Inilah Aku, Jennie

81 3 0
                                        

Dibawah rintik hujan, tubuhku berseri. Suara rintiknya bahkan membuatku gila. Wangi yang ditinggalkannya, membuatku tak karuan. Bagian terakhirnya adalah tambahan kebagahagiaan.

Hujan, petrikor, Aku. adalah satu kesatuan yang begitu lekat dan bahkan sulit hanya untuk diregangkan.

Aku Jennie. Cewek 17 tahun yang sedang menjelajahi masa puberku. Aku sedikit berbeda, namun tetap sama. Aku juga menyukai hujan seperti kalian. Aku merelakan waktu yang bisa kugunakan untuk menghitamkan kulitku, hanya untuk menunggu hujan datang. Belanja? aku bahkan melewatkannya bulan ini! begitu mencintai hujan bahkan aku seolah dapat meninggal karena satu rintiknya.

~

"Uwaaaaa!!! hujan!!!!! ayo, ayo, ayoooo!!!!! siapkan tempatmu Jennie! jangan sampai sedetikpun terlewatkan! ini adalah saat-saat mu untuk menjadi wanita!", teriakku kegirangan karena langit mendung.

"Kakak!! bisa tidak singkirkan sedikit pita suaramu dari telingaku!", adikku marah.

*Leo, dia adikku. Tidak pernah menyukai apa yang kulakukan. Kelas 8 sekolah menengah.

"Terus saja! terus saja bergumam! aku tidak dapat mendengarmu", balasku.

~

Begitulah kira-kira kegilaanku atas hujan. Benar-benar gila bukan? kekeke.

~

"Siapkan ini disini, dan ini..", bingungku.

"Ahh!!! lupa!!! dimana buku diariku!", teriakku.

"Uwaaaahhhh jagan lagi, jangan lagi!!! T.T", teriakku gila.

Dari depan adikku bergumam, "Benar ibu, dia benar-benar diciptakan dengan setting volume up".

Akupun menghampiri adikku dan mengeksekusinya,

"Jangan main-main denganku ya, kali ini kau kemanakan? tidak puas juga? diariku yang malang T.T", ucapku bertanya.

"Ibu, Ayah! Dia terus menuduhku membuang diarinya, terkakhir kali dia menuduhku menjual diarinya -_- Bukankah terakhir kali kau meninggalkannya di atap?", lanjutnya.

"makanya jangan suka hujan-hujanan di atap! cari di garasi sana!", marahnya.

"A.. apaa? garasi? benar! semalam aku tertidur disana!", ucapku kemudian berlari ke garasi.

"Huhh, dia yang suka tidak waras, tapi dia menganggap seolah dirinya paling waras", lanjut gumam adikku.

~

Waktuku menikmati hujan memanglah selalu terpotong. Ada saja hal yang kulupakan. Tapi.. Aku tidak benar-benar tidur digarasi ya keke, awas kalian!

Sebuah diari, susu strawberry, dan telepon adalah benda wajibku saat turun hujan. Disebelah kiri, telepon genggam ku berada. Di bagian kanan, susu! susu strawberry kesukaanku keke. Daaannn... aku akan menggenggam buku diari ku, memeluknya, dan membayangkannya sebagai kekasihku, ah tidak tidak! bercanda keke. *jangan bayangkan itu ya keke!

Benar sekali, aku selalu menulis diari. Saat hujan, mood ku selalu naik bahkan full. Disitulah aku selalu menulis dan mendapat kalimat-kalimat yang indah. Entah mengapa, selalu kucurahkan semua kegelisahan ataupun perasaan ku saat hujan turun. Saat itu juga lah aku menulis di diari ku. Saat cuaca cerah, aku cenderung bingung berkata-kata. Pikiranku terhenti! Bosan! dan akhirnya memilih keluar rumah beraktifitas. Dan ketika terlihat olehku sinar matahari seperti meredup dan menghilang, aku akan segera berlari mencari semua barang wajibku! ya, hujan akan segera datang keke..

*Bagaiamana saat sekolah? kalian pasti bertanya begitu kan?

Saat disekolah, dimejaku selalu tertata seperti saat aku menikmati hujan. Ya!!! benar begitu!! aku duduk di dekat jendela! benar-benar takdir kan keke *sangat bahagia.
Dimeja ku, jelas, kiri telepon, kanan susu strawberry, dan diari ku di bawah buku pelajaranku.

Ya begitulah aku, menikmati hujan sudah seperti menikmati surga. Kuharap, hujan selalu datang menghampiriku saat aku sedang sedih. Hidupku sudah seperti membutuhkan hujan. Hujan.. bagaimana aku bisa melupakanmu T.T tidak bisa T.T

# Beri komentar, kritik, serta saran kepada penulis supaya dapat lebih baik kedepannya.

PetrikorGeschichten, die süchtig machen. Entdecke jetzt