1 | Hukuman

127 6 2
                                        

"Apa yang kamu perbuat, sudah menyalahi aturan langit, Aileen." Sebuah suara menggema yang entah darimana asalnya membuat si pemilik nama yang disebut tak berkutik.

Aileen, gadis atau lebih tepatnya malaikat termuda di tempat antah berantah bagai langit itu hanya menunduk ke bawah. Sesekali ia melirik kepada dua orang di samping kirinya. Seorang wanita bergaun putih dan seorang laki-laki berjas dengan warna senada. Tentunya dengan sayap putih di belakangnya.

"Aileen, apa kamu ingin melakukan pembelaan?" Suara lembut tak bertuan itu kembali terdengar. Gadis itu sedang menerima sidang pertamanya diumur yang sangat teramat dini. Ia jelas belum siap.

"Ssttt...sstt..," Aileen memberikan kode kepada dua orang di sampingnya agar mereka membantu Aileen. Matanya menyipit dengan bibir dimajukan. Namun, sayang sekali, dua orang disampingnya hanya menggeleng pelan-- menandakan bahwa mereka sama sekali tidak bisa membantu gadis itu.

"Huh," Gadis itu meniup helaian rambut di dahinya. Ia menarik nafas dalam dan mulai angkat bicara.  "Saya mengaku salah. Saya minta maaf, tapi,"

Aileen kembali menerima gelengan pelan dari dua orang di sampingnya. Gerakan mata mereka seolah menyuruhnya untuk diam. Namun gadis itu masa bodoh. Ia tetap mengemukakan isi kepalanya.

"Tapi, saya tidak sepenuhnya salah. Saya hanya membantu orang itu agar tidak salah dalam menemukan pasangan. Calon pasangannya yang sekarang itu sering selingkuh,"

"Itu melanggar takdir yang sudah digariskan."

Aileen kembali menjawab. "Justru itu, kenapa anda malah membuat manusia menjalani takdir yang buruk? Kalau saya bisa membantu dia menerima takdir yang baik, bukankah saya harusnya mendapat penghargaan?"

Dua orang di samping Aileen mulai mendekat dan terang-terangan menyuruh gadis itu untuk diam. Namun, sekali lagi, bukan Aileen namanya jika ia mau menurut.

Aileen, ia malaikat muda yang bertugas untuk mengawasi manusia-manusia yang berbuat dosa, dan melaporkannya ke atasan--yaitu dua orang di sebelahnya. Hanya mengawasi dan melaporkan. Tidak untuk ikut campur.

Entah bagaimana, dengan segala inisiatifnya gadis itu beberapa kali menjelma menjadi manusia dan menunjukkan kepada salah satu manusia yang akan menikah bahwa calon pasangannya itu telah berselingkuh.

Jelas saja itu melanggar aturan.

Pertama, ia salah telah menjelma menjadi manusia. Kedua, ia salah karena ikut campur dalam urusan manusia. Ketiga ia salah karena  malah membuat takdir manusia itu berantakan hingga malaikat senior pun harus turun tangan untuk membereskannya. Dan terakhir, gadis itu sudah tahu salah, namun masih merasa bahwa dirinya benar.

"Aileen, apa kamu pikir jika wanita itu menikah maka hidupnya tidak bahagia?"

"Jelas, wanita mana sih yang bakal bahagia kalau nikah sama tukang selingkuh," Aileen mulai berbicara non-formal karena terlalu lama bergaul dengan orang Bumi.

Dua orang di sebelahnya serempak menyenggol sayap kecil gadis itu agar ia tidak melewati batas dalam berbicara.

"Lalu, karena asumsimu itu, kamu mencampuri urusan Bumi?" Kini suara itu tidak terdengar lembut.

"Bukan gitu. Saya hanya mau membantu wanita itu mendapatkan cinta sejatinya. Cuma bantu sedikit," ujar Aileen dengan suara yang hampir tak terdengar. Nyalinya mulai menciut.

"Mungkin, jika mereka menikah mereka akan terlibat pertengkaran hebat lalu bercerai. Masing-masing akan menjalani kehidupannya kembali. Si wanita akan menyesal namun ia telah memiliki pengalaman hidup yang berharga. Sedangkan si pria akan tetap berprilaku sama tanpa rasa bersalah, namun tidak akan pernah mendapat kebahagiaan. Atau mungkin pria itu baru menyadari apa artinya cinta setelah mereka berpisah lalu bertobat,"

"Kemungkinan lain, pria itu bisa saja berubah sebelum mereka menikah atau sesudah mereka menikah. Sifat manusia itu tak terbatas, mereka bisa melakukan hal baik dan buruk dengan jangka waktu yang singkat. Jadi kenapa asumsi 'cinta sejati' mu itu membuat kamu berhak mencampuri urusan manusia? Kamu sendiri tahu bahwa manusia lahir dengan segala dosa yang ia bawa di kehidupan sebelumnya. Tidak kah kamu berpikir sampai sejauh itu, nak?"

Aileen terdiam.

"Takdir yang sudah digariskan tidak bisa dirubah, apapun itu mereka harus terima dan jalani. Jika takdir mereka tiba-tiba berubah, bukankah akan merubah takdir orang yang terlibat dengan manusia-manusia tadi juga?"

Aileen masih terdiam.

"Sampai disini, kamu mengerti kesalahanmu Aileen?"

"Iya." Aileen mengangguk lemah. Ia bahkan tak berpikir sejauh itu.

"Baik, syukurlah karena kamu sudah mengerti. Namun, karena kecerobohanmu, kami sudah memutuskan hukuman yang tepat untuk kamu jalani di Bumi."

Mulut Aileen menganga lebar. Apa tadi ia tidak salah dengar? Dimana ia akan menjalani hukuman?

"Maaf, maksudnya gimana ya?" Tanpa sadar gadis itu kembali bicara non-formal.

"Turunlah ke Bumi, kamu akan menjadi manusia biasa yang punya identitas. Jalani kehidupan seperti biasa selama enam bulan."

Tubuh Aileen bergetar dan tiba-tiba saja saja kedua sayap di punggungnya menghilang. Begitu juga dengan tanda awan yang ada di dahinya.

"Tunggu, tunggu, kenapa 6 bulan? Nggak 49 hari?" Gadis itu memang terlalu banyak menonton drama Korea di Bumi.

"Saya minta maaf Dewa, Dewi, siapapun, ampun.." Gadis itu berlutut. Ia menitikkan air mata karena ia rasa hukuman itu terlalu lama. Bagaimana bisa ia menjadi manusia biasa tanpa kekuatannya yang sekarang. Ia tahu betul bagaimana kehidupan di Bumi. Ia sungguh-sungguh tak ingin berada di tempat itu terlalu lama.

"Keputusan sudah dibuat. Tidak bisa diganggu gugat." Suara lembut itu perlahan menghilang.

"Tunggu, tunggu! Setelah enam bulan, saya akan kembali kesini, kan?"

"Hmm, saya punya satu misi untuk kamu jalankan selama di Bumi."

Apa lagi ini?

Bathin gadis itu yang jelas saja bisa didengar oleh si suara tak bertuan.

"Temukan cinta sejatimu dalam enam bulan, atau.."

"Atau?"

"Atau jika kamu gagal, maka kamu akan menghilang."

🌧️🌧️🌧️

Halo, kembali dengan genre fantasy-romance hehe.
Semoga suka ya🥰

Ai's SecretDonde viven las historias. Descúbrelo ahora