Hari Senin. Hufftt! Hari yang penuh kedisiplinan, mengingat upacara bendera dilaksanakan di hari itu. Hari menyebalkan juga. Disaat sebelumnya sedang bersantai dari segala kesibukan di hari Minggu, tiba-tiba terenggut begitu saja ketika hari Senin tiba.
Dan hari ini juga seluruh siswa serta guru di 'SMA RESPATI' melaksanakan upacara bendera. Lapangan tampak ramai meskipun belum sepenuhnya. Hingga terdengar panggilan dari kepala sekolah yang ditujukan pada seluruh siswa.
"Perhatian! Bagi seluruh siswa dan siswi baik kelas sepuluh, sebelas dan dua belas yang masih berada di luar lapangan untuk segera menuju lapangan. Karena upacara akan segera dimulai!" Namun, setelah ditunggu selama lima menit, ternyata para siswa masih ada yang belum memasuki lapangan. Sehingga panggilan kembali terdengar untuk kedua kalinya.
"Sekali lagi! Saya hitung mundur dari angka lima! Kalau masih tidak mau menurut hukuman menanti kalian! Lima! Empat! Tiga! Tiga setengah! Dua! Satu!" Setelah hitungan terakhir diucapkan suasana menjadi khidmat karena upacara dimulai.
Sedangkan dari barisan siswa kelas dua belas, Sita tampak mengamati barisan siswa yang akan mendapat hukuman karena tidak mentaati peraturan di depan sana. Netranya terus menatap ke satu titik hingga menemukan sesuatu yang dicari dan berdecak.'Ck! Dasar.'
Iya, netranya menangkap pemandangan yang sudah biasa terjadi di hari Senin. Apalagi kalau bukan Praha, Prahasta Wibisana-sahabatnya- yang kembali berulah.
"Aish! Si Brandal disana lagi. Nggak ada kapok emang tuh bocah. Sampe bibir gue memrengen juga susah dikasih tau yang bener." Ujar cewek mungil dengan wajah orientalnya di samping Sita. Dia, sahabat Sita yang bernama Ann. Keturunan China, nama lengkapnya Aning Teresha.
"Namanya juga berandal." Sita menjawab singkat, karena Sita memang tidak banyak bicara dan sekalinya bicara langsung nyelekit.
"Sukurin, biar tau rasa." Kali ini Mada, sahabat Sita lainnya yang menimbrung dengan wajah berseri dan senyum menawan yang bikin cewek klepek-klepek. Namanya juga Gemada Bimasena (Prince Charming kebanggaan SMA Respati) senyum menjadi poin plus nya tentu saja.
"Udah diem lagi upacara juga." Desis Sita mengingatkan mereka berdua.
Selanjutnya mereka kembali mengikuti upacara dengan khidmat hingga selesai.
***
Seusai upacara bendera, mereka bertiga-minus Praha tentu saja- pergi ke kantin. Sekolah mereka memang memberikan aturan empat puluh lima menit waktu istirahat untuk seluruh siswanya di hari Senin. Sedangkan para guru melaksanakan rapat. Jadi ya, mereka memilih pergi ke kantin nyantai sekaligus mengisi perut. Daripada di kelas merasa gabut.
Namun, disaat Sita, Mada dan Aning sedang bersantai di kantin Praha malah panas-panasan di lapangan.
Karena cowok itu harus menjalankan hukuman. Entah dihukum apalagi. Rasanya dihukum dengan apapun juga tidak pernah kapok. Tidak mempan.
"Hadeh panas banget sih! Jadi pingin es teh dah." Ujar Aning sambil menggerakkan tangannya. Mengipasi wajahnya.
"Halah lebay lo! Biasanya juga panas kayak gini juga. Kenapa baru sekarang ngeluhnya boncel! Tolol dah." Mada yang duduk di depan Sita dan Aning menyahuti dengan santainya, sambil menampakkan senyum manis yang buat para cewek gagal fokus.
"Diem lo tiang! Gue libas juga you're mouth pake kipas nya Baba!" Aning membalas dengan seolah menghunus laser lewat tatapan mata 'agak sipitnya' itu.
Tak sabar dengan keributan kedua sahabatnya, membuat Sita angkat bicara. Sungguh menyebalkan mereka itu.
"Bisa diem nggak? Kalau mau pesen makan yaudah pesen. Nggak usah pake ribut bisa 'kan." Mendengar ucapan Sita mereka pun langsung terdiam dan Sita melanjutkan lagi perkataannya. "Lagian ngapain sih pake ribut segala?! Berisik tau nggak." Ucap Sita.
YOU ARE READING
~SOMETHING RIGHT~
General FictionKata orang hidup itu pilihan. Tapi bagaimana jika pilihan itu tidak pernah datang pada kita? Apakah kita tidak berhak hidup? Menjalani hidup yang rumit sebagai takdir pun begitu sulit. Pilihan tidak datang dengan semestinya. Jalan apa yang akan memb...
