00. prolog

6K 321 7
                                        

Badai angin berhembus kencang menerpa wajah rupawan seorang remaja laki-laki yang sedang menghisap barang nikotin miliknya. Kepulan asap keluar dari mulutnya bersamaan dengan hembusan napas pelan miliknya.

Dia menatap sayu pada hamparan kosong di depannya, rasa gundah melanda dirinya.

Jantungnya terus berdebar tak karuan.

Suara geluduk menyeruak menandakan akan turun hujan malam ini, dia membuang putung rokoknya asal, lantas menginjaknya dan pergi memasuki kamar dengan langkah gontai.

Mata pandanya menandakan bahwa dia sama sekali tidak tidur semalaman, makan sesuap nasipun tidak.

Sekarang dia duduk diam di meja belajar dengan lampu kecil yang menjadi penerangan satu-satunya dikamarnya saat ini.

Hujan turun sangat deras membasahi jalanan ibu kota. Beruntung, sekarang telinganya tersumbat earphone yang terhubung pada ponselnya.

Memutar sebuah lagu favoritnya.

Lantas dia menghela napas, tersenyum tipis kala mengingat dia.

Iya, dia. Laki-laki yang selalu mendapat hinaan orang-orang karena jengkel dengan hadirnya.

Namun, ternyata bukanlah hanya orang-orang itu yang membuatnya terluka, tetapi lelaki inilah yang sesungguhnya membuat dia terluka.

Tangannya menggenggam kalung liontin dimana disitu terdapat inisial nama seseorang. Dia membuka liontin berbentuk separuh hati yang mendapati foto seorang laki-laki manis, wajah kecil dengan bibir tipis yang menampikkan senyum yang manis juga.

Dia tersenyum getir, "Gue kangen lo chi," Ungkapnya lirih menyiratkan kepedihan yang amat kelam dihatinya.

Lalu menangis di tengah malam yang kelabu.

©Before namon
Kamis 10 september 2020

Before Namon✓Stories to obsess over. Discover now