Dia menatap wajahnya pada cermin. Meneliti setiap detail yang memperlihatkan pantulan dirinya yang bagi sebagian besar orang, sama sekali tidak ada alasan untuk bisa menarik perhatian seseorang.
Miris. Tapi, dia baik-baik saja. Begitu katanya.
Memejamkan mata dengan erat, mencoba melepas penat sekadar untuk rehat. Dia kembali menghirup udara yang kian lama kian terasa sesak, lantas menetralkan detak yang mulai berpacu lebih cepat. Dia akan melakukan apa pun untuk ditatap, sampai akhirnya sadar bahwa semua sia-sia jika keyakinan itu tidak pernah ada.
Apa yang salah dari darinya? Hanya karena berbeda, lalu dengan mudah dihina keberadaannya? Atau karena bicaranya yang terbatas, orang-orang bebas menertawakannya dengan lepas?
Dia ingin bahagia, namun mungkin arti bahagia itu disuratkan bahwa tidak lebih dari puing-puing debu yang mengotori.
Tapi, dia tetap yakin bahagia itu selalu ada.
Perlahan, dia mengembuskan napasnya.
Walau bagaimana pun, dia dan seseorang di dalam cermin adalah orang yang sama. Dia ya dia, tidak pernah bisa menjadi orang lain sekuat tenaga berusaha.
Sekali lagi.
Meski dengan harapan yang mengusut, dia bersimpuh untuk terus berusaha menghirup dan mengembuskan napas, sekalipun mungkin kian terasa berat hari ke hari.
***
"Sebenarnya kamu tuh cantik, tapi kurang putih aja. Coba bisa lebih terang kulitmu, pasti banyak cowok yang suka."
"Benarkah?"
"Iya, dan tidak boleh lebih gemuk dari ini. Lebih bagus lagi kalo bisa kurus. Itu kunci cantik perempuan."
•••
Hidup sejatinya penuh warna, berisi banyak makna. Ketika dihadapkan pada satu keadaan yang tidak pernah diinginkan, kadang kala hidup mengharuskan seseorang untuk menentukan pilihan.
Entah pilihan untuk mengabaikan? Atau baiknya memilih untuk terus mendengarkan? Dari tiap pilihan itu, akan tersemat derita yang hakikatnya adalah resiko dari hidup yang dijalani. Meskipun tidak suka, pada akhirnya setiap pilihan memiliki siksanya masing-masing, siap atau tidak.
Dari pilihan-pilihan tersebut, kita dituntut untuk menjadi perspektif terhadap segala hal. Pilihan apa pun yang ditetapkan, tidak akan ada arti jika tanpa konsekuensi.
Tidak ada kesempurnaan pilihan. Tidak ada kegagalan pilihan. Karena kita lah yang memutuskan, apakah sebaiknya pilihan yang diambil dapat menghasilkan kebaikan atau sebaliknya.
Hidup seperti halnya suara hati. Dimana akan selalu terisi dan terus menyala. Tapi, ketika hati tersebut kosong, maka di dalamnya seperti ruang hampa. Kedap dan pengap. Tidak ada yang betah di dalam ruang yang tak punya kehidupan. Begitulah katanya.
Hidup dan perjalanan waktu.
Apa yang dikehendaki, itulah yang dilalui. Apa yang diputuskan, itulah yang ditampakkan. Sekali pun kita pernah jatuh, dua kali kita terluka, berkali-kali kita patah. Tapi hidup, terkadang memang serumit demikian.
Dan ingat, hidup pasti berakhir. Jadi, bertahanlah walau gerah.
-GLYTM-
By nadi birtam.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Gulungan Luka yang Terus Mengusik
Ficção AdolescentePeristiwa lampau yang dialami Kaina Arrasyia tidak pernah benar-benar membawanya pada titik damai bahkan sampai hari ini. Cemas yang diperoleh berasal dari kejadian buruk masa lalu telah membentuknya menjadi gadis yang betah menutup diri. Ia mungkin...
