BAB 8 (Yang Membuat Kami Jatuh Cinta)

35.5K 3.5K 478
                                                  

[Baca sambil mendengarkan lagu diatas boleh dicoba. Penjelasan bahasa medis ada di bagian keterangan ya! Happy reading!]

***

Menatap Mas Adit yang terbujur lemah dari balik kaca pembatas ICU ini membuat hatiku berdesir hebat. Tidak mungkin aku tega meninggalkannya dalam keadaan seperti ini. Di Jakarta, dia tinggal seorang diri. Menuntut ilmu sekaligus bekerja demi memenuhi kebutuhan kami.

Mas Adit itu tipe lelaki yang ambisius dan keambisiusannya itu sering kali membuatnya lupa dengan tubuhnya sendiri. Menyebalkannya, dia punya sifat yang keras kepala, persis sepertiku. Jadi, walaupun sudah kuingatkan berkali-kali untuk tidak lupa menjaga kesehatannya, dia justru malah balik mengomeliku. Dia pikir justru aku yang sering lupa waktu.

Andai waktu bisa kuputar ulang, aku rindu sekali saat-saat pendekatan dulu. Mas Adit terlihat sangat lucu dengan segala kepolosannya soal percintaan. Apalagi saat dia melamarku dengan setting adegan kecelakaan yang bukan pura-pura. Tidak bisa kupungkiri bahwa mas Adit paling jago menciptakan kejutan-kejutan kecil yang tidak pernah terlintas sedikitpun di benakku.

Termasuk hari ini. Aku harap kamu cuma akting sakit, Mas. Aku harap kamu bangun dan bilang padaku "Surprise, ini kejutan untuk anniversary kita!". Aku harap laki-laki yang bernafas menggunakan ventilator itu bukan kamu.

Hari ini, tepat 4 tahun sudah kami membina biduk rumah tangga. Jujur, rasanya campur aduk. Aku sendiri suka heran dengan perasaanku sendiri pada mas Adit. Dulu saat dia melamarku, aku mantap dan yakin 100% dapat menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Namun seiring berjalannya waktu, keyakinan itu entah kenapa semakin berkurang setiap kali kami cekcok untuk hal apapun.

Aku pernah mendengar pepatah yang mengatakan 'Mempertahankan itu lebih sulit daripada mendapatkan'. Ya, karena mempertahankan itu butuh keikhlasan untuk menerima perbedaan dan ilmu ikhlas itu adalah ilmu paling sulit di dunia, menurutku.

Aku tidak pernah sangsi menjadikan mas Adit sebagai imamku dan apa yang dia minta selalu kuusahakan untuk terpenuhi. Tapi untuk masalah pindah ke Jakarta, entah kenapa hatiku berat sekali. Pasalnya, aku punya feeling yang sering kali benar.

Mataku melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kiriku. Waktu menunjukkan pukul 11.00. Sudah waktunya jam besuk. Aku lantas mengambil jubah khusus pengunjung berwarna hijau serta memakai masker yang bertujuan agar meminimalisir kuman yang dibawa pengunjung tidak berpindah ke pasien. Apalagi ini ICU dimana semua pasien-pasiennya dalam keadaan kritis dengan imunitas yang sangat lemah.

Langkahku mendekati bed mas Adit. Sudah tiga hari ini mas Adit berjuang melawan sepsis yang dideritanya. Belum lagi kemarin sempat mengalami syok yang untungnya sudah teratasi.

Berbagai alat kedokteran menempel ditubuhnya. Dari mulai jarum, kabel-kabel, sampai selang nafas dan lambung membuat mas Adit tampak sangat amat menyedihkan. Siapa yang sangka lelaki ini adalah seorang internis dan dalam beberapa tahun lagi akan menjadi subspesialis endokrin dan metabolik di usianya yang terbilang muda.

Kemarin suster sempat mengatakan kalau ada perbaikan pada leukosit dan analisa gas darah mas Adit walaupun tidak signifikan. Setidaknya ada harapan yang membuat ketakutanku sedikit berkurang. Aku yakin mas Adit jauh lebih kuat dari yang kupikirkan.

Tanganku menggenggam tangannya. Kulitnya berkeringat. "Mas, apa kabar? Ini Adit, Mas," Suaraku rasanya berat sekali seperti ada sesuatu yang mencekat di tenggorokan. "Kapan Mas mau bangun? Aku kangen ngobrol sama Mas. Ada banyak cerita yang mau aku ceritakan ke Mas. Mas mau dengar?"

Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara monitor tanda vital dan ventilator.

"Ingat waktu kita makan ayam geprek beberapa minggu yang lalu, Mas? Disana aku, kan, menolong orang yang tersedak. Ternyata ada yang diam-diam merekamnya lalu memasukkan ke youtube. Nggak disangka, video itu menjadi viral. Aku diundang ke acara sebuah talkshow di salah satu stasiun televisi. Ini pertama kalinya aku masuk tv, Mas. Rasanya deg-degan luar biasa,"

Internal Love 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang