sebuah prolog.

28 10 1
                                        


Bocah kecil itu berumur 8 tahun. Adriel namanya.

Besok hari libur. Makanya Mama mengajak Adriel pergi ke pantai yang punya waktu tempuh 2 jam lamanya dari kediaman mereka di pusat kota. Mama tahu Adriel suka sekali bermain di pantai, tapi liburan singkat di akhir minggu kali ini lebih terasa seperti hadiah kecil untuk Mama bisa beristirahat.

Tapi Adriel senang. Kemanapun tidak apa-apa, yang penting bersama Mama dan senyumnya. Sudah lama Mama tidak tersenyum lega seperti itu. Hati kecil Adriel membatin, seandainya mereka tidak harus kembali ke pusat kota dengan cepat..


Air laut yang terasa hangat sore ini datang dan kembali mengenai kaki Adriel. Jari kakinya mencengkeram pasir lembut agar tidak terseret lebih jauh. Angin sore itu agak sedikit lebih kencang daripada yang biasa ia rasakan kalau dia berjalan pulang dari rumah temannya atau dari perpustakaan di kota; beberapa butir pasir terbang mengenai lengannya.

Pantai saat itu masih saja ramai, beberapa anak kecil seumurannya bermain istana pasir yang terus saja hanyut terkena air; ada pasangan yang piknik dibawah payung menikmati matahari yang mulai terbenam dan senja yang mulai terbit; dan ada seorang perempuan seumur Mama memanggil anak-anaknya yang datang berlarian menghampiri lelaki di sebelah perempuan tersebut.

Iya, dulu ada Papa di tengah bayangan mengenai keluarga kecil mereka. Sosok Papa terlihat dan terdengar samar-samar dalam hidup Adriel. Yang dia ingat hanyalah Papa tidak suka pantai, dan Papa yang tidak ikut ke bandara bersamanya dan Mama saat mereka pindah ke Manila 3 tahun yang lalu. Adriel kira Papa akan menyusul setahun kemudian, saat Mama mulai bekerja di Beijing. Adriel kira Papa yang membunyikan bel di apartemen kecil mereka yang baru di Bangkok, bukan pemilik komplek apartemen. Adriel pernah mengira Papa akan menyusul Kakek yang datang mengunjunginya dan Mama di minggu terakhir mereka di Kuala Lumpur.

Setiap hari Adriel berharap setiap bunyi bel rumah atau setiap dering telepon berasal dari Papa. Namun setiap kali Adriel melihat pandangan Mama, dia merasa mungkin akan lebih baik bila dia berharap agar yang terjadi justru sebaliknya.


"Kamu baru, ya, di sini?"

Pertanyaan seperti itu terlalu mengejutkan bagi Adriel yang sedang melamun, sampai-sampai dirinya kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke pasir yang basah--padahal kakinya sudah seperempat terbenam.

Aduh, celananya terkena air. Semoga Mama tidak marah, pikir Adriel sambil melirik sebal. Apa-apaan sih, anak ini mengagetkan saja. Mana ada orang yang tiba-tiba bertanya hal seperti itu ke orang yang lagi melamun?


"Apa, sih?" tanya Adriel gusar.

"Aku tanya, kamu orang baru di sini?" tanya anak itu lagi. Anak perempuan, kira-kira seumuran dengannya. Tidak mungkin lebih tua, tapi yang membuatnya kesal adalah anak ini tidak melepaskan pandangannya sekalipun seiring Adriel mencoba kembali untuk berdiri. Tidak hanya dia diam saja menunggu jawaban, ternyata dia juga lebih tinggi, jadi Adriel harus mendongak untuk membalasnya.

"Baru pernah ke sini sekali." gumam Adriel, berharap anak ini cepat pergi.


"Oh, pantes. Ayahku buka restoran di sini, makanya tiap akhir minggu aku selalu ke sini. Nggak pernah lihat kamu sama sekali, makanya aku tanya begitu." jawab anak perempuan itu.

Nggak tanya, batin Adriel. Selain segan membantu sesama, ternyata anak ini juga bawel.

"Memangnya kamu tinggal di mana?" tanya anak itu lagi, kelihatan tidak peduli dengan Adriel yang perlahan mulai berjalan kembali ke arah tempat duduk Mama.

"Dari tengah kota."

"Hah, itu kan, jauh banget?"

Bukan urusanmu. "Iya."

"Datang sama siapa ke sini? Jalan-jalan, ya, soalnya besok libur?"

Duh, rasa penasarannya keterlaluan. "Iya."

Tiba-tiba anak itu terdiam, tidak lagi mengikuti langkah kecil Adriel. Kok diam? Pikirnya kebingungan. Eh, bagus. Saatnya kabur.


Baru saja dia berpikiran untuk mengambil ancang-ancang untuk lari, anak itu kemudian berbicara lagi.

"Ikut ke restoran ayahku, yuk?" ajaknya sambil menunjuk ke arah sebuah pondokan dengan deretan lentera dan pot-pot tanaman hias, tidak jauh dari dek tempat berjemur matahari. Dari kejauhan, Adriel bisa melihat Mama yang sudah mulai merapikan payungnya.

"Hah?" Mama bilang, Adriel harus selalu berhati-hati sama orang yang tidak dikenal. Anak perempuan ini kelihatan baik, hanya saja dia banyak tanya. Dan mencurigakan.

"Iya, ayo kita main!"


Adriel menggelengkan kepalanya dan menunjuk ke arah Mama yang melambaikan tangannya. "Nggak bisa. Hari ini mau makan hamburger sama Mama-ku."

Wajah anak perempuan itu sedikit cemberut mendengar jawabannya, tetapi hanya sesaat, sebelum kembali cerah seperti lentera yang mulai dinyalakan di restoran ayahnya. "Ya sudah, besok kamu ke pantai lagi. Ketemu aku, ayo main bareng!"

Adriel tersenyum setengah hati sambil melambaikan tangannya kepada Mama. "Mama udah manggil aku itu--" katanya, tiba-tiba melihat ke sekelilingnya dengan pandangan bingung.

"Adriel! Ayo, pulang!" teriak Mama dari kejauhan.

Petang sudah datang dan semburat ungu kemerahan perlahan muncul di langit. Petang hari itu menyisakan dua pasang kaki kecil yang tercetak di pasir, Adriel dan Mama yang menggandengnya pergi, dan sebuah pertanyaan tentang anak perempuan yang tiba-tiba lenyap dari pandangannya.

between the pages.Where stories live. Discover now