Hatiku sedih, hatiku gundah...
Tak ingin pergi berpisah...
"Jesslyn...!"
"Iya, papa. Kenapa?"
Jesslyn berlari. Papanya yang galak itu memanggilnya. Ia tak boleh berlama-lama kalau lelaki itu telah memanggilnya. Karena, telat sedikit saja dapat membuatnya dimarahi dan diceramahi.
"Kamu sudah siapkan barang-barang kamu?" tanya papanya sambil menutup koper besarnya.
"Mmm, belum. Bukan juga belum sama sekali sih. Ada yang sudah ada yang belum. Memangnya kenapa?" jawab Jesslyn santai.
"Kamu itu! Ingat! Kita akan berangkat 2 hari lagi! Kamu masih santai-santai saja. Kamu keturunan malas dari mana sih? Papa dan mama jelas-jelas bukan pemalas! Cepat atur barang-barangmu. Ingat jangan sampai ada yang kelupaan! Papa tidak mau kembali lagi ke Semarang kalau sampai ada yang ketinggalan!" begitulah ceramah papanya setiap kali Jesslyn mengatakan bahwa ia belum menyiapkan barang-barangnya.
Jesslyn mendesah. Lagi-lagi ia diceramahi seperti itu. Dengan kata-kata yang hampir sama. Ia membalikkan badannya dan berjalan ke kamarnya dengan langkah yang lesu.
"Sekali lagi papa tanya dan kamu belum membereskan kamarmu...," Jesslyn berhenti berjalan mendengar suara papanya itu lagi. "Papa sita iPhone-mu".
Jujur, dalan hati Jesslyn, ia sangat ingin tinggal jauh dari papanya yang tiap dua jam pasti menceramahinya. Tapi... Dia tak mau berpisah dengan mamanya. Mama adalah segalanya baginya. Masalahnya, di mana ada mamanya, di situ pula ada papanya (kecuali untuk kondisi tertentu). Bagaimana caranya --'
Dengan lesu dia membereskan barang-barangnya. Memasukkan pakaian, buku-buku, dan keperluannya yang lain. Kalau bukan karena papanya, dia tak akan serajin ini.
Perlu untuk diketahui, lusa, Jesslyn dan keluarganya akan pindah ke Surabaya. Oleh karena itulah, papa Jesslyn sangan sibuk (sok sibuk, kalau di kamus Jesslyn) mengatur kepindahan mereka.
Jesslyn pun dengan sangat terpaksa pindah meninggalkan sekolahnya tercinta hanya karena papanya pindah tugas. Kenapa sih gak papanya aja yang pindah? Dia dan mamanya yang tinggal? Hidupnya kan jadi sejahtera.
Entah mengapa (Jesslyn juga gak tahu), kalau papanya ada dia kayak nggak betah, dia pengen papanya gak ada. Tapi kalau MISALNYA papanya meninggal, dia juga pasti sedih dan menangis. Anak macam apa ini?!
"Huff... Akhirnya selesai. Papa pasti sudah puas dengan hasil karyaku ini," keluh Jesslyn setelah menyelesaikan pekerjaannya itu selama 3 jam.
Ia langsung membuang dirinya di tempat tidur kesayangannya. Capek sekali mengatur semua barang-barangnya dalam waktu 3 jam. Kalau papanya dengar, pasti yang papanya bilang itu.. "Kamu itu... baru ngatur barang selama 3 jam saja sudah capek. Bayangkan itu tukang becak yang tiap hari di bawah matahari dan mengayuh becak...," dan bla bla bla... Papanya itu pasti akan membandingkannya dengan orang yang lebih rajin darinya. Itu satu hal yang tidak ia sukai dari papanya. Suka membanding-bandingkan dan gak pernah puas dengan hasil yang telah ia raih. Gak ada puasnya tuh orang, yahh?? Sudah bagus Jesslyn pernah dapat ranking 10, malah diminta 5. Waktu udah ranking 5, diminta 3. Apa maunya??
****
Hari itu telah tiba. Jesslyn dan keluarganya akan berangkat ke Surabaya.
"Jesslyn, tidak ada barangmu yang ketinggalan kan?" Tanya mamanya dengan lembut. Hal inilah yang membuat Jesslyn lebih menyukai mamanya dibanding papanya, karena mamanya penuh dengan kelemahlembutan dan pengertian, sedangkan papanya penuh dengan kekerasan, kejutekan, dan sok. Kalau maunya gak diikuti, dia pasti protes. Mentang-mentang kepala keluarga, kalimat itu yang sering menyeruak di batin Jesslyn.
YOU ARE READING
DIARY... [COMPLETED]
Teen Fiction"Jes, dengar aku. Aku janji, aku bakal usaha lakuin apapun buat pertahankan hubungan kita, meskipun harus berdampak ke aku sendiri. Aku juga gak bakal sia-siain kepercayaan hatimu buat aku. Aku mau jagain kamu selalu," Jesslyn, seorang siswi baru be...
![DIARY... [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/218596425-64-k807097.jpg)