Saka Hotel.
Remang-remang lampu berandanya bukanlah sebuah ketidaksengajaan. Memang begitulah ciri khas hotel tak berbintang di kota ini. Salah satunya adalah bangunan kumuh itu.
Pada era edan ini, negara berkembang harus mengalami kemunduran dan bergabung kembali dalam lingkaran benua terbelakang. Menyebabkan rakyatnya tertinggal jauh, baik dari segi gizi maupun pengetahuan. Sebagai contoh generasi terbelakang zaman ini adalah dua remaja yang kini berjalan sejajar menghampiri beranda Saka Hotel dengan langkah biasa. Lelaki bertubuh tinggi berkulit sawo matang berada di kiri dengan busana celana jins model kapak dipadu jaket berbahan sama. Pandangannya berbelok ke samping, menatap gadis bertubuh lebih pendek darinya dengan sendu.
Hentakan napas dilepaskan si lelaki sembari menggenggam tangan sang gadis. Gadis itu menggenggam lebih erat, menyatukan jari-jemari mereka semakin melekat dan keringat dinginnya melebur di sana. Mereka tiba di beranda hotel remang-remang itu.
"Are you sure about this, Bang?" Gadis belia dengan kepang kuda di balik kepala itu membasahi bibir penuh keraguan. Ia berdiri menghadap sang kekasih yang bertubuh jangkung tersebut.
Si lelaki mengambil tangan sang gadis dan merapatkan ke dada. Lalu mengecup puncaknya lembut.
"Kita sudah pernah melakukan ini sebelumnya," katanya manis.
Banyak kendaraan berkeliaran di jalanan. Kehidupan malam kota ini memang dimulai tepat setelah pergantian tanggal, kurang lebih lima belas menit lalu.
"Dan lagi, jika kau ragu kita bisa membatalkannya. Aku tak ingin memaksa." Si lelaki menghempas lembut tangan sang gadis.
Pasangan beda usia itu memang telah beberapa kali melakukan hubungan badan. Sudah dua kali lebih tepatnya. Dan dini hari ini, mereka akan melakukannya lagi untuk ketiga kali. Hubungan seks itu terjadi atas dasar suka sama suka. Didukung oleh rasa cinta menggebu, keduanya tak pikir panjang untuk saling membuktikan bahwa cinta keduanya bukan hanya sekadar ucapan. Pembuktian yang jelas salah apabila dinilai dari kacamata seseorang berpikiran maju. Bukan bocah tengil yang sok dewasa seperti mereka.
Akan tetapi kali ini terdapat keragu-raguan di wajah sang gadis yang kemarin baru genap berusia lima belas tahun itu. Pasalnya, ini adalah pertama kali mereka melakukan seks di tempat asing.
Lelaki di hadapannya, yang berusia dua tahun lebih tua, menyentuh dagunya agar bisa menyelami sepasang kolam di kedua mata sang gadis.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu?" tanya si gadis setengah gelisah.
Sang kekasih justru tersenyum manis. "Maka aku yang akan bertanggung jawab, Sayang." Ucapan busuk itu berhasil menepis segala ragu yang membuncah di dada sang gadis.
Wajah gadis itu berubah terang benderang mengalahkan cahaya lampu beranda yang tak lagi layak pakai. Ia menghambur memeluk cinta pertamanya itu dan dibalas dengan begitu hangat oleh sang lelaki. Mereka saling mencintai. Begitu banyak cinta yang mengelilingi mereka sehingga menumbuhkan keberanian yang justru membawa mereka menghantam batas wajar.
Keduanya pun bergegas menghampir meja lobi yang dikawal oleh seorang pria tambun bersinglet tanpa lengan dengan tusuk gigi di antara barisan gigi. Ia menyambut dengan senyum dan kilau gigi kelinci yang dilapisi emas miliknya langsung menusuk mata sepasang kekasih calon tamunya tersebut.
"Di malam bulan purnama aku kedatangan tamu sepasang cinta monyet yang aku yakin sedang mencoba sesuatu yang sedikit nakal." Pria itu mengedipkan mata kiri pada si gadis kala menyebutkan kata 'nakal'.
Si gadis segera menunduk ketakutan dan juga malu lantaran niat berbuat dosa mereka diketahui oleh orang lain. Lantas si lelaki menarik mundur kekasihnya dan menghadapkan dirinya dengan pria tambun itu dipisahkan oleh meja penerima tamu.
"Oke, oke. Prinsipku adalah tidak membuat masalah dengan tamu, siapapun mereka. Aku tidak butuh identitas kalian, aku hanya butuh uang kalian." Ia menadahkan tangan di ujung kalimat. Tusuk giginya naik turun karena barisan giginya bergeser.
Si lelaki memberikan uang kertas berjumlah genap, cukup untuk menyewa sebuah kamar nyaman hingga pagi nanti dijelang. Sang gadis tetap berlindung di balik tubuhnya.
"Kuncimu, Nak." Pria tambun memberikan kunci kekuningan mungil pada si lelaki setelahnya.
Tanpa mengucapkan terima kasih, si lelaki pergi menjauhi lobi seraya tetap menggenggam tangan sang gadis. Mereka menghampiri tangga, bergabung dengan tamu lain yang juga hendak masuk ke kamar masing-masing.
"Aku baru akan menawarkan kondom dengan harga anak sekolah," gumam si pria tambun sendirian.
*
KAMU SEDANG MEMBACA
Menghapus Temu
Fiksi RemajaCathy membutuhkan bantuan seseorang untuk membangunkan ibu angkatnya dari koma. Namanya Zahra Dianita. Akan tetapi, Cathy tak tahu harus mencari Dian kemana. Lalu Darma dan Indra hadir menawarkan bantuan. Dua lelaki berbeda usia yang sama-sama menci...
