BAB 11 (Seperti Pengantin Baru)

8.8K 1.4K 146
                                                  


Hari ini, tepat di hari ke-15 mas Adit dirawat di rumah sakit, akhirnya om Nio mengizinkan untuk pulang walaupun harus tetap menerima serangkaian pengobatan yang dimandatkannya padaku untuk mengontrol itu semua selama rawat jalan. Walaupun demikian, mas Adit masih harus menjalani beberapa kali fisioterapi untuk masalah hemiparalysis yang dia alami pasca henti jantung.

Aku membereskan pakaian yang dia bawa ke rumah sakit sementara Alea dan Afina⸺ adik-adik kandung mas Adit membantu memasukkan buku-buku yang dibawa mas Adit kesana ke dalam dua travel bag.

Ya beginilah kalau suamimu adalah kutu buku, sehari nggak baca buku saja seperti setahun nggak makan. Bahkan jumlah buku yang dia bawa lebih banyak dari jumlah pakaian yang dia bawa.

"Le, Fin, udah biar Mbak saja yang bawa tasnya," ujarku tidak tega melihat dua adik mas Adit yang sedang hamil tua itu menenteng travel bag berisi buku-buku tebal milik mas Adit. Kalau buku-buku itu ditumpuk seolah menjadi batu bata, mungkin bisa membangun satu rumah tipe 36 sangking tebalnya

"Nggak apa-apa, Mbak. Aku hamil-hamil gini masih kuat kok ngangkat galon air," timpal Alea yang kalau tidak salah kehamilannya sudah masuk 33 minggu.

"Hah? Serius kamu?"

Alea mengangguk mantap. "Iya, Mbak. Nggak tahu kenapa ya, sejak hamil aku jadi makin strong. Ini si Dedek calon binaragawan kayaknya, mudah-mudahan mirip Iko Uwais," katanya sambil mengelus-elus perutnya yang sudah sangat besar.

"Dih ngaco! Iko Uwais itu aktor, bukan binaragawan," kali ini Afina ikut menyahut. Uniknya, kehamilan Afina hanya beda dua minggu lebih lambat dari Alea. Bisa saja mereka lahirannya bersamaan.

"Masa sih?"

"Astaga! Hidup di zaman apa sih kamu, Lele Dumbo?" sahut Afina yang memang biasa memanggil kakaknya si Alea dengan panggilan Lele Dumbo kalau sedang kesal.

"Ya udah sih biasa aja, Fintu Sorga," Kini giliran Alea yang memanggil Afina dengan sebutan Fintu Sorga, plesetan dari Pintu Surga.

"Sudah, sudah, nggak usah ribut masalah Iko Uwais. Ributin aja tuh Mas kalian yang banyak orang bilang mirip Nicholas Saputra," kataku sembari nyengir kuda pada mas Adit.

Alea malah mendengus. "Nicholas Saputra darimananya sih? Temen-temenku juga bilang gitu,"

"Iya, aku juga heran, banyak yang bilang gitu. Padahal kalau dilihat dari ujung monas juga tetep nggak mirip," timpal Afina.

"Eh tapi, kayaknya muka kita sekeluarga emang pasaran deh, Fin. Almarhum Bapak dulu dibilang mirip Ari Wibowo, almarhumah Ibu dibilang mirip Maudy Kusnaedi. Mas Adit dibilang mirip Nicholas Saputra, kamu dibilang mirip Pevita Pearce terus aku dibilang mirip Maudy Ayunda," ujar Alea dengan penuh semangat.

Mata Afina langsung membelalak kaget seakan baru menyadari sesuatu. "Wah iya, Mbak! Muka kita sekeluarga mirip artis ya! Ini kita harus bangga nggak sih?"

Aku tertawa melihat kelakuan mereka. Ada-ada saja.

Mas Adit yang sedari tadi hanya diam memandangi dua adiknya yang sedang ngerumpi, akhirnya ikut buka mulut. "Boleh tanya tidak?"

"Apa?"

"Nicholas Saputra itu yang mana sih?"

Sontak kami saling berpandangan karena takjub dengan kelakuan satu makhluk dari zaman purba ini. Serius mas Adit nggak tahu Nicholas Saputra? Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosa beliau.

Internal Love 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang