Bab 12 (Gusar)

8K 1.4K 104
                                                  


Sejak keputusan pindah ke Jakarta, setiap pagiku terasa berbeda. Di detik awal mataku terbuka, wajah tampan itu yang menjadi pemandangan pertamaku. Dengkuran halusnya juga menjadi suara pertama yang menyapa gendang telingaku. Tanpa sadar aku tersenyum, menikmati setiap keindahan dari karya Tuhan yang Dia berikan padaku dengan cuma-cuma.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya apa ya maksud Tuhan menjodohkanku dengan manusia menyebalkan ini?

Dia tampan, aku 'kentang'. Dia cerdas dari lahir, aku harus belajar mati-matian untuk pintar, Dia aneh, aku waras.

Beda sekali.

Tapi ya kok bisa-bisanya aku jatuh cinta padanya?

Dia menggeliat dengan ketampanan yang tidak berubah sedikitpun. Matanya mengerjap menatapku. "Eh, hai," sapanya dengan suara serak yang seksinya nggak kira-kira.

"Good morning, Sayang,"

"Morning," jawabnya sembari menyunggingkan senyum tipis khasnya. "Mimpi apa semalam?"

Aku memutar mataku dan refleks teringat mimpi yang baru kualami semalam. "Ah! Aku ingat!"

"Apa?"

Aku menatap matanya dengan berbinar. "Tadi malam aku mimpi indaaaah sekali. Tebak aku mimpi apa?"

"Dapat uang?"

"No,"

"Liburan keluar negeri?"

"No,"

"Cluenya apa?"

"Emm... sesuatu yang aku pengen dari dulu,"

"Oh... aku tahu!"

"Apa?" Aku jadi ikut excited mendengar jawabannya.

"Sesuatu yang kamu ingin dari dulu? Pasti... kamu mimpi aku jadi romantis ya?"

"Yeee... bukan," Aku tertawa kecil, bisa-bisanya dia pikir yang aku mau selama ini dia jadi romantis. "Kalau itu sih aku sudah pasrah, Mas, sejak awal menikah. Kamu level nggak pekanya emang udah end stage, jadi aku nggak mau terlalu berharap,"

"Terus apa dong?"

"Aku mimpi⸺," Sangking bahagianya, aku hampir tidak sanggup mengucapkannya, takut sekali kalau tidak menjadi kenyataan. "Kita punya anak, Mas,"

Dia terdiam, tanpa ekspresi seperti biasa. Tapi aku tahu, yang dia rasakan pasti sama seperti yang aku rasakan, hanya saja dia pintar menyembunyikannya.

"Gemeli. Cowok cewek. Tapi nggak identik,"

Tetap hening. Kira-kira apa yang sedang ada dipikirannya ya?

"Kalau... anak kita kembar, kamu mau kasih nama siapa?"

"...."

"Mas?"

"I don't know," Akhirnya dia buka suara lagi.

"Yang terlintas aja dipikiranmu,"

"Emm, yang terlintas ya?"

Aku mengangguk.

"Mungkin... Tibia-Fibula,"

Sontak aku melotot mendengar jawabannya. "Hah? Kok Tibia-Fibula?"

Tibia dan fibula adalah nama tulang di kaki bagian bawah. Tibia sering disebut juga tulang kering dan fibula adalah tulang penyangganya.

Internal Love 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang