BAB 4 (Sebuah Undangan)

35K 3.8K 335
                                                  

"Dit, one four three,"

"Dit, three six four,"

"Dit, six five four seven,"

Yeah, ini lebih sulit dari membaca sandi morse!

Begitulah keunikan dari sosok mas Adit, doyan banget bikin aku mikir hanya untuk menciptakan sebuah kalimat atau suasana romantis versi dirinya. Masih teringat jelas dulu saat dia mengirimkan surat cinta pertamanya dalam bentuk kertas EKG. Aku tidak pernah mempermasalahkan seseorang yang cuma berani memberi kode untuk menyatakan perasaannya. Toh, sifat orang berbeda-beda. Mungkin yang suka ngode itu punya sifat pemalu atau introvert sehingga sulit untuk mengungkapkan perasaannya secara frontal dan lugas.

Ya, mungkin saja mas Adit itu pemalu atau introvert, tapi kode dari mas Adit itu terlalu rumit.

Ralat, terlalu abstrak!

Siapa yang sangka kertas EKG itu ternyata adalah sebuah surat cinta?

Aku juga ingat saat mas Adit berencana untuk memberiku surprise pada sebuah malam di penghujung bulan Juni yang bertepatan dengan anniversary tahun pertama kami. Awalnya, sekitar dua minggu sebelum hari-H, dia bertingkah aneh dengan mengirimkan sebuah paket berisi kurang lebih 20 DVD drama korea dan selembar kertas bertuliskan "TONTON SEMUA, DEADLINE MINGGU DEPAN!!!" menggunakan spidol merah lengkap dengan huruf kapital dan tiga tanda seru diujungnya. Creepy banget, kan? Berasa kena teror.

Anehnya, aku menuruti namun hanya sanggup menonton sekitar 3 DVD dan tepat satu minggu kemudian, mas Adit meneleponku.

"Sudah tonton semua?"

"Buat apa sih?" tanyaku balik.

"Sudah tonton belum?"

"Sudah,"

"Semua?"

"Emm... enggak sih,"

"Loh, kan, aku sudah katakan tonton semuanya! Kamu mengerti deadline tidak sih?" Suaranya mulai meninggi dan ini sangat annoying.

Kampret! Masa jadi aku yang diomelin? "Mas pikir aku nggak punya kerjaan lain selain nonton DVD drama korea? Lagian buat apa sih aku harus nonton segitu banyak?"

Dia terdiam sejenak. "Kamu tidak perlu tahu," jawabnya kemudian dengan nada yang lebih rendah.

"Ya sudah kalau begitu jangan marah kalau aku nggak nonton semuanya!"

"Ini penting, Dit!"

"Untuk?"

"Kamu tidak usah banyak tanya! Pokoknya ini penting!"

See? Dia sungguh teramat sangat menyebalkan. Lalu aku mematikan sambungan teleponnya secara paksa. Sebodo amat dia mau marah!

Tiba-tiba sebuah pesan dari aplikasi LINE masuk.

RJP : Marah?

Adit : Ya

RJP : Ok. Dari 3 dvd itu kamu suka yang mana?

Adit : Bodo

RJP : Just answer.

Adit : Don't care!

RJP : Stop being childish! Just answer!

Adit : Why? Answer my question first!

Internal Love 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang