13 - Mengambil Motivasi

20 9 0
                                    

Hatiku berdesir. Pasalnya, aku pernah melakukan hal yang sama seperti yang wanita muda itu katakan sekarang. Makna 'yaudah' jika disandingkan dengan kalimat setelahnya akan berbeda, aku memahami itu sekarang. Kalau ibu gak jadi beli yaudah gak apa-apa. Berarti belum rezeki saya. Kata-kata itu bak sengatan paling kuat yang menyadarkanku, bahwa sesuatu hal dilakukan baik atau buruk akan kembali pada yang melakukannya meskipun bukan orang yang sama.

"Hampuranya¹, telat wae." A Umay mengawali percakapan saat kami duduk, menjaga dua gang masuk untuk memasuki toko.

"Heem."

"Loba tadi nu balanjana?²" tanyanya menginterogasi.

"Lumayan."

"Tadi teh, ada bapak mertua pengen dianter ke tempat kerja. Eh, kalahkah ngalilakeun,³ jadina telat. Hampura we," jelasnya. Aku mengangguk saja, memang bisa apa lagi? Kan, udah terjadi ya?

Mas Shohib is Calling...

Aku terperangah memandang layar ponsel dengan tulisan itu. Ada apa dengan Mas Ody? Berpikirlah jernih! Aku berdeham untuk menetralkan suara, lalu dengan cepat menyentuh layar bergambar telepon dan menggesernya ke arah warna hijau, tetapi telepon terputus.

31 pesan dari 8 ch....

Shohib Sampai Ke Jannah
[Innalilahi wa innailaihi rojiun. Telah wafat bapaknya Admin kita @Mas Shohib pukul 10.00. Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah. Keluarga yang ditinggalkan diberi ketaqwaan.] Li Samara

[Innalilahi Kak @JS 13, tetap sabar ya.] Fatiha Imuet

[Kak J tetap semangat, ya. Semoga ayahnya Husnul khatimah.] Noeroel 💞💞

[Innalilahi wa innailaihi rojiun. Yang tabah, ya, aku yakin kamu bisa laluin ini, Bro] Kamilaini

Jempol ini hanya bisa menggeser chat-chat yang bertebaran. Aku membacanya satu per satu dengan saksama. Ada admin dengan dua nama di atas, hampir sama maksudku. JSA yang aku namai Mas Shohib milik Mas Ody dan JS 13 milik Kang Jaka. Keduanya di tag oleh orang yang berbeda, ada kemungkinan mereka salah informasi, kan? Bukan ayah Mas Ody, kan?

Aku mengerutkan kening, memikirkan Mas Ody yang tadi menelepon dengan kabar duka dari grup. Bego! Kenapa enggak chat langsung Mas Ody aja ada apa nge-misscall tadi? Ya, kan?

[Ayah Mas wafat. Katanya ada tumor di hatinya.]
[Mas telat tahunya, Sher]
[Mas gak peka sama Ayah sendiri.]
[Doain ya, semoga beliau amal ibadahnya diterima sama Allah.]
[Doain juga biar Mama enggak drop] Mas Shohib

Innalillah ....
Baru kemarin Mas Ody menceritakan ayah yang bahasa Jawanya lembut. Sekarang, semuanya tinggal kenangan yang bisa diceritakan. Allahummagfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu ....

Balasanku sebagai teman hanya bisa menyemangati dan mendoakan. Selebihnya aku kembali ke rutinitas sehari-hari karena wanita muda tadi datang lagi. Dengan jilbab yang sudah kusut masai dan jinjingan lebih dari tiga kantung keresek ukuran super jembo, wanita itu menunjukkan gigi-giginya yang rapi, cantik. Kenapa dunia begitu tidak adil, sudah matanya bagus, kulit kuning langsat yang bersih, dan gigi berjejer rapi, wanita muda tadi begitu menawan.

"Yang tadi aja, Teh. 50, ya?" tanyanya meyakinkan harga tadi.

"Iya, Bu." Aku melangkah masuk dan mengambil barang tadi. Semoga Mas Ody baik-baik aja. Lekas aku bungkus meskipun hatiku jadi tak tentu, memberikan barang itu pada pembeli dan memasukan uangnya ke laci. Ya, sendiri. Bos Subhan percaya pada seluruh karyawan tanpa terkecuali padaku yang baru masuk.

***

Jam 21.12

Setelah mengenal laki-laki di media sosial ini cukup lama, tidurku menjadi tidak aturan. Aku pernah pacaran, tapi hanya untuk mendapat tambahan uang jajan saat di MTs dulu. Itu pun hanya bertahan dua hari dan paling lama seminggu. Tidak ada yang namanya dada berdebar dan raga seperti dibawa terbang ke atas awan. Aku hanya ingat, laki-laki yang diputuskan sepihak olehku marah dan setelahnya pacaran lagi dengan yang lain. Ngakak, kan? Jadi, mbok yo kalau nyari pacar baru itu gampang, kenapa juga harus marah-marah gak terima diputuskan secara sepihak? Itu baru terpikirkan sekarang dan lucu, sumpah!

Berbeda dengan laki-laki ini. Katanya, Mas Ody memulai hijrah, memperbaiki diri, untuk semakin dekat dengan Allah setelah gagal menikah. Putus cinta mungkin akan aku anggap klise dan norak memandang dia sudah berusia 26 tahun. Akan tetapi, gagal menikah bisa membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri, ini pernah terjadi pada Bi Ika. Jadi, aku mendengarkan ceritanya dengan saksama.

Mas Ody merupakan tiga bersaudara, kakak perempuannya sudah menikah dan punya dua anak, adiknya masih kelas satu SMA. Keluarganya termasuk kalangan berada dengan semua aset yang dimiliki. Dia juga bercerita tentang kuliahnya, mengambil D3 dulu baru dilanjut S1. Good Boy. Kini, dia bekerja ... anggap aku lupa di mana letak pastinya, perusahaan tersebut bekerja sama dengan bank. Begitu intinya.

Sekian banyak cerita yang dibongkar, mengikatnya waktu pada kedekatan yang kini terasa, membawaku pada kenangan lima bulan yang telah diciptakan. Seolah-olah menentang takdir, tetapi sebenarnya hanya bergerak memutar lalu kembali pada arusnya, mengalir. Hidup dan takdir seorang yang lain mungkin juga begitu, berusaha melawan dan berbelok dari sesuatu yang dia benci, tetapi akhirnya harus kembali karena Allah lebih meridai.

Bagaimana kalau aku memang tidak ditakdirkan untuk kuliah? Jika Allah lebih meridai untuk aku berbakti pada nenek dan kakek yang sudah merawatku? Apa salah seseorang yang kurang berada memiliki cita-cita?

Tidak salah sama sekali. Seseorang selalu memberi pesan, "Hari ini untuk berjuang, esok hari menikmati hasil. Jika hari ini perjuanganmu hanya mimpi dalam tidur dan tidak mewujudkannya. Esok pagi kau hanya akan berkhayal bagaimana mimpimu menjadi nyata. Akan tetapi, jika hari ini mimpimu diraih dengan segala bentuk perjuangan yang bisa kau lakukan, esok hari kau akan rasakan sendiri buah dari perjuanganmu. Jika lelah, jangan menyerah. Itu kuncinya." Bu Didah berkata.

Aku memegang teguh ikrar itu. Tak apa jika uang masih belum terkumpul untuk mendaftarkan diri tahun ini. Jika bukan sekarang, aku yakin tahun depan ada cara paling baik untuk mencapainya.

Ditambah motivasi dari Mas Ody. Ah, aku menamai kontaknya Shohib karena belum tahu namanya saat diskusi kala itu. Jadi, aku menamainya dengan nama grup kita bertemu. Dia motivasiku hari ini. Jika ingin bersanding aku harus bisa sekufu dengannya, minimal berilmu, kan?

__________________________________________

¹) Hampura: Maaf
²) Loba teu nu balanjana?: Banyak enggak yang belanjanya?
³) Kalahkah ngalilakeun: Malah ngelamain.

Edrea Ivona [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang