1

66 5 2
                                        

Hari yang cerah untuk memulai sesuatu yang baru. Matahari sudah menyapa hangat Auryn. Gadis berambut hitam panjang itu menggendong tasnya sudah bersiap menungu seseorang yang akan mengantarnya kesekolah. Siapa lagi kalau bukan Rafael pacarnya yang bersedia menemani kemana Auryn pergi.

Walau jarak sekolah mereka yang lumayan berjauhan, tidak membuat Rafael keberatan untuk mengantar pacarnya terlebih dahulu. Salah satu alasannya adalah Rafael hanya memastikan Auryn aman dari anak laki-laki lain.

Tak perlu menunggu lama, sang pangeran pun datang. Kini motor Rafael melaju cepat menuju sekolah Auryn.

Mereka sudah berpacaran selama 1 tahun. Dimata Auryn, Rafael adalah sosok pacar yang baik, dia juga tampan, jago basket, walau terkadang terlalu over protektiv terhadapnya, akan tetapi sejauh ini sikapnya masih dalam batas wajar.

Sementara Rafael sangat bangga memiliki pacar yang lemah lembut, imut dan manja, selalu mematuhi apa yang ia bilang, dan yang paling penting adalah Auryn sangat cantik dengan postur tubuh yang ideal, kulit kuning langsat yang mulus, juga rambut hitamnya yang terurai panjang. Sangat sangat memenuhi kriteria idamannya.

"Nanti kalau undah pulang kabarin oke?".

Auryn pun mengangguk membalas perkataan pacarnya.

"Oke, aku pamit ya. Jaga diri baik-baik jangan genit!!".

Auryn hanya tersenyum membalas perkataan yang selalu ia dengar setiap pagi dari pacarnya itu.

Setelah meninggalkan Rafael yang berpamitan, Auryn melangkah melewati gerbang sekolah dengan tenang, tapi ia heran ketika melihat lapangan yang penuh dekorasi dan banyak anak yang berlalu lalang memakai kostum ekskulnya masing masing.

Padahal, ini kan masih pagi, tak biasanya sekolah seramai ini. Apa akan ada konser dadakan?. Atau ulang tahun sekolah?. Entahlah, Auryn terus berjalan menuju ruang kelasnya dan mencoba mengabaikan suasana sekitar.

"Ran...". Panggil Auryn pada orang disampingnya yang sibuk dengan handphonenya.

"Oitt..".

"Kok diluar rame gitu sih, emang ada acara apaan?". Tanya Auryn terheran.

Rani mematikan HP nya kemudian memasukkannya kedalam saku baju.

"Nanti siang sekolah kita mau ngadain demo eskul".

"Kok dadakan?".

"Karna digoreng anget-anget..... Wakakakakak. Lucu juga gue".

Auryn tambah menatap heran Rani dengan sedikit memberikan senyum menghargai jokes sahabatnya.

"Sekolah ita kan udah ter akredetasi A, jadi pihak sekolah mau ngeaktifin ekskul lagi kaya dulu". Jelas Rani. Auryn membalasnya dengan mengangguk.

Siang hari pun tiba. Semua kelas sudah kosong berbeda halnya dengan lapangan. Sangat penuh dengan murid murid dan juga dekorasi.

Sekolah sudah memanggil pelatih dari masing-masing ekskul. Semua sibuk memperhatikan demo yang sedang ditampilkan. Dari awal Auryn sama sekali tidak tertarik dengan penampilan ditengah lapangan itu. Tapi guru-guru bilang setiap anak yang mengikuti ekskul akan diberi tambahan nilai dirapot, maka dari itulah Auryn terpaksa memilih salah satu.

Setelah acara selesai, murid-murid berhamburan menuju meja pendaftaran sesuai dengan minatnya masing-masing. Sedari tadi Auryn terus saja menatap layar hpnya sampai ia tidak menyadari pendaftaran akan segera tutup.

Beruntung ada Rani sahabatnya yang langsung menarik tangan Auryn menuju meja pendaftaran.

"Lo mau ikut ekskul apa?" Tanya Rani.

"Lo sendiri?".

"Dih ditanya malah nanya balik, gimana sih". Geram Rani mendengar perkataan sahabatnya itu.

"Gue bingung". Auryn mengamati sekitarnya mencari jawaban dari pertanyaan Rani. Salah satu yang Auryn cari adalah kostum yang menurutnya paling menarik.

Diujung sana ada beberapa anak yang menggunakan pakaian layaknya penari. Menarik, tapi Auryn trauma sebab ia pernah jatuh dari panggung saat menari jaipong difastival SMP nya dulu.

Sejujurnya Auryn sangat tertarik dengan basket. Ia sangat ingin masuk club basket, akan tetapi Rafael akan marah sebab itu akan menghilangi aura anggun yang Auryn miliki.

Akhirnya mata Auryn tertuju pada sekumpulan anak yang berpakaian aneh bagi nya. Ia fikir itu adalah salah satu ekskul seni, sebab seragamnya lumayan mirip dengan anak cheerleader yang biasa Auryn lihat di mal-mal.

"Ran Ran... Itu aja yuk, kayaknya seru". Ucapnya sambil menarik lengan baju Rani.

"Hmmm.. Oke lah, kayaknya emang jalannya gue nerusin ekskul ini dari SMP". Seru Rani dengan ekspresi datar.

Mereka berdua akhirnya menghampiri tujuan dan langsung menulis nama dibuku pendaftaran.

"Jangan lupa hari jumat sore kita udah mulai latihan ya. Info lebih lanjut kita kasih tau digrup. Hatur nuhun....". Sapaan yang sangat ramah dari salah satu senior.

"Sami- sami teh". Balas Rani tersenyum.

Sementara Auryn?. Dia terlihat keheranan melihat Rani dan senior itu begitu akrab. Terlebih lagi mereka berbicara dengan bahasa sunda. Dimana-mana Cheerleader itu kan kebarat-baratan, kok ini?....

"Dia sodara lo Ran?". Tanya Auryn yang berjalan beriringan dengan Rani menuju gerbang sekolah.

Rani sedikit menaikan bahu. "Bukan".

"Tapi kok akrab banget?".

"Nanti juga lo tau kok". Jawaban Rani tambah membuat Auryn kebingungan. "Gue duluan ya, abang gue udh jemput".

"Owh ya, hati-hati".

Next 

LotusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang