"Hanya wajah yang sama tetapi sifat bertentangan, wajah sama tidak membuktikan sifat yang sama"
~Defrania
Dert.... Dert.... Dert....
Getar alaram dari hp milik seorang gadis yang sedang tidur dikamar bernuansa putih terlihat mewah dengan kasur queen size yang dimilikinya.
DERT...
Getar dan suara alaramnya semakin keras, Sontak gadis tersebut terbangun dan mengecek jam berapa saat ini.
06.15 "Yey waktunya sekolah" ujarnya yang terlihat sangat senang, dia langsung memebenahkan dirinya untuk siap siap turun kebawah dan sarapan agar lebih bersemangat lagi berangkat sekolah.
Dengan senyum manis seorang gadis yang cantik dengan rambut yg digerai, bibir yang bewarna pink murni, dengan mata coklat miliknya yang membuat dia terlihat sempurna seperti putri.
Dia menuruni anak tangga secara perlahan menggunakan seragam sekolah dan membawa tas sekolah miliknya menuju meja makan.
"Bibi" ujar gadis tersebut yg telah sampai dimeja makan.
Dia bernama Ravania yara alexandra, bisa dipanggil Vania, dia gadis berusia 15 tahun dan baru menginjak SMA, dengan parasnya yang cantik plus imut, memiliki sifat yang manja dan sangat polos membuat orang orang gemas dengannya.
"Eh non Vania, mau berangkat ya?" Tanya seorang perempuan paruh baya yg sedang menyiapkan makanan.
Perempuan itu bukan ibunya melainkan Bi Rina, Bi Rina sudah lama bekerja dirumah Ravania, bahkan sejak Vania masih sd, Vania menganggap Bi Rina sudah sebagai ibunya sendiri.
"Iya dong, masa Vania enggak sekolah, bisa bisa Vania dimarahin Bang Vano" jawab Vania disambung dengan kekehan nya.
Vania menoleh kekanan dan kekiri mencari seseorang,"Mamah sama Papah belum pulang bi?" Tanya Vania dengan wajah yang terlihat murung.
"Udah non, jam2 pagi mereka sudah sampai rumah, terus mereka berangkat lagi jam5" jawab Bi Rina.
Lagi lagi orangtuanya sibuk dengan pekerjaannya, sudah beberapa hari Vania tidak bertemu oleh papah dan mamanya. Rindu?, Itu pasti semua anak pasti akan merindukan orang tuanya jika beberapa hari tidak bertemu.
Vania yakin kedua orangtuanya sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya walaupun harta yang di miliki keluarganya tidak akan habis sampai tujuh turunan.
"Vania mau mamah sama papah selalu ada buat Vania" batin Vania, Raut muka Vania yang awalnya terlihat sangat ceria berubah draktis karena tidak bisa bertemu kedua orangtuanya lagi dipagi hari ini.
"Dor" seseorang mengagetkan Vania yang sedang melamun dari belangkang.
"Ih Abang KAMBING, Vania kaget tau" sontak Vania terkejut dan memukul laki laki yang berada dibelakangnya.
"Kalo gue kambing berarti lo Adek kambing dong" kekeh seorang lelaki tersebut yang bernama Alvino rayen alexandra, bisa dipanggil Vino, Vino anak kedua, memiliki sifat yang jail dan sedikit bandel disekolah dan dia juga bergabung disuatu Komunitas.
"Enak aja, Vania cantik gak burik kaya Abang" bantah Vania dengan menatap tajam Abangnya.
"Jangan natep gue gitu, bukanya serem malah tambah jelek lo" Vino mengejek Vania lagi, membuat Vania benar benar marah dan memukul bahu Abangnya, terjadilah keributan antara Abang dan Adek di pagi hari ini.
"Diam!" lerai seorang lelaki yang suaranya sangat menggelegar dari arah tangga, dengan seragam yg sudah rapi laki laki itu menuju meja makan.
Vania dan Vino pun menoleh ke arahnya dan mereka berdua langsung buru buru untuk mencari posisi duduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
DEFRANIA
Teen FictionTerjebak dalam masa lalu yang buruk dengan penyesalan yang begitu dalam, semuanya tidak bisa diulang kembali dan tidak bisa diperbaiki seperti semula. Semuanya berubah waktu berjalan cukup cepat dan hari yang dijalani terasa hampa. Aku ingin merubah...
