BAB 3 (Viral)

42.4K 4.4K 346
                                                  

Resistensi. Dalam kamus besar bahasa indonesia resistensi berarti ketahanan. Menurutku sama saja artinya dengan kekebalan. Sebagai contoh, kuman A yang resisten terhadap antibiotik A. Artinya, kuman A tersebut tidak akan mati alias kebal dengan antibiotik A. Resistensi dalam hal ini bisa terjadi jika seseorang yang terinfeksi kuman A dan diberikan antibiotik A tidak tuntas mengonsumsi antibiotik tersebut sehingga si kuman A yang seharusnya bisa mati malah bertambah kuat. Sebagai contoh lain, seorang anak yang terbiasa dibiarkan bermain 'kotor' sejak kecil oleh orang tuanya, sistem imun tubuhnya akan lebih kuat dan menjadi kebal terhadap kuman-kuman yang remeh temeh dibandingkan anak-anak yang selalu dijaga 'bersih' sejak kecil.

Sebenarnya, inti dari perkataanku ini adalah aku sedang merasakan resistensi itu. Bukan, bukan terhadap kuman, tapi terhadap LDR-things yang aku jalani dengan mas Adit.

Melihatnya memelukku, mengecup keningku lalu pergi menjauhiku untuk masuk ke ruang check in bandara sudah terasa biasa bagiku. Tidak ada perasaan mengharu biru seperti yang kurasakan dulu saat hari-hari awal kami menikah.

Resisten. Ya, aku sudah terlalu kebal.

Mungkin tidak terlalu kebal, karena sejujurnya di lubuk hatiku yang paling dalam sering terbesit perasaan rindu yang mendadak muncul dengan kurang ajarnya. Pasalnya, rindu itu tidak jarang muncul di saat aku justru sedang sibuk-sibuknya dengan urusan pekerjaan. Bahkan pernah, bayangan wajah mas Adit dengan ekspresi datar yang ngeselin muncul saat aku sedang RJP seorang pasien yang berada diambang kematian. Gila, kan?

Banyak sekali yang bertanya bagaimana caraku membunuh rindu itu. Jawabannya mudah, tenggelam saja. Tenggelam dalam tumpukan tugas dan kesibukan. Yeah, bullshit. Kenyataannya, teori tidak selalu sesuai dengan prakteknya.

Mungkin, jika hanya sebentuk rindu yang muncul masih lebih mudah untuk diatasi. Sialnya, sebagai perempuan dengan tingkat sensitivitas yang tinggi, rindu itu lebih sering muncul bersamaan dengan pikiran-pikiran buruk yang menguras emosi. 'Apa dia juga lagi kangen?', 'Apa dia juga lagi mikirin aku?', 'Jangan-jangan dia lagi senang-senang disana dan nggak ingat aku sama sekali!' atau 'Jangan-jangan dia malah lagi ketawa-ketawa sama cewek lain!'

Hahaha. Perempuan memang sulit dimengerti. Untungnya aku nggak suka sama perempuan.

Mas Adit sering sekali bingung dengan ke-moody-anku yang sangat tidak bisa diprediksi. Apalagi menjelang hari-hari mau menstruasi. Apalagi sedang berada dalam fase LDR gini. Apalagi mas Adit orangnya kadang kelewat polos campur cuek yang bikin aku gemes banget pengen nyakar mukanya.

Eh, jangan deh, nanti gantengnya luntur!

"Dok, tolong anak saya, Dok!"

Lamunanku buyar seketika mendengar suara rintihan itu. Aku menoleh dan mendapati seorang ibu berdaster yang sedang menggendong bayinya. Wajah ibu itu memperlihatkan kepanikan yang teramat sangat. "Anaknya kenapa, Bu?"

"Demam, Dok," Tangannya mengusap-usap rambut anaknya lembut.

Aku memandang wajah anak berumur sekitar 4-5 tahun itu. Diam tanpa ekspresi. Punggung tanganku menyentuh dahinya tapi tidak terasa panas sama sekali. "Sudah dari kapan demamnya, Bu?"

"Sudah 3 hari. Ini hari keempat kayaknya demamnya mulai turun. Tapi saya khawatir karena dia lemas sekali,"

Aku menaruh termometer digital di ketiak anak itu. Suhu menunjukkan 35,4°C. Cenderung dingin. Sempat kulihat bintik-bintik merah tersebar di tangan dan kaki si anak, lalu tanganku menggenggam telapak tangan dan kakinya. Akralnya dingin. Tanda bahaya. "Kita cek darah dulu ya, Bu. Saya khawatir ini demam berdarah,"

Internal Love 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang