Hai para reader setia Syah, apa kabar? Alhamdulillah sehat semua pastinya kan?
Oia, bantu cerita Rahma dengan boom vote dan komen sebanyak-banyaknya yu. Mulai dari part ini ya. Jangan cuma nimbrung aja, oke!
Gimana udah siap belum baca part ini? Udah yakin mau baca? Eh tapi-tapi tunggu dulu. Gimana sebelum baca kalian cuci muka dulu? Emang kenapa harus cuci muka dulu? Gak kenapa-kenapa sih, cuman biar fresh aja tuh muka sama mata kalian><
Udah-udah deh, yu langsung baca. Selamat membaca para reader setia Syah.
✨500± reader 300± vote, 100± coment✨
°•°•°•°•°
Jam 19.25 PM.
Malam yang indah. Dimana bulan dan bintang menyatu menyinari alam semesta. Bulan dan bintang terpampang indah di langit malam. Betapa sungguh sempurna ciptaan Tuhan.
Angin sepoi-sepoi dari arah barat, menyelinap masuk kedalam rumah seseorang yang tengah membukakan pintu-pintu rumah dan jendelanya. Salah satunya keluarga berdominan bernama belakang Jions. Bukan marga tapinya. Hanya penghias nama.
Dimana seorang Ibu dan anak gadis satu-satunya yang sangat ia sayangi ini tengah duduk di sofa empuk berwarna abu tua yang berada diruang tamu. Mereka berdua hanya sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Membuat keheningan di sekitarnya.
Lina yang bingung dengan situasi keheningan ini pun membuka suara terlebih dahulu.
"Ra?" Tanya Lina dengan wajah gugupnya.
"Apa mah?" Jawab Rahma yang tidak bisa sama sekali luput pandangan dari layar ponselnya itu.
Ia hanya menggerakkan tangannya mengikuti irama musik dari ponsel miliknya. Pasti kalian sudah tau kan apa yang sedang dilakukan Rahma. Ya, Tik tok.
Tik tok. Aplikasi top free no lima yang sudah di download lebih dari 100 juta manusia. Bagaimana tidak 100 juta lebih, sekarang manusia-manusia sudah mendownload Tik tok karena dari situlah uang mengalir. Tapi bukan berarti Rahma mencari uang di Tik tok. Hanya saja ia mendownloadnya untuk sekedar bersenang-senang saja.
"Gini, Papah kan mau di pindahin kerjaannya." Lina menjeda omongannya dan meneguk saliva ya dengan berat.
Lagi-lagi Lina tak kuasa menahan kegugupannya. Mau bagaimana lagi! Mau tak mau rasa bimbang, resah, gugup di dirinya harus tetap ia mengatakannya kepada Rahma.
"Ya, terus kenapa tu Mah?" Sahut Rahma. Ia melirik sekilas Mamanya yang sudah terlihat kegugupan tingkat dewa.
"Papah bilang sama Mamah, katanya kerjaan Papah sementara dipindahkan ke Bandung Ra. Jadi, Mamah harap kita sekeluarga tinggal aja disana sekalian,"
"dan, dan, gak ada salah nya kan Ra kamu sekolah juga di sa--," Rahma dengan cepat menjeda pembicaraan Mamanya. Sebab ia sudah mengerti maksud dan tujuan dari kata-kata dari Lina barusan.
"Mah, jangan bilang Mamah mau aku lanjutin SMA aku kesana? Ya kan?" Ucap Rahma menyakinkan. Detak jantung Rahma mulai tak terkontrol. Ia sudah tahu ending dari percakapan Lina itu apa. Terasa sangat menyebalkan rasanya.
"Ga Mah! Lagian aku ini udah nyaman sekolah di Jakarta. Aku baru aja mulai masuk sekolah. Dan itu baru dua bulan, dua bulan Mah. Aku gak mau!" Ucap Rahma dengan bibir sedikit memaju.
Sembari menghentakkan kaki-nya sebagai tanda kalau ia tidak menyetujui perkataan dari Lina.
YOU ARE READING
Rahma & Amnesianya
Teen FictionThis is Rahma's life story. 'belum di revisi' Ini kisah yang takkan pernah terlupa dikehidupan Ka Hendra Genk Six, become one. Banyak derita hidup yang sangat menyayat hati mereka. Siapa lagi kalau bukan seseorang yang sangat mereka sayangi. Ia adal...
