ibu." Nesta mencebik.

Nesta beralih pada Raja. Dia baru pulang sekolah, pasti belum makan. "Mau makan apa, Ja?"

Astaga Lusi malah lupa menawarkan Raja makan. Sibuk sama Nesta, jadi lupa cari perhatian. Tuh, malah keduluan jadinya.

"Ayam goreng," jawab bocah itu.

"Oke!" Nesta melingkarkan jari

Panggil pelayan, pesankan makan siang untuk Raja. Sementara Lusi dan Nesta hanya memesan jus.

"Tante Garseta menyuruh saya untuk kasih ini ke kamu." Lusi menyodorkan kartu undangan berwarna hitam dengan list emas di pinggirnya.

"Bu Lusi mau kawin?"

"Itu bukan undangan pernikahan saya! Baca baik-baik!"

Mulut Nesta membentuk bulatan. Setekah dibuka, ternyata isinya undangan acara ulang tahun mamanya Viano.

"Ini saya diundang ke pesta?" Setengah tidak percaya.

"Iya, kamu diundang." Lusi memaklum kenorakan Nesta. Dia pasti kaget dapat undangan dari sosialita.

"Nggak salah?" Nesta masih ragu.

"Iya, kamu diundang karena kamu dekat dengan Viano."

Masa karena itu?

Nesta, 'kan, diam-diam tahu kisah orang tuanya Raja. Itu menunjukkan kalau mamanya tidak suka dengan rakyat jelata.

"Saya nggak bisa dateng." Nesta kembalikan undangannya. Yah, daripada buat malu diri sendiri, mending tolak dari sekarang.

Nah, ini gunanya Lusi mengajak Raja. Dia yang akan Lusi gunakan untuk membujuk.

"Kamu nggak kasihan sama Raja?" Lusi merengkuh pundak bocah yang sibuk menikmati ayam goreng di piringnya. "Saya yakin, kalau dia pasti berharap kamu bisa datang."

"Bener, 'kan, Raja?"

"Papa juga pasti suka kalau Kak Nesta dateng."

Rengkuhan Lusi lepas. Anak ingusan sok tahu, dari mana bisa yakin kalau Viano senang Nesta datang?

"Pokoknya, kalau kamu memang menghargai mereka, penuhi undangan itu!" tegas Lusi.

Pesta mamanya Viano pasti mewah. Mulai curiga nih, jangan-jangan ada sesuatu yang direncanakan. Terlebih, Lusi kesannya memaksa.

"Oke, deh, saya datang. Meskipun belum tau tujuannya apa saya diundang."

"Semoga aja, kamu nggak malu-maluin, ya."

Lusi kira Nesta bakal diam dijatuhkan begitu? Bekum tahu kekuatan anti badai anak Pak Mursalin!

"Saya nggak bakal malu-maluin."

Kepedean. Sekalian saja Lusi kerjai.

"Saya kasih tau ke kamu. Tante Garseta paling suka lihat orang yang rajin bersih-bersih di rumahnya. Kalau kamu datang ke pesta nanti, sibuk aja bersih-bersih biar Tante Garseta suka."

Menyilang tangan di dada, Lusi berdecih.

"Saya tau, Ibu bohongin saya. Berarti saya buat kebalikannya. datang ke pesta, santai, dan menikmati makanan sama teman-teman yang lain."

"Kak Nesta keren!" Raja memuji di saat hati Lusi panas.

"Oh!" Nesta menaikkan kerah baju. "Jelas, dong!"

"Errgh!" Lusi kalah lagi. "Ayo kita pulang!" Dia menuntun paksa Raja.

Arrogant vs Crazy Nơi câu chuyện tồn tại. Hãy khám phá bây giờ