Alana melangkahkan kakinya malas memasuki halaman SMA Brawijaya, mengedarkan pandangannya ke sekeliling sekolah kemudian menghela nafasnya panjang.
“Hari ini akan panjang Alana” gumamnya pelan kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruang guru yang andai saja ia tau dimana letaknya.
Seluruh pasang mata menatap kedatangan Alana penuh puja dan selidik, gadis cantik dengan wajah bule dan seragam berbeda membuatnya nampak begitu mencolok di antara para murid yang ada.
Ia mengedarkan pandangannya kesal karena tak kunjung menemukan ruang guru, kakinya juga lelah karena sudah mengitari area itu 2 kali dan selama itu juga ia menjadi tontonan murid - murid di sana.
Kring...kring...
Gadis cantik itu kembali menghela nafasnya lelah, bel sudah berbunyi dan ia masih seperti kucing yang kehilangan induknya di tengah - tengah koridor sekolah, bahkan murid - murid yang tadi menatapnya juga sudah memasuki kelas masing - masing.
“Nyari apa? Dari tadi kaya setrikaan loh” tanya seorang pemuda yang tidak Alana ketahui namanya dengan nada ramah dan senyum yang manis.
Alana yang mendengar pertanyaan itu langsung menolehkan kepalanya dan tersenyum kikuk, malu karena sudah diperhatikan oleh sesosok tampan yang tiba - tiba muncul. Pemuda di sampingnya saat ini nampak begitu tampan dengan seragam yang dikeluarkan dan tanpa dasi, setelah diperhatikan ternyata pemuda di sampingnya ini adalah kakak kelas 12.
“Eum anu kak, nyari ruang guru hehe” jawab Alana sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berusaha menetralisir malunya walau setidaknya hanya sedikit.
Pemuda yang tidak Alana tau namanya itu nampak tersenyum tipis kemudian menggenggam tangan Alana tanpa permisi “Ayo saya antar, ruang guru ada di ujung lantai 2” ucapnya tanpa menghiraukan wajah terkejut Alana.
“Nama kamu siapa?” tanyanya saat sampai di tangga dengan tangan yang masih mengenggam erat tangan Alana.
“Alana, kalo kakak?” jawab dan tanya Alana setelah dapat menetralkan detak jantungnya.
Bayangkan saja, dihari pertamamu bersekolah yang begitu melelahkan tiba - tiba datang seorang pemuda tampan dan tanpa ijin ia menggenggam tanganmu erat kemudian mengajakmu menuju ruang guru yang sedari tadi memang sedang dicari.
“Arvino tapi khusus kamu panggil sayang atau Arvin saja ya” jawab pemuda itu sambil tersenyum manis dan berhasil membuat jantung Alana menggila detik itu juga.
Wajah cantik Alana yang berkulit putih cerah tanpa noda mendadak berubah menjadi merah merona terutama dikedua pipinya, menghadirkan kekehan dari bibir menawan milik si tampan.
Tangan Arvin yang bebas tiba - tiba terulur untuk mencubit pipi merah Alana gemas “Pipi kamu gemes kalo ngeblush dek.”
Alana yang mendapat perlakuan manis secara tiba - tiba itu mendadak merasakan henti jantung selama beberapa detik disusul dengan nafas yang tercekat di pangkal tenggorokannya. Kakinya tetap melangkah namun pikirannya sibuk berkelana dan matanya membola terkejut.
“Dek udah sampai nih, saya duluan yah sampai ketemu lagi” ucap Arvin yang langsung pergi setelah mengusak rambut Alana hingga berantakan.
Gadis cantik itu masih terdiam berusaha mencerna kejadian beberapa menit yang lalu, tubuhnya diam mematung di depan pintu ruang guru dan jantungnya juga berdetak tak karuan.
“Al mikir apa sih!” Alana menepuk pipinya 2 kali berusaha bangun dari lamunannya.
Ia memasuki ruang tersebut kemudian mengedarkan pandangannya mencari - cari seseorang yang bisa ia tanyai dan pandangannya jatuh pada sesosok guru cantik yang sedang duduk sambil membaca beberapa berkas.
YOU ARE READING
ARANA
Random[SEBAGIAN CHAPTER DI PRIVATE, FOLLOW UNTUK MEMBACA] Ini bukan cerita tentang ketua geng motor yang jatuh cinta pada gadis lugu, perhatian nan cantik di awal jumpa. Tapi ini cerita tentang si cantik dengan banyak rahasia dan misteri, seorang gadis ya...
