BAB 10 (Sebuah Keputusan)

8.2K 1.5K 287
                                                  


Sinar matahari menerobos diantara celah gorden yang tidak tertutup rapat, sontak membuatku silau karena tepat mengenai kedua mataku. Aku menyipit, berusaha mengembalikan nyawa dari bunga tidur yang terlalu memanjakan.

Hal pertama yang kusadari adalah aku tidak tidur sendiri kali ini. Sesuatu menempel pada punggungku dan rasanya sangat berat.

Oh iya, aku hampir lupa kalau sekarang tugasku kembali menjadi guling.

Mendengar dengkuran halusnya membuatku tenang. Sepertinya malam ini dia tidur nyenyak sekali setelah semalam kami saling menumpahkan rasa rindu, mengubur dalam-dalam rasa benci, dan memupuk kembali rasa cinta yang sempat memudar karena jarak. Aku berharap dia bahagia hari ini, karena kalau hati sudah bahagia, biasanya fisik ikut membaik.

Tanganku melepaskan pelukannya perlahan agar dia tidak terbangun. Sekilas kulihat jam di tangan menunjukkan pukul 05.00. Aku harus mandi dan sholat, setelahnya sebentar saja ingin menghirup udara pagi di luar sembari membeli secangkir kopi.

Pagi ini suasana rumah sakit masih cukup sepi, beda sekali dengan rumah sakitku di Jogja yang 7 x 24 jam selalu ramai. Aku berjalan di koridor rumah sakit sembari memperhatikan orang yang sedang lalu lalang. Ada dokter yang wajahnya kusut karena baru jaga malam, ada perawat-perawat yang sedang tertawa cekikikan entah membicarakan apa, ada staf gizi yang sedang mempersiapkan sarapan untuk pasien, ada cleaning service yang sedang mengepel lantai koridor dan masih banyak lagi.

Sebuah kafe di sudut rumah sakit yang menjadi tujuanku pun masih terlihat lenggang. Hanya ada satu dua orang yang terlihat sedang menikmati sarapannya.

"Adit?"

Satu suara yang tertangkap gendang telingaku itu membuatku berhenti membuka pintu kafe dan lantas menoleh ke sumber suara. "Ben? Kok pagi-pagi kesini?"

"Mau jemput Daddy. Ada operasi cito semalam dan dia minta dijemput pagi ini. Kebetulan supirnya izin cuti karena istrinya melahirkan di kampung, jadi saya dan Kak Rheza bergantian yang mengantar jemput. Tapi kayaknya belum selesai operasinya,"

Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Ben. "Mau sarapan juga?"

"Paling ngopi aja sih,"

"Sama kalau gitu,"

Akhirnya aku dan Ben bersama masuk ke dalam kafe itu. Aku memesan secangkir Hazelnut latte sedangkan Ben memesan secangkir Espresso. Kami memilih duduk di dekat jendela supaya bisa menikmati kopi sembari melihat pemandangan di luar rumah sakit yang langitnya sedang mendung dengan semburat cahaya matahari mengintip malu-malu di balik awan.

"Gimana keadaan suamimu?" tanyanya kemudian menyeruput Espressonya yang masih mengepulkan asap.

"Alhamdulillah sudah membaik,"

"Puji Tuhan! Semoga cepat recoverynya ya! Daddy kemarin bilang kalau progressnya memang sangat baik, mungkin dalam beberapa hari ke depan sudah bisa pulang,"

"Aamiin," Kuucapkan Amin paling serius supaya kondisi mas Adit benar-benar membaik setelah beberapa hari belakangan membuatku seakan kehilangan separuh nyawa.

Ben menyeruput kembali Espressonya. "Oh iya, kemarin saya bertemu Mas Banyu dan membicarakan tentang kamu,"

Tentang aku? Mas Banyu produser program Putih Hitam di TV 8 itu masih ingat denganku? Apa yang mereka bicarakan?

Internal Love 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang