Chapter 1 "Perjalanan menuju kota besar"

138 10 11
                                        

New World
Chapter 1 "Perjalanan menuju kota besar"

PRANG!!,

Terdengar suara piring jatuh dari dapur tempat ibu berada, aku pun bergegas menuju ke dapur.

"Bu, ibu tidak apa-apa?"

Wajah ibu terlihat seperti menahan sakit setelah tangannya terkena serpihan kaca.

"Ibu tidak apa-apa nak, mari kita bersihkan serpihan-serpihan kaca ini"

Aku pun mengangguk, dan membantu ibu membersihkan serpihan-serpihan kaca.

"Umm.. anu, bu?"

"Iya?"

Ibuku membalas pertanyaanku dengan pertanyaan lainnya.

"Oh, aku sudah tau kau ingin bilang apa, pasti kau ingin pergi bersama pria aneh itu lagi kan?"

Aku terkejut.

Mengapa ibu bisa tau tentang pria itu?

Pikirku.
Padahal selama ini aku tidak pernah memberi tahu apapun kepadanya.

"Iya, bu"

Entah kenapa wajahku memerah, entah karena malu, grogi atau gugup.

"Hm, baiklah, tapi jangan pulang terlalu malam, ayahmu bisa khawatir"

"Terimakasih, bu"

Jawabku.

Aku pun bergegas keluar rumah dengan perasaan senang karena telah di izin kan oleh ibuku. Aku pergi menemui pria aneh itu di tengah hutan, tempat biasa kita bertemu.

"Halo, aku kembali"

Terlihat ia sedang berdiri di samping pohon besar, rambutnya berwarna merah, serta mengenakan mantel berwarna hitam. Tidak heran mengapa ibu menyebutnya pria aneh.

"Selamat pagi, Kuro"

"Selamat pagi, Hanz"

Ya, itulah dia, Hanz Murrisch. Orang yang telah melatih ku berbulan-bulan, ia yang mengajarkan ku bagaimana caranya bertarung, bagaimana caranya untuk melindungi diri di dunia yang kejam ini.

"Kurasa hari ini sebaiknya kita tidak berlatih dulu, Kuro"

"Ha?!"

Aku terkejut, ini pertama kalinya ia tidak ingin berlatih bersama ku, entah apa alasannya.

"Lebih baik kau pulang sekarang, tapi aku tidak memaksa, jika kau ingin berlatih, aku akan meladeni mu"

Raut wajah Hanz terlihat lebih suram dari biasanya. Wajahnya seperti memancarkan kemarahan yang begitu besar, hanya melihatnya saja sudah membuat bulu kuduk ku merinding.

"A-anu.. b-baiklah, mungkin lebih baik aku latihan sendiri saja, m-maaf telah mengganggu mu"

"Hmm.. ya sudahlah, padahal kusuruh pulang tapi kau tidak menurut, silahkan rasakan konsekuensi dari perbuatan mu ini"

"Hah? Apa?"

Dalam sekejap Hanz hilang seolah ditelan oleh kegelapan, bahkan aku tidak sempat mendengar kata-kata nya barusan.

"Ada apa dengan dia.."

Aku pun mulai memburu beberapa hewan untuk melatih insting ku, dan tanpa ku sadari hari sudah malam.

"Wahh! Aku dapat banyak hari ini!"

Aku pun berjalan ke rumah, sembari membawa hasil tangkapan ku. Sesampainya dirumah, aku terkejut bukan main melihat darah di depan pintu rumah.

New WorldWhere stories live. Discover now