"Jadi ngga?"
"Apaan, anjir?"
Kila menengadah melihat cowok yang berdiri di samping mejanya.
"Ya ke rooftop" Aero menundukkan kepalanya. Kedua wajah mereka kini berhadapan, dengan kedua mata hazel Kila yang bertemu dengan mata tajam Aero.
"Ngapain? Mau loncat dari sana?"
Bahkan dengan hidung yang akan saling menempel, Kila tidak memundurkan wajahnya sedikitpun. Cewek manis ini justru semakin menggoda Aero dengan smirk-nya.
Senyum miring yang harusnya tampak mengerikan di mata orang lain itu justru tampak sangat manis di mata Aero.
"Kila ku sayang, kemarin kan ngajakin bunuh diri bareng?" Kila tertawa keras.
Feriza Akilana. Nama singkat cewek manis bermata hazel dan rambut sepundak yang hitam legam itu berdiri. Mendorong lembut Aero dengan kedua tangannya.
"Aero ku yang polos, lo lupa arti nama gue?"
Aero tersenyum tipis.
"Kila. Plesetan dari Killer artinya pembunuh."
"Nah itu pinter."
Sebelum tangan Kila benar-benar terlepas dari kedua bahunya. Aero menarik tangan kanan Kila.
"Lo udah bunuh gue, dengan nyuri hati gue."
Tangan kanan Kila sudah berada di dada Aero . Bertumpu pada poros cowok di depannya.
Kila menutupi keterkejutannya. Secara tidak langsung Aero menyatakan perasaan kepadanya.
YOU ARE READING
Epiphany
Teen FictionFeriza Akilana. Nama singkat cewek manis bermata hazel dan rambut sepundak yang hitam legam itu berdiri. Mendorong lembut Aero dengan kedua tangannya. "Aero ku yang polos, lo lupa arti nama gue?" Aero tersenyum tipis. "Kila. Plesetan dari Killer ar...
