Pada kegelapan juga keheningan suasana malam. Bagai panah, angin berhembus membawa dedaunan untuk ikut terbang bersamanya.
Dibawah binar rembulan juga dalam pelukan suasana malam. Dengan ribuan imajinasi di kepalanya, sesosok pria tampak tengah santai di balkon rumah sambil menorehkan sebuah pena dengan lihai pada tumpukan kertas untuk membentuk sebuah sketsa.
Garis demi garis, lengkungan demi lengkungan, semua tampak indah menjadi satu pada kertas yang kemudian ditempel pada dinding kamarnya.
Dia adalah Aksa Delano. Remaja laki-laki dengan segala sifat cueknya dan rasa cinta tanah air dengan berbicara bahasa Indonesia secara baik dan benar.
Remaja itu meraih gitar yang selalu menemaninya. Senar demi senar dipetik menjadi sebuah alunan musik yang indah.
Terlihat dari caranya menutup mata, sambil merasakan angin yang menyapa surau dan kulitnya, Aksa tampak begitu menikmati musik indah yang jarinya ciptakan.
Malam ini adalah malam terakhir dimana Ia bisa menikmati sedikit kebebasan sebelum semua akan direnggut keesokan harinya. Sama seperti remaja laki-laki lainnya, Aksa ingin memiliki kebebasan. Ingin ikut berkumpul sepuasnya dengan teman, melakukan berbagai hal yang ingin dilakukan, dan bebas untuk menentukan pilihan.
Semua berawal dari pertemuan seorang kepala sekolah dengan salah satu siswa serta wali muridnya.
Suasana tegang terasa menyelimuti ketiga orang di ruangan itu setelah kepala sekolah menyelesaikan pembicaraannya.
Dengan perasaan malu atas apa yang disampaikan kepala sekolah, pria paruh baya itu akhirnya angkat bicara,
"Baik, saya mengerti dan untuk kesekian kalinya saya meminta maaf atas segala tindakan kurang menyenangkan yang anak saya lakukan"
"Kami harap, bapak bisa lebih membimbing putra bapak ini menjadi lebih baik agar kejadian yang sudah terjadi kesekian kalinya ini tidak terulang"
"Maaf memotong, tapi apa yang ibu bicarakan itu tidak benar. Saya tidak tahu apa-apa. Ini fitnah, saya tidak terima. Saya bisa membawa kasus ini ke pengadilan" bela siswa itu merasa tidak terima jika dirinya dituduh. Apa katanya? Kesekian kalinya? Melakukan hal seperti itu saja tidak pernah.
"Aksa, diam!" sang ayah memperingati.
"Memang sulit untuk saya percaya bila kamu melakukan itu, Aksa. Tapi mau bagaimana lagi? Saya sudah membicarakan ini dengan seluruh guru dan kesepakatannya seperti ini. Beberapa teman kelas mu bersaksi bahwa kamu memang melakukannya. Saya tidak akan secepat itu mengambil keputusan, Aksa. Saya sudah mendapati laporan seperti ini beberapa kali."
"Tapi bu,-"
"Maaf Aksa. Tapi ini sudah keterlaluan. Bahkan korban masuk rumah sakit karena lukanya yang serius. Dengan terpaksa, demi kebaikan bersama, sesuai keinginan korban jika kamu tidak ingin dituntut yang tentunya dapat mempengaruhi citra sekolah ini, maka mulai besok dan seterusnya kamu tidak bisa kembali ke sekolah ini" katanya jelas merasa sulit melepaskannya.
Sepulang sekolah Aksa berakhir dengan dirinya yang harus pindah ke sekolah pilihan ayahnya, transportasi yang harus disita dan harus diantar jemput supir, dan mengurangi aktivitas diluar yang katanya tidak berguna sebagai bentuk hukuman. Sedangkan ayahnya belum membahas apapun tentang yang terjadi tadi.
Hari semakin malam dan udara semakin dingin, tapi Aksa masih bergeming disana sambil menatap langit dengan hamparan bintang.
"Sa.." suara berat itu memanggil Aksa dari belakang. Tanpa melihatnya Aksa tau itu ayahnya. Mirza Adhitama seorang pebisnis sukses yang cukup terkenal di bidangnya.
Mirza pun ikut berdiri disebelah anaknya dan ikut memandang langit. "Kenapa kamu melakukan itu, nak? Kamu bikin Papa kecewa."
"Papa percaya?"
"Ada bukti. Jadi, apa yang gak harus Papa percayai?"
"Apa Papa tidak ingin menyelidiki lebih lanjut dan mengusut kebenarannya?" balas Aksa tanpa mengubah nada bicaranya yang rendah dan tanpa mengalihkan pandangannya.
"Apa yang harus diselidiki lagi, Aksa? Semua udah jelas guru kamu itu mengaku kamu penyebabnya dia terbaring tak berdaya di rumah sakit dan saksi juga bilang kamu pelakunya"
"Bisa saja mereka memanipulasinya. Aku tidak melakukan kriminalitas. Kenapa Papa semudah itu percaya kepada mereka?"
"Sudahlah Aksa, papah gak mau kamu bahas soal ini lagi. Ini cukup bikin nama keluarga kita malu. Papa mau, besok kamu ketemu guru itu dan minta maaf. Jangan buat ulah di sekolah baru kamu" kata Mirza sebagai penutup yang kemudian berlalu meninggalkan Aksa yang masih bergeming menatap indahnya langit malam ini.
"Persetan nama keluarga"
"Aku janji, aku akan mengusut kebenarannya agar Papa tidak kecewa padaku,"
"Aku akan menepati janji pada Mama untuk tidak membuat Papah kecewa.
"Aku janji, Ma"
🌵🌵🌵
-August 24, 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
AKSARA
Fiksi Remaja#1 in aksara 13/10/2020 "Rasanya kemarin baik-baik aja, kenapa sekarang jadi begini?" -Ara. "Jangan memberi harapan sementara hatimu belum yakin" -Aksa. -------------------- Kisah tentang seorang remaja bernama Aksa Delano dengan berbagai permasala...
