1. Aerindri Hill

1.4K 82 20
                                        

●●●

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

●●●

"Aerindri dibesarkan dengan sangat royal, untuk ukuran anak yang dulu ditemukan di tong sampah."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Ian, terdengar ringan, seolah hanya fakta biasa yang tak menyimpan luka. Namun bagi Aerindri, kalimat itu seperti tamparan keras di tengah makan malam yang seharusnya hangat.

Beku.

Aerindri benar-benar membeku di kursinya. Jantungnya seperti berhenti berdetak sesaat saat ayahnya dengan enteng mengingatkan bahwa dirinya hanyalah anak yang ditemukan di tong sampah—anak yang kemudian dibesarkan seperti tuan putri, diberi fasilitas, nama, dan kehidupan mewah.

"Wow... I'm so lucky..." gumam Aerindri pelan, senyum tipisnya terasa getir, nyaris tak terdengar.

Ia menelan ludah, mencoba mengalihkan topik. "Makan malam ini... untuk apa, Yah?" tanyanya lirih, menatap bergantian pada Ayah dan Bunda yang duduk di hadapannya.

Ian menyilangkan tangan di atas meja. "Makan malam ini spesial. Karena kamu akan tunangan nanti."

Aerindri langsung menggeleng keras, napasnya memburu. "I have a boyfriend!"

Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin.

"Di mana ucapan terima kasihmu selama ini?" suara Ian berubah tajam.

"Ayah—"

"Kami membesarkanmu dengan baik, dengan segala yang kamu mau. Dan ini yang kamu balas?"

Dengan baik?

Kata-kata itu berputar di kepala Aerindri.

"Bukan mau aku waktu itu berada di tong sampah," ucapnya pelan, air mata mulai menetes tanpa bisa ia cegah. Ia tak sanggup lagi menatap orang-orang di meja makan itu. "Aku nggak pernah minta untuk ditemukan. Jangan jadikan itu alasan buat seenaknya ngatur hidup Aku."

"Kami membesarkanmu! Kamu sepenuhnya hak kami!" geram Ian, memotong ucapan Bunda Kila yang sempat hendak menenangkan suasana.

"Apa hak itu berarti hak buat maksa keinginan kalian ke aku?" suaranya bergetar, tapi kali ini ia memberanikan diri menatap ayahnya.

"How dare you!"

"I can't, Yah..." lirihnya, bahunya bergetar. "Aerindri punya Alres. Aku nggak mau ngecewain dia."

Ian menghela napas panjang, lalu berkata dengan nada berat, "Ayah pernah mengajukan penyatuan Hill Group dan Leander Group. Tapi kakek Alres, Aber Leander, menolaknya. Dia bilang cucu-cucunya nggak akan menikah kalau nggak saling mencintai. Mau taruh di mana muka Ayah kalau kalian masih bersama?"

"Itu sebelum Alres kenal aku, Yah! Itu tiga tahun lalu!" potong Aerindri cepat. Kali ini ia mendongak penuh keberanian.

"Ayah minta tolong, Ri..." suara Ian mendadak melunak, nyaris terdengar memohon. "Ayah nggak pernah minta apa-apa dari kamu. Ini pertama kalinya. Bisa?"

ALRESWhere stories live. Discover now