BAB 7 (Time is Everything)

33.1K 3.6K 360
                                                  

[Note: Kalau nggak paham bahasa medisnya, coba scroll paling akhir ada keterangannya. Happy reading!]

Mas Adit terbaring lemah di lantai kamar yang sepenuhnya tertutup karpet. Wajahnya pucat bersimbah peluh. Sebelah tangannya menggenggam satu strip obat. Sebuah gelas berisi air yang sudah tumpah tergeletak di sisi kiri tubuhnya.

"Aaarrgghhh—," lirih suaranya membuat dadaku terasa disilet-silet.

Aku buru-buru menghampiri dan berlutut di sampingnya. "Mas kenapa? Kambuh lagi?" Tebakku ini pasti maagnya. Mas Adit mengidap penyakit gastritis kronis yang sering sekali kumat karena ketidakpatuhannya dalam hal makan.

"Ti—Tidak. I—Ini beda. Aaarrrghhh!" Tubuhnya meringkih dan menekuk, mungkin untuk mengurangi rasa sakitnya. Lalu tiba-tiba dia muntah, cukup banyak, berisi makanan. Muntahannya sampai mengenai dress putihku.

Demi Tuhan aku jauh lebih panik kali ini. Aku mengambil obat yang digenggamnya. Tramadol. Obat analgetik golongan opiat, sejenis narkotika yang berguna untuk meredakan nyeri berat. "Kamu minum ini, Mas?"

"A—Aku sudah tidak ku—at, Dit. Arrrgghhh!" Mas Adit muntah untuk kedua kalinya.

"Kenapa harus minum ini sih? Kamu kan punya gastritis, Mas!"

"Tolong, Dit... To—long,"

Tidak ada hal lain yang kupikirkan selain menelepon Ben dan meminta bantuannya. Semoga saja dia belum jauh dari sini.

"Halo," Suara Ben diujung telepon.

"Ben, can you help me, please?"

"Kamu di lantai berapa?"

"Lantai 15,"

"I'll be there!"

Telepon terputus. Perhatianku langsung teralih pada mas Adit. Tanganku memegang dahinya. Panas. Dia pasti demam tinggi. "Kok bisa, sih, kayak gini, Mas?"

"Ku kira gastri—tis. Nyeri awalnya se—seluruh perut. La—lalu ke kanan ba—wah. Sudah ti—tiga hari dan ini sa—sakit selu—ruhnya," Mas Adit berusaha menjelaskan perjalanan penyakitnya dengan terbata-bata.

Nyeri seluruh perut, lalu ke kanan bawah, dan sekarang nyeri di seluruh perut lagi? Tidak, sepertinya ini bukan hanya gastritis biasa. Tanganku refleks menyentuh salah satu kuadran perutnya, namun belum sampai menekan, bahkan kulit jariku baru menyentuh kulit perutnya, mas Adit sudah berteriak kesakitan.

"AAAARRGGG!!!"

Aku jelas terkejut bukan main. Apa ini... "Peritonitis?"

"Dit—," Tiba-tiba aku mendengar suara mas Adit terisak. Jemarinya berusaha meraih tanganku. "Ma—maaf," Ada bulir air mata mengalir di sudut mata kanannya. Hanya setetes, namun rasanya perih.

Ini kali kedua mas Adit menangis di depan mataku. Pertama kalinya sekitar 9 tahun yang lalu saat aku masih koas, ia menangisi ibunya yang meninggal dunia. "Untuk apa?" tanyaku sembari membelai rambutnya.

Dia tidak berkata-kata, hanya menarik punggung telapak tanganku lalu menciumnya.

Aku merasakan debaran yang aneh. Bom waktu yang sudah kupersiapkan pun mendadak berhenti meledak dan seluruh kebencianku padanya luruh hingga tidak tersisa. Aku menyadari, apa yang dia tanam di hatiku terlalu dalam, sampai kesakitan yang dia alami dapat kurasakan dengan begitu mudah.

Internal Love 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang